Sekuel dari Cinderella's Sister
...
"Setelah semua yang terjadi, aku hanya kembali pada luka."
-----
Anna kembali pada usia 14, memutuskan membangun ulang kehidupannya yang hilang. Seharusnya itu mudah. Apalagi ditambah dengan bantuan teman dan kelu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cindy Lella Hendranata
▪️▫️▪️
"Mereka hanya berpikir bahwa perjuangan mereka adalah yang paling besar daripada yang lain."
-----
Cindy masih anak-anak saat dia kehilangan ibunya akibat sakit yang dia derita selama bertahun-tahun. Gadis itu sebelumnya tidak mengerti mengapa wajah ibunya sering pucat dan kenapa dia muntah-muntah. Yang ayahnya bilang, ibunya hanya sedang melawan penyihir jahat. Dan seperti anak kecil lainnya, dia percaya begitu saja.
Ibunya adalah seorang pelukis. Bukan benar-benar profesional yang memajang lukisannya di galeri, tapi dia suka melukis. Kadangkala, Cindy akan duduk di pangkuannya dengan tangan memegang kuas yang diajari bagaimana memoleskan warna pada kanvas polos. Sembari melukis, ibunya akan menggumamkan senandung lembut yang menenangkan.
"Ma, kenapa Mama gak punya rambut kayak Cindy?"
Hari itu, Cindy sedang menggambar di kertas menggunakan pensil. Sudah ada tiga tubuh tercetak di sana, dengan tiga kepala dan tubuh yang berbengkok-bengkok. Dia sudah menggambar rambut ayahnya, juga sudah menggambar untuknya yang berwarna kuning cerah seperti matahari, tapi dia bingung bagaimana dengan ibunya.
Wanita yang tampak semakin pucat itu mencoba tersenyum. Dia mengelus pucuk sang putri dan menjawab, "rambut Mama hilang saat bertarung."
"Dengan penyihir?"
"Iya. Ini adalah tanda perjuangan Mama, Cin."
"Aku enggak suka penyihir. Dia mengganggu Mama," Cindy kecil cemberut, "Mama harus janji bakal ngalahin penyihirnya. Mama harus menang."
Ibunya hanya tersenyum.
Setelah itu, Cindy baru mengerti mengapa ibunya tidak mau berjanji. Sebab wanita itu tidak ingin memberi harapan palsu akan sesuatu yang tidak bisa dia lakukan. Ibunya meninggal ketika dia masih enam tahun dan sejak saat itu hanya ada dia dan sang ayah.
Bram merupakan orang yang sibuk. Dia sering pulang malam, bahkan meninggalkan Cindy di rumah dijaga babysitter. Namun, Bram selalu mencoba menjadi sosok ayah yang baik. Setiap ada kesempatan, waktunya hanya dia berikan pada putrinya.
"Em, es krim strawberry lebih enak, Pa."
"No, no. Lebih enak yang rasa vanila."
Ketika Cindy berusia sebelas tahun, mereka sedang menikmati sore di taman sembari memakan es krim. Tidak melakukan banyak hal, hanya menonton orang-orang yang berlalu lalang atau anak-anak yang bermain perosotan.
"Ya, mas gak boleh gitu, dong!"
Atensi mereka berdua teralihkan saat suara seorang wanita dengan keras masuk telinga. Wanita itu duduk di kursi tak jauh dari mereka, berekspresi marah pada seseorang di seberang telepon.