24. Arti Cinta

29.3K 2.6K 115
                                        

Kehilangan baru bisa dirasa jika benar-benar menghadapinya.

-Aksara Archernar-

***

Warma kini ramai tak hanya oleh tuan rumah. Namun juga oleh geng sekutu, Calvorst dan Erlangga. Quarlesi menjadi tuan rumah pada acara reuni tahun ini setelah sebelumnya Calvorst yang jadi tuan rumah.

Acara belum selesai dari jam tujuh malam sampai jam sebelas malam sekarang. Suasana masih saja ramai, sama seperti awal-awal. Justru bertambah riuh. Sebagian anggota ada yang di dalam. Ada yang sedang makan-makan, ngobrol-ngobrol, joget-joget, dan lainnya. Sebagaian lagi ada di posko luar. Ada yang bermain catur, bernyanyi bersama diiringi gitar, berguyon, dan sebagainya.

"Ras, please deh ini acara reunian. Bukan acara dangdutan. Musik dangdut lo matiin napa. Berisik banget," teriak Ray. Kalau tidak teriak, suaranya pasti tenggelam oleh musik dangdut Horas.

"Apa, Ray?" teriak Horas.

"Musik dangdut lo matiin," ucap Ray lebih keras.

"Hah?"

"Bener-bener lo ye. Korek kuping lo, budek! Gua bilang matiin dangdutan lo," ucap Ray.

Horas terkekeh. "Nih dangdutan asik banget. Sayang kalau dimatiin. Ntar gak rame lagi." Memang faktor utama pemicu keramaian saat ini adalah dangdutan yang distel Horas. Volumenya sangat besar hingga bicara biasa tidak terdengar. Untungnya Warma ada di ujung jalan dan tidak mepet dari rumah warga. Kalau tidak bisa-bisa mereka dikomplen warga dan diusir oleh Pak RT.

"Mana si Kevin? Nggak liat dari tadi," tanya Arkan, wakil ketua geng Calvorst.

"Lo kayak kagak tau si Kevin aja. Mana mau dia ada di dalem berisik banget. Palingan juga lagi main catur di luar," ucap Vian dengan piring sterofom berisi mie goreng di tangannya.

"Eh buset lo, Do. Tadi perasaan lo barusan makan sebakul nasi. Sekarang lo nambah mie lagi?" tanya Varo, ketua geng Erlangga. Ia melotot melihat makanan yang dibawa anak buahnya. "Malu-maluin gue aja lo."

"Yeh si bos. Namanya juga acara reunian. Setahun sekali. Puas-puasinlah makannya. Mumpung gratis juga," ujar Dodo.

Varo tertawa. "Tahun depan giliran kita. Awas aja lo makan banyak-banyak."

"Gimana Quarlesi? Masih suka diajak ribut sama Zevalko?" tanya Hades, ketua Calvorst.

"Belakangan ini sih lagi enggak. Tapi gue yakin mereka bakal cari ribut lagi," kata Doel.

"Sikat aja. Gue denger pertahanan mereka tahun ini lemah. Lo pada abisin aja sekalian," kata Fadil, bendahara Calvorst.

"Jangan gegabah. Siapa tau ini rencana mereka buat ngecoh kita. Pura-pura lemah biar kita nyepelein dan nyerang mereka. Taunya nanti kita yang kalah," kata Figo.

"Mana bisa kalah. Bos lo kan jagoan." Dodo menunjuk Aksara dengan dagunya.

Sejak tadi Aksara tampak tidak memperhatikan perbincangan. Ia duduk menyender di sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya kosong. Raganya ada di sini namun pikirannya ada di tempat lain.

"Sa, diem aja daritadi. Sakit gigi?" tanya Varo. Tidak ada jawaban dari Aksara. Varo yakin Aksara tidak sadar dirinya dipanggil.

AKSARA (PRE-ORDER)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang