Tidak dapat memilih dan dipilih.
Datang tanpa mengetuk.
Terkadang datang dengan memaksa.
Mengharuskan kita menerimanya.
Kalian tahu itu apa?
Cinta.
***
"Aduhh mamaeee, muka gue sakit banget." Figo meringis sambil mengusap lebam di wajahnya. Dari keenam temannya, Figo yang paling parah. Bentrokan dengan Jason kemaren lumayan besar. Seluruh anggota Quarlesi turun langsung. Tapi seperti biasa. Quarlesi tetap menang.
"Lagian lo, Go. Udah tau anak Zevalko ada yang bawa balok. Harusnya lo waspada sebelum nyerang," kata Horas.
Aksara, Ray, Kevin, Vian, Figo, Doel, dan Horas ada di depan kelasnya. Duduk di dua bangku panjang yang bersebrangan. Mereka sedang menunggu guru masuk untuk jam pelajaran berikutnya.
"Abis ini pelajaran apa?" tanya Ray.
"Astro," jawab Vian.
"Aduh astro. Males banget dah gue. Bolos yok," ajak Doel.
"Sikap udah c juga. Masih aja bolos," kata Kevin.
"Sikap hanya sebuah abjad. Di nama gue juga ada abjad a. Ray Pradika. Tiga lagi a-nya. Keren kan?"
"Biasa aja. A gue juga tiga. Vian Atmaja."
"A gue ada empat. Horas Nababan. Mau apa lo?" Horas bersuara bangga.
"A gue lima." Kali ini Aksara yang bersuara. Aksara Archernar. Tidak ada yang bisa menandingi karena memang jumlah abjad a Aksara paling banyak di antara mereka.
"Apa kabar a gue yang cuma ada satu." Figo Novanto. A-nya hanya satu.
"Tapi nama lo ada c nya, Sa," kata Horas.
"Gapapa c masih bagus. Daripada d." Aksara melirik Doel.
"Napa jadi liatin gue? Noh si patung juga ada d-nya," kata Doel. Tau kan siapa yang dimaksud patung?
Kevin Dirgantara. Ada abjad d-nya juga. "Masih ada f."
Semua mengarah ke Figo. Sementara Figo tidak tahu lagi mau mengarah ke siapa. Sikap paling rendah di sekolahnya f. Udah a-nya cuma satu. Ada f pula. "Udah ah apaan dah gak jelas jadinya."
"Malah jadi bahas abjad." Horas terkekeh.
Mereka tertawa kencang. Memang kadang pembicaraan yang tidak jelas justru akan menjadi kenangan yang takkan terlupakan nantinya. Mungkin tidak untuk sekarang. Tapi untuk beberapa tahun mendatang.
"Aksara kenapa?"
Pertanyaan itu membuat ketujuh pria itu menoleh.
"Eh bu bos." Horas yang duduk di sebelah Aksara berdiri. "Sini bu bos, duduk." Horas mempersilahkan Bulan duduk di tempatnya.
Bulan duduk. Dia bergidik memperhatikan semua wajah pria di depannya itu lebam. Kemarin sepertinya tidak ada. Berarti mereka baru saja berantam.
"Aksara sama yang lain habis berantem?" tanya Bulan.
"Yoi, bu bos. Kita abis melawan penjajah. Berjuang mempertahankan wilayah kita dari serangan para penjajah." Doel mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA (PRE-ORDER)
Storie d'amore[PEMESANAN NOVEL BISA MELALUI SHOPEE ANDROBOOKS] Rembulan Aldera. Bernasib sial karena harus berurusan dengan ketua geng sekolahnya, Aksara Archernar. Karena kesalahannya melempar Aksara dengan sepatu, membuatnya harus menanggung malu akibat perbuat...
