20. Hasil Remedial

31.5K 2.8K 311
                                        

Bukan salahku jika tidak bisa melepasmu dari jeruji hatiku. Salahkan dirimu yang nekad masuk ke dalam.

-Aksara Archernar-

***

Sesuai interuksi Aksara, saat istirahat kedua Bulan pergi ke belakang sekolah. Jujur saja sebenarnya Bulan agak takut setelah tadi Aksara meninggalkannya dengan wajah yang tidak bersahabat. Sepertinya pria itu marah padanya.

Bulan menemukan Aksara di tempat yang sama ketika ia mengobati Aksara. Bulan berjalan perlahan dan duduk di samping Aksara. "Aksara."

Aksara tidak menjawab. Posisinya tetap sama saat sebelum Bulan duduk. Aksara tidak menoleh sama sekali seperti tidak ada siapapun di sampingnya.

"Maaf, Aksara. Bulan lama gara-gara ke toilet dulu," kata Bulan. "Aksara mau ngapain suruh Bulan ke sini?"

Aksara tetap diam. Bulan jadi ikut diam. Bulan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung harus merespon bagaimana. Bulan melihat lebam Aksara yang dia rasa sedikit membaik. Warnanya sedikit memudar.

Tanpa disadari tangan Bulan bergerak menuju kening Aksara. Bulan mengusapnya perlahan.

Aksara memejam matanya. Sekali lagi. Sentuhan Bulan membuat Aksara sadar akan perasaannya. Impulsnya tidak menolak kehadiran Bulan. Sejak awal memang gadis ini sudah membawa dampak besar bagi Aksara. Hanya saja Aksara yang bersikeras menolak kehadirannya. Dan akhirnya ia kalah.

"Luka Aksara masih sakit?"

Aksara membuka matanya. Ia menggengam pergelangan tangan Bulan yang masih mengusap keningnya. Bulan berhenti bergerak lalu menatap Aksara.

"Aksara?"

"Kenapa lo peduli sama gue?"

Bulan mendadak bingung dengan Aksara. Pria ini sulit ditebak. Bulan tersenyum pada Aksara.

"Karena Bulan sayang Aksara."

Detik itu juga Bulan tertarik maju. Tiba-tiba sebuah tubuh besar mendekap dirinya erat. Sangat erat. Tubuh Bulan menegang sempurna. Ia terkejut. Tapi Bulan merasa ada kehangatan di dalam pelukan itu.

Aksara menenggelamkan wajahnya di pundak Bulan. Rasa nyaman ini sudah lama Aksara tidak rasakan. Setelah kehilangan semuanya, Aksara menemukan kembali alasannya untuk hidup selain teman-temannya.

Aksara mendekatkan wajahnya ke wajah Bulan. Bulan menahan napasnya. Jantungnya berdetak kencang. Bulan menunduk dan menahan bibirnya untuk tidak mengembang. Senyuman tipis Aksara seakan membawa Bulan melayang di udara.

Aksara semakin dekat, semakin mendekat hingga akhirnya mereka hanya berjarak beberapa senti. Aksara menyentuh pipi Bulan, menegadakan kepala Bulan. Sebelah tangannya masih tetap memeluk pinggang Bulan.

"Lo milik gue. Gak ada yang boleh rebut lo dari gue. Gue sayang lo, Lan."

***

Siang ini sedang panas-panasnya. Matahari sedang berada di masa jaya-jayanya. Di atas, di tengah-tengah langit. Padahal di setiap ruang kelas dipasang dua buah penyejuk ruangan. Tetapi panas dari matahari dapat mengalahkan kesejukan dari penyejuk ruangan itu. Sekarang ini bukan hanya tubuh Bulan yang panas, tapi otaknya juga.

Bulan menidurkan kepalanya beralaskan tangan. Kepala Bulan rasanya seperti mau pecah. Bulan menghela napas berkali-kali. Pikirannya penuh dengan pertanyaan kapan kelas matematika ini akan berakhir.

AKSARA (PRE-ORDER)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang