Malam takkan indah tanpa bulan.
Seperti aksara yang takkan sempurna tanpa tinta.
***
Tiga hari setelah sadar, Bulan tidak diperbolehkan masuk sekolah. Akhirnya pada hari keempat Bulan memaksa ingin masuk. Bulan jenuh. Terus-terusan berada di kamar, seperti dikurung dalam kandang. Tidak ada yang bisa diajak bicara. Orang tuanya bekerja, sementara kakaknya sedang sibuk-sibuknya sebagai maba alias mahasiswa baru. Sebenarnya kalau dihitung-hitung sudah satu bulan lebih Bintang kuliah. Harusnya bukan maba lagi. Tapi Bintang masih kukuh ingin disebut maba. Katanya sih biar keren.
Bulan melangkahkan kakinya di lorong sekolah. Sesekali ia tersenyum saat ada adik kelas yang menegurnya. Bisa dibilang Bulan tipikal gadis ramah, apalagi sama adik kelas. Di saat rata-rata adik kelas takut untuk menyapa kakak kelas, berbeda dengan Bulan. Malah terkadang Bulan menyapa mereka duluan.
"Gimana?"
"Aksara!" Bulan terlalu semangat hingga tak sadar suaranya melengking. Bulan menghampiri Aksara yang berdiri sedikit di depannya. Selama tiga hari setelah Bulan sadar, Aksara hanya pernah sekali menjenguknya. Bulan jadi merasa sudah lama tidak bertemu.
"Aksara apa kabar?" tanya Bulan.
"Harusnya yang nanya itu gue," kata Aksara.
"Maksud Aksara?"
Aksara tidak mau repot-repot menjawab pertanyaan Bulan. "Keadaan lo gimana?"
"Bulan udah nggak papa kok, Aksara," jawab Bulan. "Aksara khawatir ya?"
"Gue lagi serius." Wajah Aksara datar. "Lo beneran udah nggak papa?"
"Iya, Aksara. Bulan udah nggak papa kok," balas Bulan. Sedikit kecewa Aksara tidak menjawab pertanyaannya.
"Baguslah." Aksara lega mendengarnya. Aksara sangat khawatir dengan Bulan. Gadis itu memaksa ingin sekolah padahal belum diperbolehkan.
"Jangan capek-capek dulu. Lo masih butuh banyak istirahat," kata Aksara.
"Bulan udah nggak papa, Aksara. Aksara nggak usah khawatir," balas Bulan. "Eh tunggu dulu. Aksara kan nggak khawatir sama Bulan."
"Gue emang maunya nggak khawatir sama lo. Tapi sikap lo selalu bikin gue khawatir."
Bulan membulatkan matanya lebar. "Jadi Aksara khawatir sama Bulan?" tanyanya semangat.
"Jangan suka ceroboh. Hati-hati kalau mau ngapa-ngapain. Lo bisa celakain diri lo sendiri. Atau bahkan bisa celakain orang lain," ucap Aksara tanpa menjawab pertanyaan Bulan.
"Iya, Aksara. Bulan tau," jawab Bulan sebal. "Aksara kayak papanya Bulan. Papanya Bulan juga bilang gitu sama Bulan. Bulan bosen dengernya." Bulan menggembungkan pipinya. Tidak di rumah, tidak di sekolah, selalu nasihat itu yang ia dapat.
Aksara mendekat ke depan Bulan. Tatapan Aksara membuat Bulan terpaku. Sepasang iris mata berwarna coklat terang itu melihat hanya pada dirinya. Bulan terhipnotis dalam sekejap. Tatapan tajam itu lama tak Bulan rasakan lagi. Tubuh Bulan terasa kaku. Seperti ada sesuatu yang menahannya. Padahal Aksara tidak melakukan apapun.
Aksara mengusap puncak kepala Bulan. "Papa lo nasehatin lo tandanya dia sayang sama lo. Papa lo nggak mau lo kenapa-napa."
Sudut bibir Bulan terangkat. Sudah lama Aksara tidak mengusap kepalanya. Sangat-sangat lama bagi Bulan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA (PRE-ORDER)
Roman d'amour[PEMESANAN NOVEL BISA MELALUI SHOPEE ANDROBOOKS] Rembulan Aldera. Bernasib sial karena harus berurusan dengan ketua geng sekolahnya, Aksara Archernar. Karena kesalahannya melempar Aksara dengan sepatu, membuatnya harus menanggung malu akibat perbuat...
