48. Tersangka

21.4K 2.1K 416
                                        

Jangan karena orang lain, lo berubah. Menjadi diri sendiri lebih baik daripada menjadi apa yang orang lain inginkan.

-Aksara Archernar-

***

Manda menatap kesal laki-laki yang berdiri di depannya. Laki-laki itu tidak bisa diam dan terus melontarkan godaan untuknya. Kedua alis laki-laki itu dinaikturunkan, membuat Manda rasanya ingin meninju wajah laki-laki itu.

Manda berdecak. "Lo bisa yang bener gak sih?"

"Ini Doel udah bener. Emang Doel salah apa?" tanya Doel sembari melipat bibir bawahnya keluar. Doel menatap Manda dengan mata berbinar-binar. Doel mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha terliat imut di depan Manda. Lumayan kan kalau misalnya Manda terpesona lagi dengannya dan akhirnya mau menerima ajakan balikannya lagi. Jujur, Doel sangat terkejut ketika Manda tiba-tiba meminta ketemuan dengannya.

"Doel! Lo jadi mantan bergunaan dikit kek. Perasaan kagak ada gunanya lo jadi mantan," kesal Manda.

"Doel berguna kok. Tapi bukan sebagai mantan, sebagai pacar aja gimana? Manda mau gak balikan sama Doel?"

"Doel, gue serius," ujar Manda.

Doel melihat raut serius di wajah Manda. Sepertinya gadis itu sedang ingin berbicara hal penting dengannya. Doel berhenti menggoda gadis itu dan bertanya, "Kenapa, Man?"

Manda menyodorkan sebuah kertas pada Doel. Tentu saja Manda tidak akan menyerahkan surat yang ia temukan pada Aksara. Ia tidak punya nyali berbicara empat mata dengan laki-laki itu.

Doel menerimanya. "Apa nih? Surat cinta? AHAY! Gue dapat surat cinta!" ujar Doel dengan cengiran lebar. Tetapi setelah melihat isi dari surat itu, cengiran itu langsung hilang bagai ditelan bumi. "Dari siapa surat ini?"

Manda menggeleng. "Gue gak tau."

Kening Doel berkerut. Laki-laki itu mengeraskan rahangnya. Doel meremas kertas yang ada di tangannya. "Bangsat! Siapa yang berani ngasih beginian ke lo? Nyari mati, hah?"

"Itu bukan buat gue." Manda mengeluarkan tiga surat lainnya. Doel membaca semuanya. Ada satu surat yang tidak ia mengerti maksudnya. J-M JXQFIXE MBORPXH.

"Ini maksudnya apa?" tanya Doel.

"Gue nggak tau, Doel."

Doel menemukan nama Aksara di setiap isi surat. Sontak Doel langsung mengerti. "Kalau bukan buat lo, berarti buat Bulan?"

Manda mengangguk. "Gue nemu ini di tas Bulan."

"Dia gak cerita apa-apa sama lo?" tanya Doel.

"Enggak. Tapi gue merasa belakangan ini dia sedikit berubah. Dia jadi jarang mau keluar kelas. Dia juga jadi jarang banget buka HP. Gue curiga pesan-pesan aneh itu gak cuma surat ini, tapi ada juga di HP-nya."

"Doel, gue boleh minta tolong sama lo?" tanya Manda pelan.

"Apa?"

Manda menunduk. "Tolong temuin orang yang ngirim surat itu. Gue takut Bulan kenapa-kenapa. Gue kenal Bulan dengan jelas. Gue tau dia gak akan bisa ngapa-nagapain kalau dijahatin orang."

Doel tersenyum kecil. Laki-laki itu memanjangkan tangannya dan meraih kepala Manda. Doel mengacak-acak puncak kepala gadis itu. "Tenang aja, Man. Gue dan temen-temen gue pasti bisa nemuin orang itu. Gue gak akan biarin orang itu nyakitin pacar ketua gue."

Doel menyimpan surat-surat itu ke dalam saku celana abu-abunya. "Thanks, ya, Man. Gue cabut dulu." Doel melangkah pergi.

Manda menatap punggung Doel yang semakin menjauh. Gadis itu memegang puncak kepalanya yang habis dipegang Doel. Hatinya mendadak bergejolak. Jantungnya berdebar, rasanya sama sekali tidak berbeda dengan saat awal mereka menjalin hubungan. Manda tidak bisa mengelak bahwa ia masih menyimpan perasaan untuk laki-laki itu.

AKSARA (PRE-ORDER)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang