Aksara namaku, tulisan artinya. Jadi biarkan aku menulis rangkaian cerita indah kita menjadi buku takdir yang akan selalu kita ingat.
-Aksara Archernar-
***
Bulan merengek terus menerus pada Aksara. Setelah mendengar percakapannya dengan Ray tentang kegiatan sosial yang ingin Quarlesi lakukan, Bulan ngotot ingin ikut. Bulan memaksa Aksara, menggoyang lengan kokoh laki-laki itu.
"Aksara, Bulan mau ikut ya?"
"Enggak, Bulan." Untuk kesekian kalinya Aksara menolak.
"Aksara mah pelit. Bulan mau ikut doang gak boleh."
"Buat apa lo ikut? Gak ada apa-apa di sana."
"Bulan pengen ikut aja. Boleh kan Aksara?"
"Engg--"
"YEYYYYYY!!! BOLEH!!!" Bulan memotong ucapan Aksara. Wajahnya sumringah membuat Aksara menghela napasnya.
"Lan, gue bilang enggak boleh," ucap Aksara. Sedikit memberi penekanan dalam nadanya agar Bulan mengerti. Tidak ada gunanya Bulan ada di sana. Yang ada malah nanti dia merengek minta pulang karena kebosanan.
Alis Bulan tertaut, menatap Aksara dengan tatapan memohon. Bulan bergelayutan di lengan Aksara. "Please, Aksara. Bulan mau ikut. Ya ya ya? Bulan janji deh nurutin apa yang Aksara bilang di sana."
Aksara menghela napas lagi. "Ya udah."
Bulan terpekik senang. Ia bertepuk tangan kecil atas kemenangannya melawan Aksara. Seperti sebuah kemenangan yang patut dirayakan.
"Aksara. Ngomong-ngomong lengannya Aksara besar banget ya. Enak buat dipeluk. Bulan jadi suka." Bulan mengelus lengan Aksara. Kagum dengan otot-otot Aksara yang terlihat pas dengan lengannya. Urat-uratnya yang sedikit menonjol membuat tangan itu terkesan seksi dari atas sampai bawah.
"Suka sama lengan gue atau gue?"
"Hmm...sama siapa ya?"
Tolong ini kenapa Aksara jadi aneh? Kemarin nanya lebih milih dia atau permen, sekarang nanya lebih suka dia atau lengannya.
"Bulan enggak mau pilih," jawab Bulan.
"Lo harus pilih," ucap Aksara.
"Enggak ah. Bulan enggak mau pilih. Bulan suka dua-duanya," ucap Bulan. "Kalau katanya Najwa Sihab 'kalau bisa dua kenapa harus pilih satu'."
Aksara terkekeh lucu. Aksara menarik lengannya yang menjadi mainan usap-usap oleh Bulan. Bulan sedikit sedih. Namun tiba-tiba tubuhnya menegang sempurna ketika lengan Aksara membawa kepalanya bersender di pundak laki-laki itu.
Lengannya ada di belakang Bulan. Setengah memeluk tubuh mungil itu. Aksara meletakkan telapak tangannya di atas kepala Bulan. Bermain sebentar dengan puncak kepala gadis itu. Aroma vanila dari rambut Bulan tercium jelas saat Aksara mengacak-acak rambutnya.
Jantung Bulan sekarang rasanya ingin copot. Bulan hanya duduk diam dan pasrah. Tak bergeming sedikitpun. Bulan tidak berani menegadahkan kepalanya untuk melihat manik Aksara. Hanya dengan perlakuan seperti ini saja Bulan bisa terbius, apalagi harus bertatapan langsung dengan si pelaku. Pingsan kali bisa-bisa.
"Diem aja. Enak nyender di bahu gue?"
Astaga. Jantung Bulan semakin tidak terkendali. Bulan menggigit bibir bawahnya, gugup. Tapi memang benar katanya. Bulan merasa nyaman bersandar di bahu lebar milik Aksara. Sangat nyaman sampai Bulan tak terpikir untuk bangkit.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA (PRE-ORDER)
Romansa[PEMESANAN NOVEL BISA MELALUI SHOPEE ANDROBOOKS] Rembulan Aldera. Bernasib sial karena harus berurusan dengan ketua geng sekolahnya, Aksara Archernar. Karena kesalahannya melempar Aksara dengan sepatu, membuatnya harus menanggung malu akibat perbuat...
