30. Sisi Baik dan Sisi Bengis

29.2K 2.3K 104
                                        

Gue ketuanya. Gue yang bertanggung jawab atas semua yang mereka lakuin.

-Aksara Archernar-

***

Aksara membonceng Bulan dibelakangnya. Laki-laki itu bersama dengan pasukannya menuju ke tempat tujuan. Panti jompo yang telah menjadi tempat mereka melakukan kegiatan sosial sejak angkatan pertama.

Deruman-deruman sepeda motor menggema di telinga Bulan. Tidak semua anggota Quarlesi ikut dalam kegiatan ini. Hanya sepertiganya saja. Panti jompo Kencana Kasih bukan panti jompo yang besar. Tidak mungkin kan mereka semua ikut dalam acara ini. Bukannya mau berbuat baik, malah kelihatannya seperti ngajak tawuran.

Tahun-tahun sebelumnya, mereka hanya menjalankan kegiatan ini setahun sekali. Namun di bawah kepemimpinan Aksara, ia ingin menjalankan kegiatan ini dua kali agar semua anggota dapat merasakannya. Sejak awal Quarlesi berdiri, anggota-anggotanya tidak ingin Quarlesi dicap sebagai geng pembuat onar. Maka itu mereka mencetus ide ini.

Sekitar lima puluh sepeda motor melaju dengan Aksara sebagai pemimpin. Tidak ada yang mendahului Aksara ataupun sejajar dengannya. Laki-laki itu selalu ada paling depan. Tak lupa ada bandana merah yang terikat di kepalanya.

"Aduh berat banget, njir. Bantuin napa," kode Horas sambil mengangkat sekarung beras turun dari sepeda motornya setelah sampai di panti jompo.

Sementara itu Figo yang sedang mengangkat sekardus sembako menoleh singkat padanya. "Lo kagak liat apa gue juga bawa?" tanyanya sewot.

Satu hari sebelumnya, anggota-anggota Quarlesi sudah menyiapkan barang-barang yang ingin diberikan. Mulai dari sembako, pakaian, dan lainnya.

"Bawa ke dalem, goblok. Malah taro di sini," ucap Ray melihat Doel meletakan kardus sembako yang lain.

"Sabar kali ah. Pinggang gue encok nahan nih kardus di motor. Mana pake acara merosot-merosot lagi," ucap Doel seraya meregangkan badannya. Memang jarak dari Warma ke Panti Jompo Kencana Kasih lumayan jauh. Sekitar 40 menit.

"Udah gue bilang taronya di belakang aja," ucap Aksara.

"Kalau taro belakang kayak kurir barang. Ya kali nanti muka seganteng gue dikira kurir," ujar Doel pede. Membuat teman-temannya menatapnya geli. "Lo sih enak, Sa, bawa Bulan doang. Kalau gitu gue juga mau. Ntar pulangnya Bulan sama Doel ya." Doel menaik turunkan alisnya pada Bulan.

"Coba aja," tantang Aksara. Laki-laki itu menaikkan dagunya angkuh. Memberi isyarat jika hal itu terjadi, maka hari ini merupakan hari terakhir Doel.

Doel memajukan bibirnya, lalu berkacak pinggang. "Kenapa sih semuanya pada gak ngertiin gue? Males ah!" Doel mengangkat kardus sembako di bawahnya. Sengaja menghentak-hentakan kaki pergi ke pintu masuk.

"Kenapa sih tuh orang?" tanya Vian sambil mengikuti punggung Doel yang menghilang karena terhalang anggota Quarlesi lainnya.

"Patah hati dia. Abis ngajak Manda balikan tapi ditolak," ucap Figo.

Tawa Horas langsung meledak. "HAHAHAHA! Dia yang selingkuh, dia yang ngajak balikan."

"Udah gitu ditolak lagi. HAHAHAHA." Ray ikut tertawa.

"Kasian amat sih," imbuh Vian sambil terkekeh. Pantas saja kelakuannya aneh. Abis putus cinta ternyata. Orang waras aja bisa jadi gila karena cinta. Apalagi Doel yang memang sudah gila dari sananya.

Mereka semua tertawa, kecuali Bulan dan Kevin. Ya kalau Kevin mah gak usah ditanya lagi deh. Sedangkan Bulan, ia tidak mengerti apa yang ditertawakan. Bulan melirik wajah Aksara.

AKSARA (PRE-ORDER)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang