"Sebelum mencintai seseorang, cintai dulu dirimu. Karena jika kamu sendiri tidak mencintai dirimu, bagaimana orang lain bisa mencintaimu?"
***
"AKSARAAAA!"
Teriakan menggelegar itu datang dari luar Warma. Seorang gadis masuk dengan tidak santainya, membuat seluruh anak Quarlesi di dalam memusatkan pandangan padanya. Bulan mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari keberadaan Aksara. Ini pertama kalinya Bulan datang ke Warma tanpa ditemani Aksara. Sejujurnya ia sedikit takut. Sebelum masuk, gadis itu disapa oleh semua anak Quarlesi yang di luar, mengingat Bulan adalah kekasih ketua mereka. Namun Bulan membalas sapaan mereka dengan ketus. Gadis itu sedang kesal sekarang.
Bulan berjalan ke ruang kumpul setelah diberi tahu keberadaan Aksara oleh salah seorang anggota Quarlesi. Tenang saja. Kali ini Bulan sudah hafal jalan menuju ruang kumpul. Sampai di ruang kumpul, Bulan mendapati Aksara tengah duduk santai di sofa. Laki-laki itu tampak terkejut dengan kehadiran Bulan. Aksara tadi dengar teriakan Bulan, tetapi ia kira ia salah dengar mengingat Bulan sedang sakit. Mana mungkin tiba-tiba ke sini.
Aksara menghampiri Bulan. "Ngapain ke sini?"
"Kenapa? Gak boleh? Bulan gak boleh ke sini?" tanya Bulan sewot.
"Buk--"
"Ngaku sama Bulan. Aksara selingkuh kan?"
Seketika itu seisi Warma langsung gaduh. Apa? Ketua mereka selingkuh? Mereka semua menampilkan ekspresi yang sama, yaitu tidak percaya.
"Lo ngomong apa?" tanya Aksara bingung.
"Aksara jangan pura-pura nggak tau! AKSARA SELINGKUH SAMA MBAK MUMUN SI PENJUAL GORENGAN DEPAN SEKOLAH KAN? AKSARA HABIS TELEPONAN SAMA DIA KAN? AKSARA JAHAT BANGET SIH SAMA BULAN!"
Suasana Warma bertambah ramai. Apa mereka tidak salah dengar? Penjual gorengan depan sekolah?
"Sa, demi apa? Lo selingkuh sama Mbak Mumun?" tanya Ray tak percaya.
"Mbak Mumun yang janda anak tiga itu, Sa? Gila lo ya?" Figo ikut tak percaya.
"Itu anak pertamanya Mbak Mumun seumuran loh sama kita, Sa. Lo mau jadi bapaknya?" tanya Vian.
Horas menggeleng-geleng. "Sungguh terlalu!" Ia menirukan nada Rhoma Irama.
Pernyataan dan pertanyaan terus menyerang Aksara. Aksara mengangkat satu tangannya. "Diem!"
Semuanya diam seketika. Berganti saling melirik karena tak bisa melanggar perintah ketuanya. Aksara maju lebih mendekat ke Bulan. Sementara itu Bulan mengenyit dahinya, menatap Aksara dengan sangat-sangat tajam.
Ya meski begitu, Aksara sama sekali tidak merasa terancam dengan tatapan gadisnya itu.
"Aksara cepet ngaku!" seru Bulan.
"Siapa yang bilang itu?" tanya Aksara.
Iris Bulan berkeliling mencari seseorang. Bulan menunjuk satu orang, membuat seluruh pasang mata menoleh ke yang ditunjuk. "Doel. Doel bilang Aksara selingkuh. Katanya Aksara abis teleponan sama Mbak Mumun."
Doel yang ditatap banyak pasang mata hanya celingak celinguk. Namun ia merasa tidak salah. Jadi ia dengan berani membela diri. "Tadi gue denger lo teleponan sama Mbak Mumun di parkiran kan? Ngaku lo."
Aksara mengernyit. "Sok tau lo."
"Aksara yang sok tau!" decak Bulan. "Kalau Aksara gak selingkuh, coba Bulan liat HP Aksara. Bulan mau liat Aksara abis teleponan sama siapa aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA (PRE-ORDER)
Romance[PEMESANAN NOVEL BISA MELALUI SHOPEE ANDROBOOKS] Rembulan Aldera. Bernasib sial karena harus berurusan dengan ketua geng sekolahnya, Aksara Archernar. Karena kesalahannya melempar Aksara dengan sepatu, membuatnya harus menanggung malu akibat perbuat...
