47. Surat Ancaman

21.8K 2.2K 573
                                        

Gak usah senyum. Gue gak suka lo cantik di mata orang lain.

-Aksara Archernar-

***

"Aksara kok cepet banget makannya?" tanya Bulan dengan tatapan serius pada laki-laki di sebelahnya. Bulan melihat piring Aksara yang sudah kosong, lalu berganti melihat piringnya yang masih tersisa setengah bagian makanan.

"Lo makannya kelamaan," balas Aksara.

"Enggak, Aksara. Bulan makannya enggak kelamaan. Aksara yang makannya kecepetan."

"Lo kelamaan."

"Enggak. Aksara yang makannya kece--"

"Iya udah gue yang kecepetan." Aksara mengalah. "Cepat habisin."

Bulan mengangguk. Ia menyuap nasi dengan lauk ayam goreng itu masuk ke dalam mulutnya. Aksara mengamati setiap pergerakan Bulan. Perlu diketahui, salah satu kebiasaan baru Aksara sejak menjalin hubungan dengan Bulan adalah laki-laki itu jadi suka mengamati gadis itu. Apapun yang Bulan lakukan mampu membuat Aksara gemas sendiri. Gadis itu seperti anak TK. Contohnya sekarang. Bulan makan sembari kedua kakinya bergoyang ke depan dan belakang akibat kakinya tidak bisa menyentuh tanah karena bangku yang ia duduki lebih tinggi.

Aksara menyelipkan sejumput rambut Bulan yang menghalangi wajahnya ke belakang daun telinga. "Lan, kenapa lo nolak Gio dan milih gue?"

Bulan menoleh ke Aksara. "Karena Bulan cintanya sama Aksara."

"Lo cinta sama gue, tapi senyumin cowok lain," ucap Aksara. Sebetulnya itu adalah bentuk sindiran halus yang sengaja diberikan Aksara.

"Bulan gak senyum sama cowok lain, Aksara," kata Bulan.

"Masa?" Aksara tampak tak percaya.

"Iya, Aksara. Bulan kan senyum sama Aksara doang, hehe." Bulan menampilkan senyum khas miliknya, senyum lebar yang menampakkan deretan gigi putihnya.

"Masa? Terus yang senyumin cowok lain di depan lab kimia itu siapa dong?"

Bulan mengingat-ingat. Lab kimia? Jangan-jangan saat itu!

"Aksara, Aksara liat ya waktu Bulan nolak Gio?" tanya Bulan.

Aksara mengangkat kedua bahunya. Mata laki-laki itu menatap Bulan sambil tersenyum tipis. Bulan memukul lengan Aksara. Ternyata laki-laki itu lihat? Kenapa setelah tahu Bulan menolak Gio, laki-laki itu malah masih tetap mendiamkannya?

Bulan menatap Aksara garang. Kedua bola matanya berapi-api. Ia kesal. "Aksara kalau udah tau Bulan nolak Gio, kenapa Aksara masih cuekin Bulan?"

"Gue kesal sama lo," ucap Aksara.

"Kesal kenapa, Aksara?" tanya Bulan dengan suara yang ditinggikan.

"Kesal karena lo senyumin cowok lain."

Kobaran api di mata Bulan seketika berubah menjadi tatapan serius. "Maksudnya Aksara, Aksara gak suka Bulan senyumin cowok lain?"

"Ya."

"Aksara cemburu?"

"Siapa yang gak cemburu kalau pacarnya senyumin cowok lain?" Aksara mendekatkan wajahnya ke wajah Bulan. "Lo milik gue, senyum lo juga milik gue. Gue gak suka milik gue dinikmati juga sama orang lain."

AKSARA (PRE-ORDER)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang