Pagi-pagi sekali Aksara sudah tiba di rumah Bulan. Sepulang dari rumah Bulan jam 2 pagi tadi, Aksara memutuskan kembali ke Warma saja untuk istirahat. Kebetulan beberapa anak Quarlesi lainnya juga ada di Warma, jadi Aksara tidak sendirian.
Aksara masih belum bisa tenang membiarkan Bulan sendirian. Lebih baik laki-laki itu mengecek kondisi Bulan sendiri. Terhitung sudah sepuluh menit Aksara menunggu Bulan di luar. Tidak ada tanda-tanda keluarnya gadis itu.
Lima menit lagi berlalu, akhirnya batang hidung gadis itu tampak juga. Bulan berlari kecil ke arah Aksara. Tidak lupa dilengkapi senyum lebar khas miliknya.
"Hai, Aksara," sapa Bulan.
"Hai, sayang," balas Aksara membuat senyum Bulan makin lebar.
"Maaf ya, Aksara. Tadi Bulan habis beresin buku dulu," ucap Bulan.
"Gak beresin dari semalam?"
Bulan menyengir, tidak menjawab. Cengirannya itu sudah menjawab pertanyaan Aksara. Apalagi kalau jawabannya bukan 'tidak'?
"Naik," suruh Aksara.
Bulan naik ke atas motor Aksara dengan kedua tangannya bertumpu pada pundak Aksara.
"Udah bawa semua yang gue suruh kan?" tanya Aksara.
Bulan mengangguk dari belakang. "Udah, Aksara."
Aksara menyalakan motornya. Laki-laki itu tidak menancapkan gas, melainkan menoleh ke belakang. "Lan."
"Iya, Aksara?"
Aksara menunggu sebentar, tetapi sepertinya gadis itu tidak mengerti maksudnya. Aksara mengegas motornya tiba-tiba. Bulan tersentak kaget. Tangannya sontak memeluk pinggang Aksara.
"Aksara! Aksara pelan-pelan dong! Bulan kaget nih!" protes Bulan.
"Siapa suruh gak peka." Tangan kiri Aksara memegang kedua tangan Bulan yang melingkar di pinggangnya. Mengunci kedua kedua tangan gadis itu agar tidak dapat melepas. Sementara tangan kanannya mengendalikan gas motor.
"Pegangan yang kenceng. Kalau jatuh gak gue pungut lagi."
"Ih, Aksara! Emang Bulan barang apa dipungut?" Bulan mengerucutkan bibirnya di belakang.
Aksara terkekeh kecil melihat ekspresi Bulan dari spion yang mengarah ke belakang. Sebelum Bulan keluar tadi, Aksara memang sudah sengaja mengarahkan spion itu ke arah belakang.
"Emangnya kalau Bulan jatuh, Aksara gak mau tolongin Bulan? Aksara mau biarinin Bulan jatuh? Kok Aksara jahat banget sih?"
"Mau gak ya?"
"Ih, Aksara! Kok Aksara jawabannya begitu?"
"Terus harus jawab gimana?"
"Jawab iya, Aksara!"
"Iya udah, iya."
Bulan mendengus. "Aksara jawabnya terpaksa banget sih."
"Gue gak terpaksa."
"Bohong!"
"Yang kayak lo cuma satu. Kalau gue gak pungut, terus ada orang lain yang pungut gimana? Rugi dong gue."
"Jadi Aksara mau nolongin Bulan?"
"Iya gak ya?" goda Aksara lagi.
"Tuh kan! Aksara mah gak sayang Bulan!"
Aksara terkekeh kecil. "Iya, gue gak sayang lo."
Bulan seketika melotot. Bulan terdiam. Darahnya tiba-tiba terasa membeku. Apa dia tidak salah dengar? Aksara bilang tidak sayang padanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA (PRE-ORDER)
Romance[PEMESANAN NOVEL BISA MELALUI SHOPEE ANDROBOOKS] Rembulan Aldera. Bernasib sial karena harus berurusan dengan ketua geng sekolahnya, Aksara Archernar. Karena kesalahannya melempar Aksara dengan sepatu, membuatnya harus menanggung malu akibat perbuat...
