04. Kebenaran Yang Terungkap

158K 14.5K 1.7K
                                        

                 Happy Reading ❤️

"Bar, kamu mau bawa aku ke mana, sih?" Bara hanya diam seraya tersenyum tipis. Ia membawa Pelangi ke suatu tempat yang sangat indah.

Hari ini adalah hari spesialnya Pelangi. Sesuai yang direncanakan oleh Bara dan Kaila. Acaranya dilangsungkan di taman yang sudah dihias sedemikian indahnya. Namun, Bara agak heran dengan Kaila yang mendadak tak ingin ikut merayakan ulang tahun Pelangi.

Itu tidak masalah besar bagi Bara. Yang terpenting gadisnya bahagia dan suka dengan tempatnya. Oh ya, untuk membuat Pelangi terkejut, Bara menutup kedua mata Pelangi dengan kain.

"SURPRISE!" teriak Bara ikatan kain itu terbuka dari kedua mata Pelangi.

Pelangi terkejut dan terharu dengan kejutan yang diberikan oleh Bara. Ia melihat sekeliling taman yang telah dihias oleh balon dan taburan kelopak bunga mawar merah. Tak lupa ada meja yang berisi kue ulang tahun dan beberapa makanan dan minuman.

"Bar," lirih Pelangi seraya menatap Bara sendu.

"Aku ulang tahun?" tanya Pelangi dengan wajah polosnya karena masih syok.

Bara mengangguk. "Maaf, ya, kalau kemarin-kemarin aku dan Kaila cuekin kamu. Kita udah rencanain ini jauh-jauh hari. Tapi, gak tau kenapa, Kaila malah nggak mau ngelanjutin akting kita."

Deg!

Tubuh Pelangi merosot ke tanah. Apa yang telah ia perbuat? Ia salah paham dan ia telah merusak masa depan sahabatnya sendiri.

"Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?" tanya Bara dengan raut wajah khawatir.

"Kalian nggak hianatin aku?" Bara mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh kekasihnya itu.

"Kamu ngomong apa, sih? Ya, enggak lah!" jawab Bara dengan raut wajah bingung.

Tiba-tiba Pelangi menangis tersedu-sedu. Bara pun bingung dengan Pelangi yang tiba-tiba menangis. Ia menenangkan kekasihnya itu dengan memeluknya.

"Bara, aku udah jahat. Bara, hiks," ucap Pelangi terisak.

"Maksud kamu apa, sih? Aku nggak ngerti. Tadi nuduh aku selingkuh, terus sekarang malah bilang kalau kamu jahat. Jelasin!" Pelangi semakin takut mendengar nada bicara Bara.

***
Arzan menatap langit-langit kamarnya. Bayangan wajah Kaila memenuhi pikirannya. Baru kali ini ia merasakan yang namanya jatuh cinta. Arzan menyiapkan mental untuk menghadap ke keluarga Kaila. Selama ini, ia tidak takut dengan apapun. Tapi, entah kenapa sekarang ia merasa takut. Takut jika keluarga Kaila tidak bisa menerimanya.

Rafael menatap Arzan dengan penasaran. Tak biasanya, sahabatnya itu melamun. Rafael pun berjalan mendekati Arzan yang sedang berbaring di ranjang.

"Anak-anak pada di club. Ikut apa enggak?" Arzan menatap Rafael sejenak, lalu menggeleng.

"Kenapa?" tanya Rafel heran.

"Gue pengen jadi suami dan Bapak yang baik buat keluarga kecil gue nanti," jawab Arzan semakin membuat Rafael heran dengan sikapnya.

"Kesambet apaan lu? Jangan bilang lu lagi kesurupan?" Arzan mendelik tajam.

"Apaan, sih! Gue kan mau nikah," jawab Arzan ketus.

Rafael berpikir sejenak, mencerna ucapan yang dilontarkan oleh Arzan. Maklum, dia rada-rada lemot. Rafael mengangguk-angguk mengerti. Tapi, hatinya sedikit tidak terima bahwa Arzan akan menikah di usia yang masih sangat muda. Bahkan, dia masih sekolah. Rafael merasa bersalah dengan papahnya Arzan. Harusnya, malam itu dia mengajak Arzan pulang.

"Lo yakin?"

                            ***
Jangan lupa vote and comment!

KAILA (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang