Happy Reading ❤️
Akibat serangan musuh kemarin, Black Wolf tidak bisa menjalankan misinya. Alhasil, mereka memilih menikmati liburan mereka terlebih dahulu. Anggota Black Wolf dan para pasangannya hendak menuju ke tempat wisata.
Tempat wisata yang mereka kunjungi saat ini adalah sebuah kebun teh yang banyak spot fotonya. Di pinggir jalan ada kedai kopi, mereka ngopi di sana sebentar.
"Kamu mau susu coklat apa susu putih?" tanya Arzan pada istrinya.
Kaila menggeleng. "Mau kayak yang diminun Adenito," ucap Kaila sembari menunjuk gelas yang sedang dipegang oleh Adenito.
"Itu wedang jahe, Sayang. Oke, tunggu sebentar," balas Arzan sembari beranjak pergi.
Kaila keluar dari kedai, dia ingin menikmati udara sejuk dari luar. Kendaraan yang lalu-lalang hanya sedikit. Kaila menoleh ke arah samping kanan. Ada seorang ibu-ibu paruh baya yang lagi kesulitan membawa barang.
"Biar saya bantu, Bu," ucap Kaila.
"Makasih, Neng. Ibu bisa kok, Neng 'kan lagi hamil takutnya nanti kenapa-kenapa kalo bawa barang-barang berat kayak gini," tolak Ibu itu seraya melihat perut Kaila yang buncit.
"Gakpapa, Bu. Biar saya bawa yang kecil-kecil itu." Kaila tetap kekeuh. Ia mengambil alih kresek yang dibawa ibu itu.
Ternyata, ibu-ibu tersebut hendak membuka warung. Kaila berinisiatif untuk memanggil beberapa temannya guna membantu ibu itu.
"Sebentar, Bu."
Kaila kembali ke kedai kopi. Arzan menatap Kaila khawatir. "Dari mana aja, Sayang?"
"Dari depan, Kak. Ayo, ikut aku ke depan! Lo juga, El, Den!" jawab Kaila. Dia mengajak suami, Rafael, dan Adenito untuk membantu ibu tadi.
Mereka tidak menolak saat Kaila menyuruh mereka untuk membantu ibu-ibu itu. Kelihatannya, ibu itu memang sedang kesulitan. Ia sempat bercerita, biasanya anak sulungnya turut membantu berjualan. Tapi, sudah seminggu ini anaknya sakit. Suaminya sudah meninggal. Anak kedua dan ketiganya kerja di luar kota.
Ibu tersebut berjualan bakso bakar dan berbagai minuman es. Baru saja membuka warung, sudah dihujani banyak pembeli. Kaila pintar memikat pembeli untuk membeli dagangan ibu itu.
"Makasih, Neng, A'. Sudah mau bantu Ibu," ucapnya.
"Sama-sama, Bu."
Arzan tersenyum melihat kebaikan istrinya. Kaila selalu bisa membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
"Kenapa bengong liatin perempuan itu? Naksir?"
***
Kalau yang lain sedang berfoto ria, berbeda dengan Kaila yang malah merenung di rumah pohon. Suaminya sedang ngobrol dengan para temannya bobrok dan ada juga yang kayak kutub Utara.
Akilla dan Elisa menghampiri Kaila. Dari sekian pasangan anggota Black Wolf, hanya mereka lah yang akrab dengan Kaila. Ada juga yang tidak membawa pasangan, contohnya Adenito dan Yuda.
Rafael sebenarnya juga gak punya pasangan, tapi ketutup karena sudah mengajak Elisa. Tidak tau apa maksud Rafael mengajak Elisa. Elisa bingung, ia dipaksa Rafael. Rafael yang pemaksa, nyatanya masih bertahta di hati Elisa. Namun, Elisa memutuskan untuk move on. Ia sudah lelah dengan penantian yang tak kunjung pasti atau tidak mungkin terjadi.
"Kai," panggil Akilla.
Kaila menoleh. "Eh, Akilla? Elisa? Kalian ngapain di sini? Gak foto-foto?" Kaila kaget dengan keberadaan Akilla dan Elisa.
"Kamu juga ngapain di sini? Gak ikut foto-foto?" Akilla bertanya balik.
"Iya. Malah ngelamun di sini. Awas, kesambet!" sahut Elisa.
"Tadi udah," jawab Kaila singkat.
Akilla menyentuh pundak Kaila. Menatap Kaila seakan bertanya, 'ada apa?'. Kaila hanya menggeleng. Entahlah, dia hanya merasa tenang aja di situ. Rasanya, semua beban terasa ringan sekarang.
"Dulu aku bercita-cita pengen jadi Dokter. Tapi, Papa malah nyuruh ambil bisnis aja. Sekarang, kuliah pun aku gak bisa," ucap Kaila lirih.
Elisa menatap Kaila sendu. "Papa? Orang yang selama ini gue tunggu kehadirannya. Kai, kadang apa yang kita punya, tapi orang lain gak punya. Lo punya Papa, gue nggak. Lo gak bisa kuliah, gue bisa," timpal Elisa.
Kaila dan Akilla menatap Elisa dengan tatapan iba. Kaila memeluk Elisa. Cewek tomboy itu ternyata punya sisi rapuh juga. Akilla mengusap punggung Elisa.
"Elisa, kenapa gak mau membaur sama temen-temen yang lain?" tanya Kaila.
Yang Kaila lihat, Elisa selalu menyendiri. Tapi, kadang ikut nimbrung kalau ada pembahasan soal sepak bola. Selain itu, dia tidak mau bergabung. Elisa akan menjauh jika teman-temannya membicarakan soal keluarga dan cinta. Dua hal yang tidak pernah ia dapatkan selama 17 tahun hidup.
"Gua gak suka kalau kalian bahas soal cinta, apalagi keluarga," jawab Elisa.
"Elisa! Kalau kamu butuh teman, kamu bisa ke rumah aku kok! Nanti kita bicara tentang bola. Ya 'kan, Kil?" Kaila menatap Akilla penuh harap, Akilla mengangguk kecil.
"Kita emang gak tau tentang sepak bola. Tapi, kita bakal jadi pendengar yang baik. Aku juga pengen tau tentang sepak bola. Kayaknya, seru. Kamu aja sampai suka," ucap Kaila, membuat Elisa tersenyum.
'Apa gini rasanya bisa punya temen deket?'
***
Jangan lupa vote and comment!
KAMU SEDANG MEMBACA
KAILA (On Going)
Roman pour AdolescentsBagaimanakah jika seorang gadis yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku SMA hamil? Apalagi, hamil dengan pria yang selama ini sangat ia takuti. Bukan hanya dia saja yang takut, bahkan seluruh warga sekolah pun juga takut padanya. Dia adalah...
