Happy Reading ❤️
Black Wolf malam ini ada tugas. Arzan terpaksa harus meninggalkan Kaila seorang diri di rumah. Merasa tak tenang, ia pun menghubungi Pelangi untuk menemani istrinya. Gengsi, sih. Tapi, saat ini Kaila lebih penting daripada egonya.
Kaila juga harus terpaksa mengizinkan Arzan pergi. Ia tidak boleh egois. Kelompok yang didirikan suaminya dengan susah payah itu sekarang membutuhkan peran Arzan sebagai pemimpin.
Sedari tadi ia tak henti-hentinya memanjatkan doa agar suaminya itu selalu dalam lindungan Allah. Agar suaminya pulang dengan keadaan sehat.
"Kai, udah dong. Suami lo itu jagoan. Dia gak bakal kenapa-kenapa," ucap Pelangi, menenangkan Kaila yang tampak gelisah.
"Kak Arzan pulangnya masih lama, ya?" tanya Kaila dengan raut wajah khawatir.
"Yaelah, Kai. Kak Arzan itu perginya masih dari lima belas menit yang lalu. Tugas yang diterima sama Black Wolf itu pasti membutuhkan waktu yang lama. Mungkin aja sampai besok, Kai," jawab Pelangi.
"Ih, kalau gitu tadi gue gak izinin dia!" kesal Kaila.
"Gak boleh gitu lah, Kai. Suami lo itu juga punya tanggung jawab di Black Wolf. Sebagai istri, lo harus ngertiin dia," ucap Pelangi sembari mengusap punggung Kaila.
Kaila menghela nafas. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar. Ia sungguh khawatir dengan suaminya. Kaila tau resiko yang akan diterima oleh Arzan.
Kaila mengakui, bahwa dirinya telah jatuh cinta dengan Monster Kutub itu. Kaila khawatir berlebihan karena memang ia tak ingin kehilangan Arzan.
"Daripada lo galau mulu, better kita buat brownies aja, yuk," usul Pelangi agar sahabatnya itu bisa melupakan rasa khawatirnya.
"Jadi, pengen brownies buatan Kak Arzan. Lo tau nggak, Kak Arzan pernah buatin brownies buat gue. Bantet, sih, tapi rasanya enak banget," ucap Kaila dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kai, tenang. Lo harus bisa berpikir positif. Ayo, kita buat brownies!" Pelangi menarik tangan Kaila pelan.
Kaila beranjak dari ranjang, mengikuti langkah Pelangi. Ia berjalan dengan lesu. Kaila hanya duduk, melihat Pelangi sibuk dengan tepung-tepungan. Ia tak tertarik dengan aktivitas Pelangi, pikirannya masih tertuju pada suaminya.
Akhirnya, brownies yang Pelangi buat sudah jadi. Brownies itu tampak menggiurkan, namun entah kenapa Kaila tak selera untuk memakannya.
Sepotong brownies yang telah Pelangi siapkan di atas piring kecil sudah berada di hadapan Kaila. Tak mau membuat Pelangi kecewa, Kaila pun mencicipinya. Enak. Seperti brownies buatan Arzan.
"Gue pengen ketemu Kak Arzan."
***
Pagi telah tiba. Kaila menggeliat sambil menguap. Matanya mengerjap, menyadari bahwa hari sudah sangat terang, Kaila pun bergegas membangunkan diri. Melirik sebelah kanannya, tidak ada siapa-siapa. Itu artinya Arzan belum pulang.
Kaila mengecek ponselnya, siapa tau saja Arzan menghubunginya. Namun, nihil. Tidak ada notifikasi ataupun panggilan dari suaminya. Air mata Kaila mengalir seenaknya. Kaila benar-benar takut jika Arzan kenapa-kenapa.
Kaila menekan kontak Yuda, ponselnya tidak aktif. Ia tak menyerah, ia mencoba menghubungi Rafael. Namun, lagi dan lagi ponselnya juga tidak aktif. Kaila semakin gusar.
"Aku takut ...." Kaila terisak.
Ceklek!
Bunyi pintu terbuka membuat Kaila langsung mendongak. Ia merasa kecewa karena bukan Arzan yang membukanya, melainkan Pelangi yang berjalan ke arahnya seraya membawa nampan.
"Sarapan dulu, Kai," ucap Pelangi sembari meletakkan nampan berisi semangkuk bubur itu di samping Kaila.
Kaila menubruk tubuh mungil Pelangi. Memeluk sahabatnya itu erat.
"Kak Arzan nggak pulang, hiks. Dia juga hiks ... gak hubungin gue, hiks. Apa dia baik-baik aja?" Pelangi mengusap punggung Kaila.
"Positif thinking, Kai! Jangan mikir macem-macem. Kasihan Dedek bayinya, ikut sedih nanti kalau Mamahnya sedih," ucap Pelangi.
"Udah. Sekarang lo makan, ya? Dedek bayi juga perlu asupan." Kaila mengangguk, membuat Pelangi tersenyum.
***
Jangan lupa vote and comment!
KAMU SEDANG MEMBACA
KAILA (On Going)
Novela JuvenilBagaimanakah jika seorang gadis yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku SMA hamil? Apalagi, hamil dengan pria yang selama ini sangat ia takuti. Bukan hanya dia saja yang takut, bahkan seluruh warga sekolah pun juga takut padanya. Dia adalah...
