Happy Reading ❤️
Satu jam yang lalu lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Charlie Nathaniel Adiyatma. Kebahagiaan menyelimuti sepasang suami-istri muda tersebut. Arzan sampai meneteskan air matanya, saking bahagianya.
Rafael dan Yuda belum kembali setelah dia suruh membeli perlengkapan bayi. Hanya ada Adenito, Andreas, dan Rangga. Bhalendra dan sang istri sudah dihubungi, namun sekarang mereka tidak bisa menjenguk karena sibuk. Mungkin, besok. Agra juga tidak bisa menjenguk karena harus menemani istrinya lahiran. Kaila dan Akilla melahirkan secara berbarengan.
Baby Charlie agak montok. Sedari tadi Arzan menahan kegemasannya pada sang anak agar tidak mencubit pipi gembilnya itu. Bisa gawat kalau sampai dia mencubit pipi Baby Charlie. Bisa ditabok emaknya.
"Gemoy banget anak lo, Bos," ucap Adenito yang juga gemas dengan Baby Charlie.
"Entar kalau udah nikah, gue pengen anak gue kayak anaknya si Bos," sahut Rangga.
"Lo udah cukup umur, Bang. Buru nikah," cibir Andreas.
"Ngejek, lo? Gak sopan sama yang lebih tua," balas Rangga.
"Tu, nyadar diri kalau udah tua."
Tatapan tajam yang Arzan layangkan ke mereka membuat suasana kembali hening. Hingga, suara tangisan Baby Charlie memecah keheningan. Arzan mengusir ketiga orang kurang kerjaan itu keluar karena Kaila ingin menyusui Baby Charlie.
"Ih, Baby Charlie lucu banget, ya, Kak," gemas Kaila.
"Iya. Pipinya gembil-gembil gitu. Jadi, pengen nyubit," timpal Arzan. Sontak mendapatkan tatapan mematikan dari emak sang Baby Charlie yang gumush-nya bukan main.
Nindya dan Yohan datang saat Kaila sudah selesai menyusui Baby Charlie. Mereka membawa berbagai perlengkapan bayi dan juga makanan yang banyak. Sia-sia Rafael dan Yuda membeli perlengkapan bayi yang sampai saat ini belum juga kembali.
"Padahal, tadi Kak Arzan udah nyuruh El sama Yuda beli perlengkapan buat Baby Charlie, lho, Ma," ucap Kaila.
"Ya, suruh balik aja. Jadi, orangtua kok kebangetan. Masa keperluan anaknya lupa dibeli. Harusnya, kalian beli itu pas mendekati hari kelahiran. Mana gak tau di USG lagi," omel Nindya.
"Udah keburu dibeli, Ma. Orang belinya udah dari tadi," jawab Kaila.
"Ngejawab mulu!" Kaila langsung kicep.
Kaila melirik suaminya yang sedang mengobrol dengan Yohan. Dia merasa sangat lapar, tapi tidak tega menyuruh mamanya. Karena saat ini Nindya tengah menggendong Baby Charlie.
"Kak," panggil Kaila.
"Ada apa?" tanya Arzan, menghampiri Kaila.
"Laper," rengek Kaila.
Nindya mencibir. Sudah punya anak, masih saja bertingkah manja. Kasihan Arzan harus mengurus dua bayi sekaligus. Namun, di sisi lain Nindya bersyukur memiliki mantu seperti Arzan. Dia sempat takut kalau pria itu hanya bisa menyakiti putrinya dan tidak bertanggungjawab. Tapi, ternyata dia salah. Arzan adalah pria yang bertanggungjawab dan benar-benar mencintai putrinya.
Arzan menyuapi Kaila dengan telaten. Sesekali mengusap sudut bibir istrinya itu. Nindya tersenyum tipis. Menantu yang sempat ia ragukan, sekarang ia malah sangat bangga.
"Berandalan seperti kamu bisa menjadi menantu idaman juga, ya."
***
Kaila dan Baby Charlie sudah diperbolehkan pulang. Namun, pergerakan Kaila dibatasi oleh Arzan. Wanita itu tidak boleh banyak melakukan aktivitas yang membuatnya kelelahan. Keluar kamar saja hanya untuk makan.
Baby Charlie setiap malam rewel. Jam tidur Kaila menjadi berkurang. Kalau saja Arzan bisa menggantikan Kaila, pasti istrinya itu tidak akan banyak begadang.
"Hai, Sayang. Udah bangun, ya," sapa Kaila pada anaknya yang sudah membuka matanya dan menggeliat.
Kaila mengangkat Baby Charlie ke dalam gendongannya. Dia ingin memandikan bayi menggemaskan itu. Saat berbalik badan, Arzan sudah keluar dari kamar mandi dan menatapnya datar.
"Ngapain?" tanyanya.
"Mandiin Baby Charlie," jawab Kaila.
"Gak. Biar aku aja." Arzan hendak mengambil Baby Charlie dari gendongan Kaila, tapi istrinya itu malah menjauh.
"Ih! Aku mau mandiin bayi aku, Kak! Masa gak boleh," gerutu Kaila.
Arzan menghela nafas gusar. "Kamu belum sembuh total. Istirahat aja. Biar aku yang urus Charlie," ucap Arzan.
Kaila terpaksa mengangguk. Padahal, dia juga pengen mengurus anaknya. Lagipula, dia sudah merasa baik-baik saja. Jahitan bekas cesar di perutnya juga sudah tidak terasa sakit.
"Oekk ... oekk ... oekk."
Tangisan Baby Charlie terdengar. Kaila tidak jadi merebahkan diri. Dia segera menghampiri anaknya yang sedang dimandikan oleh suaminya itu.
Pintu kamar mandi terbuka. Tapi, tangisan Baby Charlie sudah berhenti.
"Oh, gitu caranya mandiin bayi," gumam Kaila.
"Tapi, aku takut. Terus tadi pas aku gedong Baby Charlie rasanya agak berat. Aku takut kalau Baby Charlie jatuh dari gendongan. Kok bisa, ya, Baby Charlie gindut gitu," imbuhnya.
"Kan, pas hamil kamu makannya banyak. Makanya, si Charlie gindut," balas Arzan.
"Eh, APA?!"
Wah, tanda-tanda adanya perang dunia ke-enam, nih.
****
Jangan lupa vote and comment!
KAMU SEDANG MEMBACA
KAILA (On Going)
Fiksi RemajaBagaimanakah jika seorang gadis yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku SMA hamil? Apalagi, hamil dengan pria yang selama ini sangat ia takuti. Bukan hanya dia saja yang takut, bahkan seluruh warga sekolah pun juga takut padanya. Dia adalah...
