Happy Reading ❤️
Black Wolf berangkat ke puncak dengan mengendarai bus yang sudah disewa oleh Cello dan tiga mobil milik Cello juga. Kaila dan Arzan ikut rombongan mobil, begitupun dengan Agra dan Akilla. Rombongan bus sudah lebih dulu berangkat, tapi rombongan mobil masih menunggu Kaila dan Akilla menyiapkan keperluan mereka.
Selang beberapa menit, Kaila dan Akilla pun selesai membereskan semuanya. Akhirnya, rombongan mobil bisa berangkat. Arzan dan Agra di depan, sedangkan Kaila dan Akilla di belakang.
"Di sana berapa hari, Gra?" tanya Akilla pada Agra.
"Seminggu. Kita perlu refreshing agak lama. Baru selesai ujian, pala masih mumet," jawab Agra.
"Kak, Akilla tau tentang---"
"Aku tau kok, Kai," potong Akilla.
Akilla tau misi rahasia Black Wolf. Bahkan, sudah diberitahu ketika Akilla diajak Agra liburan. Agra itu paling gak bisa bohongin istrinya.
Kaila mengambil satu bungkus makanan ringan. Lalu, memotong ujung bungkus makanan ringan itu dengan menggunakan gunting. Sebelum dimakan, Kaila lebih dulu menawari Akilla, namun dibalas gelengan kepala oleh wanita itu.
Baru memakannya sedikit, Arzan yang sedang mengemudi minta disuapi. Agra mencibir. Ia iri dan meminta istrinya untuk melakukan hal yang sama.
"Iri aja, lu!" cibir Arzan.
"Biarin! Emangnya, lu doang yang punya istri?!" sewot Agra.
"Eh, si Rafael ngajak Elisa, ya? Dia udah putus sama Anaya?" celetuk Kaila. Maklum, dia kangen gibah bareng Pelangi.
"Udah lama putusnya," jawab Arzan.
"Rafael itu yang mukanya mirip Arzan itu, ya?" tanya Akilla ikut nimbrung gibah.
"Mirip?!" Sontak, Arzan menatap Akilla tajam. Dia paling tidak suka kalau disamakan dengan orang lain. Arzan selalu menganggap bahwa dirinya beda dengan orang lain. Ya, itu hanya opini Arzan saja.
Akilla yang mendapat tatapan tajam dari Arzan pun menunduk takut. Meski, terbilang dekat dengan Arzan, tetap saja dia takut. Dari sini sudah terbukti kalau Arzan itu memang menakutkan.
"Jangan natap istri gue kayak gitu. Dia ketakutan, noh!" kesal Agra.
"Udah, Sayang. Gak usah takut. Arzan gak bakal gigit kok." Agra menenangkan istrinya.
"Denger, ya! Gua gak suka disamakan kayak orang lain!" tegas Arzan.
"Bro! Kita sama kali! Sama-sama manusia, sama-sama makan nasi, sama-sama ciptaan Tuhan," tutur Agra.
"Heh! Udah gak usah ribut! Gua mau makan dengan tenang!" lerai Kaila yang sedari tadi terganggu dengan perdebatan mereka yang un-faedah.
Semua diam. Kaila kalau lagi marah nyeremin kek suaminya. Akilla menatap Kaila yang sedang makan snack dengan lahap. Tiba-tiba jadi kepengen.
"Kenapa, Sayang? Kamu mau juga?" tanya Agra yang melihat istrinya sedang menatap Kaila lekat.
Akilla hanya mengangguk. "Kai, kasih bini gua snack juga, dong," pinta Agra.
"Tadi ditawarin gak mau." Kaila menyodorkan snack ke arah Akilla. Akilla menerimanya dengan sangat antusias.
"Gua dapat kabar dari Bagas kalau Black Wolf yang ikut rombongan bus diserang musuh."
***
DOR!
DOR!
DOR!
Beberapa kali suara tembakan terdengar. Yang pastinya bukan ulah Black Wolf, karena mereka kalau melakukan misi tidak pernah memakai senjata api. Itu ulah musuh.
Setelah mengantarkan para cewek ke Villa, Agra dan Adenito menghampiri tempat perang. Dan tempat itu di hutan. Mereka membantu Arzan dan anggota Black Wolf membalas serangan dari musuh.
Sebagian anggota Black Wolf ditugaskan untuk menjaga pada cewek. Yang ikut membantu mengatasi musuh berjumlah 44.
Sebelum itu, Arzan sudah memberitahu Rafael, Adenito, Yuda, Agra, Cello, dan Bagas untuk menghabisi para musuh yang membawa senjata api. Arzan tidak mau kasus Agra terulang lagi. Ia tidak mau mengorbankan anggotanya lagi.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
PRAK!
Berhasil. Mereka berhasil menghabisi para musuh yang membawa senjata. Pistol-pistol milik mereka tadi, Agra bawa ke mobil. Agra akan menyerahkannya ke polisi saat pulang dari puncak nanti.
Para musuh sudah terkulai lemah di tanah. Arzan memberikan isyarat pada anggota Black Wolf agar meninggalkan tempat. Semua kembali ke mobil.
"Mereka bukan target kita," ucap Arzan sembari menyeka darah yang menetes di sudut bibirnya.
"Terus siapa?" tanya Adenito yang sudah ngos-ngosan.
Arzan menatap Adenito, Rafael, Agra, dan Yuda penuh arti. "Orang suruhannya Reylan," jawab Arzan dingin.
"Reylan? Si banci itu?" Agra menatap Arzan heran.
"Kok mereka punya senjata api?" tanya Rafael.
"Gua gak tau. Yang pasti, Reylan gak hanya ngincer gua, tapi dia juga ngincer Black Wolf," tukas Arzan.
"Dia masih berambisi buat pimpin Black Wolf?" tanya Rafael lagi.
"Maybe."
"BOS! KAILA NANGIS KEJER KATA SI KAMPRET!"
***
Jangan lupa vote and comment!
KAMU SEDANG MEMBACA
KAILA (On Going)
Novela JuvenilBagaimanakah jika seorang gadis yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku SMA hamil? Apalagi, hamil dengan pria yang selama ini sangat ia takuti. Bukan hanya dia saja yang takut, bahkan seluruh warga sekolah pun juga takut padanya. Dia adalah...
