Happy Reading ❤️
Pelangi mengunjungi Kaila karena gadis itu sangat merindukan sahabatnya. Seminggu tak bertemu sudah membuatnya ngebet banget buat ketemu sama Kaila. Meski, sudah dilarang oleh Bara karena kekasihnya itu takut jika dirinya kenapa-kenapa.
Masalahnya dengan Arzan saja belum selesai. Kalau ketemu saja mata Arzan selalu sinis menatap keduanya. Bara tidak mau sampai Arzan menyakiti gadisnya. Namun, ia tak bisa menghentikan keinginan Pelangi. Bara tidak bisa menemani pacarnya itu. Ia menyuruh orang suruhannya untuk mengawasi gadisnya.
Tok ...! Tok ...! Tok ...!
Tak membutuhkan waktu yang lama, pintu rumah pun terbuka. Menampilkan seorang wanita yang masih terlihat muda. Bukan Kaila. Wanita itu adalah Astrid---asisten rumah tangga di rumah Arzan.
"Mbak, Kaila-nya ada di rumah?" tanya Pelangi sopan.
"Ada, Non. Mari, kebetulan Nona Kaila sedang bersantai di ruang tamu," jawab Astrid dengan sedikit membungkuk.
Pelangi hanya tersenyum tipis, lalu mengikuti langkah Astrid. Benar saja. Kaila sedang leha-leha di sofa sembari kakinya dipijit oleh Arzan. Pemandangan yang langka. Bahkan, Pelangi pun sampai dibuat melongo dengan tindakan Arzan.
Bagaimana tidak, seorang Arzan yang dikenal kejam dan bengis bisa-bisanya mau memijit kaki Kaila.
"K--Kai," panggil Pelangi dengan terbata. Pelangi tak bisa membohongi dirinya, jika dia takut dengan keberadaan Arzan.
Merasa ada memanggilnya, Kaila pun menoleh ke samping. Agak terkejut dengan kedatangan Pelangi. Malu juga, sih. Pelangi pasti lihat saat dirinya sedang dipijat oleh suaminya. Entar Pelangi pikir, dia kurang ajar lagi sama suaminya sendiri.
"P--Pelangi? Duduk, Ngi. Sini!" Kaila menepuk sofa kosong di samping kirinya.
"Ngapain ke sini?" Buset, baru saja pantatnya mendarat di sofa empuk itu, eh si Monster Kutub malah bersuara.
Masalahnya, kalau si Monster Kutub sudah bersuara, auranya jadi gimana gitu. Serem-serem jedag-jedug, gitu. Tapi, yang merasakan hal itu hanya Pelangi. Kaila? Gak mungkin lah! Tadi aja berani nyuruh Arzan memijiat kakinya.
"J--jenguk sahabat," jawab Pelangi.
"Kaila nggak sakit!" ucap Arzan sedikit membentak.
"Eh, lo bawa apa?" tanya Kaila pada Pelangi agar suasananya tak memanas.
"Bawa bakso, nih. Gue belinya di tempat biasa," jawab Pelangi sembari menyerahkan kantong kresek itu ke arah Kaila.
"Wah! Kebetulan udah lama banget gue gak makan di tempat itu," ucap Kaila antusias ketika menerima pemberian dari Pelangi.
"Sayang, aku ke kamar dulu," pamit Arzan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Kaila.
Arzan memilih pergi ke kamar karena ia tau, istrinya itu akan mengabaikannya jika sudah ada sahabatnya. Lagipula, ia jengah mendengar para perempuan itu nanti bergosip yang un-faedah.
***
Kaila dan Arzan sedang belanja bulanan di salah satu pusat perbelanjaan. Bisa saja asisten rumah tangga mereka yang belanja, tapi Kaila ngotot ingin pergi. Bosan di rumah, katanya. Beberapa kali, Arzan menghela nafas jengah karena melihat istrinya sibuk memilih baju bayi.
Ya, sekarang mereka berada di toko baju bayi. Padahal, kandungan Kaila masih empat bulan, lahirnya juga masih lama. Tapi, istrinya itu sudah repot mempersiapkan keperluannya. Kalau perempuan udah belanja, pasti lama banget. Itu yang bikin Arzan males.
"Kaila?" sapa seseorang dari arah sampingnya.
Kaila menoleh. Matanya menatap bingung orang tersebut. Seperti kenal, tapi lupa siapa. Orang itu mengulurkan tangannya. Kaila membalasnya, meski dengan ragu.
"Gue Lolita. Kita sekelas dulu pas SMP," ucap perempuan yang bernama Lolita tersebut.
Dahi Kaila mengernyit, ia diam sejenak. Lalu, tersenyum lebar. "Lolita? Sorry, gue lupa. Apa kabar lo?" tanya Kaila.
"Baik. Lo sendiri gimana? Dan ... ini siapa?" jawab Lolita sembari menatap Arzan.
"Suami," balas Arzan dingin.
"S--suami?" Lolita terkejut. Ia dan Kaila seumuran. Harusnya, saat ini Kaila masih kelas sebelas SMA. Tapi, kenapa sudah memiliki suami?
Mata Lolita melirik perut Kaila yang agak membesar. Tiga kata yang ada di pikirannya saat ini. "MBA?" tanya Lolita ragu.
Lolita sangat mengenal Kaila, karena dulu mereka berteman dekat. Kaila anak baik-baik, tidak pernah neko-neko, dan juga lugu anaknya. Rasanya tak percaya jika Kaila seperti itu. Tapi, anggukkan Kaila membuatnya tambah tercengang. Dugaannya benar.
"Kok bisa?"
"Sayang, pulang, yuk! Kamu udah lapar, kan?" Arzan tak mau sampai gadis tadi menghina istrinya dan malah membuat istrinya bersedih.
"M--maaf, ya, Ta. Gue sama suami gue duluan," ucap Kaila pelan.
"Oh, iya. Sampai ketemu lagi, ya!" Kaila hanya mengangguk.
Malu? Tentu saja. Dapat Kaila lihat jelas wajah Lolita yang tercengang setelah mengetahui fakta tentang dirinya.
'Suaminya ganteng banget. Gila!'
***
Jangan lupa vote and comment!
KAMU SEDANG MEMBACA
KAILA (On Going)
Ficção AdolescenteBagaimanakah jika seorang gadis yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku SMA hamil? Apalagi, hamil dengan pria yang selama ini sangat ia takuti. Bukan hanya dia saja yang takut, bahkan seluruh warga sekolah pun juga takut padanya. Dia adalah...
