Happy Reading ❤️
Enam bulan kemudian ....
Baby Charlie sudah bisa merangkak. Bayi itu sangat aktif dan membuatnya Mommy-nya kewalahan. Segala benda yang menarik di mata bayi gembul itu akan dia pegang. Kaila sampai hampir menangis menghadapi Charlie yang sangat aktif.
Suaminya sedang berada di perusahaan. Mereka berdua menunda keberangkatan ke London karena menunggu Baby Charlie agak besaran dulu. Selama masih di Indonesia, Arzan memanfaatkan waktu untuk mengurus perusahaannya dan perusahaan milik Bhalendra yang kadang ada proyek yang Bhalendra serahkan padanya.
Kaila sering kali mengeluh karena suaminya terlalu sibuk bekerja, hingga tidak waktu untuk dirinya dan si bayi gembul. Kaila tidak mau Baby Charlie merasakan apa yang ia rasakan dulu. Anaknya harus mendapatkan kasih sayang yang lengkap.
"Kamu nekat berangkat kerja, aku bakal pergi dari rumah ini!" ancam Kaila.
Arzan menghembuskan nafas kasar. Entah kenapa istrinya hari ini sangat rewel. Terpaksa dia tidak jadi berangkat kerja, dan mengajak anaknya main. Sementara itu, Kaila mengerjakan pekerjaan rumah.
Asisten rumah tangga, bodyguard, tukang kebun, semua dirumahkan sejak minggu lalu. Hanya Astrid yang dipertahankan untuk membantu Kaila. Pekerjaan rumah dikerjakan sendiri sebisa mungkin. Karena nanti pas di London, Kaila sendiri lah yang akan mengerjakan pekerjaan rumah.
"Aku tu capek, Kak! Charlie makin besar makin aktif. Belum lagi aku harus nyuci, masak, bersih-bersih halaman depan!" Omelan Kaila terus berlanjut.
Arzan hanya mendengarkan keluhan istrinya. Lagian siapa coba yang menyuruhnya memberhentikan semua asisten rumah tangga? Arzan mencoba ngertiin Kaila. Walaupun, dia sendiri juga lelah karena dua perusahaan yang harus dia tangani.
"Seminggu lagi kita berangkat. Yakin gak mau ngajak Astrid?" tanya Arzan sambil menggoda Charlie, hingga membuat bayi menggemaskan itu tertawa.
"Kan, aku udah bilang, aku mau jadi istri yang baik. Ngurus rumah, suami, anak sendiri tanpa bantuan orang lain. Ya, kalo nanti aku nggak sanggup baru, deh, panggil Astrid," jawab Kaila yang sibuk memotong sayuran.
"Ma-ma." Suara bayi terdengar. Membuat Arzan dan Kaila terpaku.
"Tadi suara Charlie, Kak?" tanya Kaila memastikan.
"I--iya, Sayang."
Kaila langsung menghampiri sang anak. Ia meminta bayi gembul itu memanggilnya 'ma-ma' lagi. Tapi, Baby Charlie hanya menatap Mommy-nya dengan wajah cengo. Kemudian, menatap sang Daddy sembari mengulurkan tangannya.
"Mau gendong?" Bayi itu mengangguk lucu.
"Ish! Ayo, dong, lagi!" paksa Kaila.
"Dia ngantuk, Sayang."
Benar saja. Bayinya itu menaruh kepalanya pada dada bidang sang Daddy. Matanya terlihat sayu. Kaila menghela nafas, lalu melanjutkan aktivitasnya lagi. Sedangkan, Arzan mengayun-ayunkan anaknya agar cepat tertidur.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat Baby Charlie tertidur. Arzan meletakkan anaknya di ranjang dengan dua guling yang mengapit tubuh gembulnya itu agar tidak terjatuh ke bawah.
Arzan keluar dari kamarnya. Aroma harum dari masakan sang istri sudah tercium.
***
"Ya ampun, Charlie. Mommy capek ...."
Rumah kembali berantakan karena ulah bayi gembul itu. Bagaimana tidak, baru saja Kaila membereskan mainan Charlie yang berserakan di ruang tengah, sekarang bayi itu malah membuat dapur berantakan. Bahkan, Charlie sudah bisa membuka pintu kulkas.
Kaila rasanya ingin menangis. Dia terduduk di lantai sembari menatap anaknya yang mengeluarkan isi kulkas. Akhirnya, dia nangis beneran. Sambil mengusap air matanya, Kaila menghampiri bayi gembul itu.
"Astrid, beresin, ya," titah Kaila. Astrid hanya mengangguk patuh.
Kalau seperti itu terus, Kaila tidak akan sanggup mengurus rumah seorang diri. Sepertinya, dia akan mengajak Astrid untuk membantunya mengurus rumah dan Charlie.
"Da-da! Da-da!" teriak Charlie sembari berontak dari gendongan Mommy-nya.
"Charlie, jangan banyak gerak, Nak," ucap Kaila sembari membenarkan gendongannya.
Charlie malah menangis, akhirnya Kaila menurunkan bayi itu. Charlie merangkak menuju ke pintu utama rumah. Ternyata, dia melihat Daddy-nya sudah pulang.
Arzan dikejutkan dengan seorang bayi gembul yang sedang merangkak menuju ke arahnya. Arzan segera menghampirinya, dan menggendong Charlie.
Charlie terkikik geli saat Arzan menciumi seluruh wajahnya.
"Anak kamu, tu, bikin capek. Aku sanggup kalau gitu, Kak. Kita ajak Astrid aja lah," adu Kaila.
"Lagian, aku itu mampu bayar asisten rumah tangga berapapun. Kalau punya suami banyak duit itu dimanfaatin," balas Arzan.
Kaila tersenyum penuh arti ketika mendengarnya. Dimanfaatin? Hm, sepertinya menarik. Sesuai permintaan suami tercinta, dia akan memanfaatkan uang sang suami yang 'katanya' banyak itu.
"Minta uang 1M," pinta Kaila.
"Iya, nanti ditransfer," jawab Arzan enteng.
"Jatah uang bulanan dinaikin. Aku minta 1M, gimana?" pancing Kaila.
"Gampang."
Kaila mencibir. Lagian, buat apa uang sebanyak itu? Shopping? Mana ada waktu? Sekarang dia punya Charlie, tidak sebebas dulu lagi. Dulu dia sangat senang kalau dikasih uang, dia bisa membeli apapun yang Kaila inginkan. Namun, sekarang? Kalau tidak penting, Kaila tidak akan membelinya, sekalipun itu barang yang ia sukai.
"Biaya hidup di sana nanti pasti mahal. Aku juga pengen punya simpenan. Kalau sewaktu-waktu kamu ada masalah keuangan, aku bisa bantu dengan uang simpanan aku itu," ucap Kaila.
Arzan berdecak kesal. Masalah keuangan, katanya? Kalaupun nanti itu terjadi, masih ada Bhalendra yang siap membantunya. Tapi, di sisi lain dia kagum dengan pemikiran Kaila. Ternyata, wanitanya itu sudah dewasa.
"Oke, sebulan satu milyar."
Kaila mengerjapkan matanya. Apa Arzan mengaggap serius ucapannya? Padahal, dia hanya bercanda. Uang yang Arzan transfer setiap bulannya saja sudah lebih dari cukup. Bahkan, jarang ia gunakan.
***
Jangan lupa vote and comment!
KAMU SEDANG MEMBACA
KAILA (On Going)
Teen FictionBagaimanakah jika seorang gadis yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku SMA hamil? Apalagi, hamil dengan pria yang selama ini sangat ia takuti. Bukan hanya dia saja yang takut, bahkan seluruh warga sekolah pun juga takut padanya. Dia adalah...
