13. Hadiah Misterius

123K 10.5K 236
                                        

               Happy Reading ❤️

PRANG!

Entah sudah berapa kali suara benda jatuh itu terdengar dari dapur. Kaila yang mendengar suara ribut tersebut hanya cuek bebek. Yang penting brownies jadi. Oke, mari beralih ke Arzan. Pria itu tampak sangat pusing, tak mengerti harus ngapain.

Sembari menatap ponselnya yang menampilkan resep brownies, tangan kekarnya mulai mengaduk bahan-bahan yang telah dicampurkan ke dalam baskom. Ia tidak yakin brownies itu akan jadi dengan sempurna, tapi ia mengikuti langkah demi langkah yang tertulis di resep itu.

Setengah jam bergelut dengan tepung-tepungan, akhirnya ia bisa bernapas lega karena brownies itu sudah masuk ke dalam panci kukusan. Tinggal menunggu beberapa menit.

"Kalau bukan karena bini, gak mau gua kayak gini. Enak aja nyuruh-nyuruh gue!" dumel Arzan.

Beberapa menit kemudian, Arzan merasa brownies itu sudah matang. Ia mematikan kompor terlebih dahulu, kemudian mengangkat loyangnya.

Bentuknya, sih, bantet. Tapi, setelah ia coba---

"Woah! Enak! Gak nyangka gue!" puji Arzan pada dirinya sendiri.

Setelah menaburkan parutan keju di atasnya, brownies bantet itupun akhirnya dibawa ke ruang tamu. Kaila menyambutnya dengan mata berbinar. Saat melihat bentuk brownies itu, Kaila sedikit tak yakin jika brownies itu enak. Namun, Kaila tak mau membuat Arzan kecewa.

Satu gigitan.

"ENAK!" Teriakan Kaila membuat Arzan tersenyum bahagia.

"Maaf, ya. Bentuknya gak kayak di televisi," ucap Arzan.

"Yang penting enak, Kak."

Cup!

Arzan tercengang dengan tindakan istrinya. Yang melakukan pun langsung menunduk malu. Arzan tersenyum miring, lalu memeluk tubuh istrinya dari samping. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Kaila membulatkan matanya dan menabok lengan Arzan.

***
Mau tak mau, Kaila harus berhenti sekolah. Perutnya yang kian membesar tidak bisa ia tutupi lagi. Hari ini adalah hari terakhirnya ia bersekolah. Mulai besok, Kaila benar-benar akan menjalankan kewajibannya sebagai istri. Memang berat, tapi mau bagaimana lagi? Nama baik sekolah akan tercoreng apabila ia masih bersekolah.

Saat ini, ia sedang berada di kantin bersama Pelangi dan teman-teman Arzan. Mereka sedang membicarakan tentang Universitas yang akan mereka tuju setelah lulus nanti. Tanpa mereka sadari, Kaila menahan sesak. Ia tak bisa kuliah seperti mereka-mereka. Kehidupannya kelak akan disibukkan mengurus anak dan suami.

Kaila tak menyesal. Kaila bersyukur mendapatkan suami seperti Arzan yang setiap waktu selalu siaga.

"Kenapa lo, Kai? Diem aja," celetuk Yuda.

"Enggak kok. Gue cuma pengen---"

"Pengen apa, Sayang?" potong Arzan.

"Batagor." Arzan langsung menatap Rafael. Yang merasa ditatap pun malah menatap Arzan datar. Dia lagi, dia lagi.

"Batagornya habis. Beliin sana!" titah Arzan dengan nada sengak.

"Masa harus keluar, sih?" bisik Rafael dengan nada kesal.

Dengan terpaksa, Rafael beranjak dari kantin dan berjalan menuju ke parkiran. Soalnya, batagor yang dijual Mbok'e---ibu kantin sudah habis. Lagi dan lagi, Rafael menjadi korbannya. Kalau bukan karena Kaila hamil, tak mungkin Rafael mau disuruh-suruh seperti itu.

Bara dan Pelangi yang juga ikut gabung pun juga memperhatikan interaksi antara Arzan dan teman-temannya. Mereka berdua sudah dimaafkan oleh Arzan. Memang kejadian yang langka, sih. Kalau bukan karena permintaan Kaila, mana mungkin Arzan dengan mudahnya membiarkan Bara dan Pelangi gabung.

"Kai," panggil seseorang dari arah belakang, lebih tepatnya di depan pintu kantin.

Kaila dan Arzan menoleh ke belakang. Yang lain juga. "Nih, ada titipan buat lo," ucapnya sembari menyodorkan sebuah paper bag.

"Dari siapa?" tanya Arzan datar.

"D--dari anak IPS, Kak. Gue gak tau namanya. Permisi," jawab siswi itu sembari bergegas meninggalkan kantin. Sungguh, aura dari Arzan membuat bulu kuduknya merinding.

"Padahal, si Arzan gak nanya namanya," sahut Agra membuat suasana memanas.

BRAK!

"ARZAN, MAU KE MANA, LO?"


                                 ***
Jangan lupa vote and comment!

KAILA (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang