Happy Reading ❤️
Pasutri muda itu berjalan sedikit tergesa-gesa memasuki gedung Rumah Sakit. Arzan sedikit berlari saat melihat para anggota Black Wolf. Kaila tak bisa mengimbangi langkah Arzan. Alhasil, dia ketinggalan.
"Gimana kondisinya?!" tanya Arzan pada Yuda.
"Dia koma." Yuda berucap lirih.
Arzan masuk ke dalam ruang ICU, begitupun dengan Kaila setelah memberikan makanan pada para anggota Black Wolf. Saat masuk, ia melihat suaminya menatap nanar seseorang yang terbaring lemah di brankar.
Kaila tidak mengerti apa yang telah terjadi pada orang tersebut. Ia mengusap punggung suaminya. Arzan menatap Kaila sebentar, lalu menatap orang itu lagi.
"Maafin gue, Gra. Harusnya, gue yang ada disini, bukan lo!"
Agra. Cowok humoris itu yang sekarang terbaring lemah di brankar. Cowok dengan segala tingkah absurd-nya, kini sedang tak bisa membuat guyonan untuk para sahabatnya. Cowok yang suka membuat Arzan kesal, tapi kini Arzan malah merindukan gangguan Agra.
Kemarin saat mereka melawan target-targetnya, salah satu target mereka ternyata memiliki senjata api. Tembakan itu seharusnya tertuju pada Arzan, tapi Arga malah menyelamatkan Arzan. Saat para anggota Black Wolf membawa Agra ke Rumah Sakit. Arzan, Rafael, dan Adenito melawan mereka, hanya bertiga.
Alhasil, mereka bertiga babak belur. Dan Arzan yang paling parah karena ia yang paling banyak menghadapi para targetnya tersebut. Malam itu, hanya 9 orang yang bertugas. Kekurangan anggota dan melencengnya siasat membuat Black Wolf kalah malam itu. Kenapa hanya 9 orang? Karena itu taktik rancangan Arzan. Saking kalutnya, mereka sampai lupa meminta bantuan pada anggota Black Wolf yang tidak bertugas.
"Agra itu kuat. Pasti Agra bisa sembuh. Kakak jangan sedih, ya? Nanti Dedek bayinya ikut sedih," ucap Kaila.
Arzan tersenyum dan mengangguk kecil. Tangannya meraih tangan istri untuk digenggam.
'Yang ada di pikiran gue itu gimana nanti reaksi istrinya Agra kalau sampai dia tau kondisi Agra sekarang,' batin Arzan.
Istri? Ya, nasib Agra sama seperti Arzan. Istrinya yang sedang hamil tua pasti tengah menunggunya saat ini. Tapi, Arzan sudah menugaskan anak buahnya untuk mengawasi setiap langkah istrinya Agra.
"Ayo, kita pergi ke suatu tempat," ajak Arzan sembari menarik tangan Kaila.
"Kemana, Kak?" tanya Kaila penasaran.
"Ikut aja." Kaila menurut.
Setelah berpamitan dengan para anggota Black Wolf, Arzan dan Kaila pun meninggalkan Rumah Sakit. Kaila masih penasaran, tapi ia tidak berani bertanya. Takut Arzan marah.
Mobil mewah milik Arzan berhenti di sebuah rumah minimalis, entah rumah siapa. Arzan keluar dari mobil, begitupun dengan Kaila. Mata Kaila menatap bingung rumah minimalis tersebut.
"Rumah siapa, Kak?" tanya Kaila dengan mengernyitkan keningnya.
"Nanti kamu juga tau," jawab Arzan.
Tok ...! Tok ...! Tok ...!
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Muncul seorang wanita yang sedang mengandung. Kaila semakin bingung dan penasaran. Siapa wanita itu? Apakah istri tuanya Arzan?
"Eh, Arzan." Wanita itu terkejut dengan kedatangan Arzan, sedikit takut juga.
"Boleh gue masuk?"
"B--boleh, kok."
"Kalian mau minum apa?" tanya wanita itu saat mereka sudah berada di ruang tamu.
"Gak usah. Gue sama istri gue gak lama," jawab Arzan datar.
Wanita itu mengangguk kikuk, lalu dengan susah payah duduk di sofa. Arzan dan Kaila meringis melihat itu. Apalagi, Kaila. Tak bisa membayangkan bagaimana jika perutnya akan membesar dan nanti jika melakukan sesuatu akan kesulitan, seperti wanita di depannya.
"Ada apa, ya? Aku mau tanya. Di mana A---"
"Agra masuk Rumah Sakit," potong Arzan dengan suara pelan.
"APA?!" Wanita itu sangat syok dengan ucapan Arzan.
"Maafin gue, Kill. Agra masuk Rumah Sakit karena nyelametin gue," ucap Arzan.
"Aku mau ke sana!" Wanita itu hendak beranjak, tapi ditahan oleh Arzan.
"Lo di sini aja sama istri gue. Biarin gue yang ngurus suami lo. Ini salah gue," ucap Arzan.
"Sayang, aku pergi dulu. Kamu di sini aja. Tenangin Akilla," titah Arzan.
Kaila yang tak mengerti dengan apa terjadi pun hanya mengangguk. Kaila kasihan dengan wanita yang berada di depannya yang sedang menangis tersebut.
***
"Aku dan Agra dulu pacaran, tapi kami sempat putus karena kesalahpahaman. Agra marah banget waktu itu, dan dia gak sengaja ngelakuin 'itu' ke aku karena saking marahnya," jelas Akilla.
Calon ibu muda tersebut sudah tidak sekolah lagi. Ia memutuskan untuk keluar dari sekolahan sebelum kehamilannya diketahui oleh semua warga sekolah.
"Kita sama, Akilla. Aku juga udah gak sekolah lagi," balas Kaila.
Akilla jauh lebih tenang saat mengobrol dengan Kaila. Kaila adalah teman perempuan pertamanya. Dia dikucilkan satu sekolah karena penampilannya yang culun. Akilla bersekolah di sekolah yang berbeda dengan Agra. Jadi, Agra tak tahu-menahu tentang Akilla selama ini. Dan wanita itu juga tidak pernah bercerita tentang kondisinya.
Akilla berasal dari keluarga yang sederhana. Bertemu dengan Agra adalah suatu anugerah baginya. Agra bisa menerima dirinya apa adanya.
Keluarga Agra mengusir mereka dari rumah karena tak merestui hubungan keduanya. Ya, tapi mereka bisa apa? Akilla hamil dan Agra harus bertanggung jawab.
"Maaf, ya, rumahku sederhana banget. Gak ada AC-nya lagi. Kamu kegerahan, nggak? Aku ambilin kipas angin, ya?" Kaila menggeleng.
"Gak perlu repot-repot, Akilla." Kaila tersenyum.
"Takutnya kamu gak nyaman. Kamu pasti biasa pakai AC," ujar Akilla kikuk.
"Nggak kok. Aku nyaman di sini," jawab Kaila.
"Akilla, kita masak, yuk. Tiba-tiba kepengen masak, nih," ajak Kaila hanya dibalas anggukan oleh Akilla.
Jadilah kedua ibu hamil itu masak-masak di dapur sembari bercanda ria. Kaila senang, dan ia memberi tau tentang kondisi Akilla saat ini pada Arzan. Arzan juga memberi kabar baik.
Agra sempat sadar dan kini kondisinya sudah stabil.
***
Jangan lupa vote and comment!
KAMU SEDANG MEMBACA
KAILA (On Going)
Teen FictionBagaimanakah jika seorang gadis yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku SMA hamil? Apalagi, hamil dengan pria yang selama ini sangat ia takuti. Bukan hanya dia saja yang takut, bahkan seluruh warga sekolah pun juga takut padanya. Dia adalah...
