Abraham dan Alfred berkunjung ke apartemen Arzan. Mereka berdua terpesona dengan tingkah lucu Charlie. Bayi gembul yang sedari tadi mengoceh itu membuat Abraham tidak tahan ingin memeluknya. Alfred juga gemas, tapi entah kenapa dia malah tertarik dengan asisten rumah tangga Arzan yang tak lain dan tak bukan adalah Astrid. Perempuan muda itu memiliki daya tarik tersendiri dan mampu membuat Alfred kagum. Ia bahkan melupakan tunangannya.
Usia Charlie menginjak bulan ke-sepuluh. Kosa katanya pun bertambah. Charlie juga bertambah aktif. Kalau tidak ada Astrid, Kaila pasti akan kewalahan. Namun, tingkah Charlie itu membuat siapa saja yang melihatnya jadi gemas.
"Anakmu sangat lucu. Aku jadi ingin memiliki anak," ucap Abraham yang sedari tadi tak henti-hentinya mencubit pipi gembul Charlie.
"Nikah aja belom," balas Arzan sembari membersihkan pipi Charlie yang belepotan.
"Kalau Alfred menikah, aku pun juga akan menikah," ucap Abraham sembari menatap Alfred.
Alfred terdiam mendengarnya. Ia baru saja bertunangan dengan kekasihnya. Tapi, entah kenapa Alfred malah ragu dengan perasaannya sendiri setelah melihat Astrid.
"Kayaknya, dia suka sama Astrid," sindir Arzan yang sedari tadi melihat Alfred mencuri pandang ke arah Astrid.
"Apa? Tidak!" elak Alfred. Ia tidak mau kedua temannya itu mengetahui yang sebenarnya, apalagi Jennifer---kekasihnya.
Jennifer adalah gadis yang tegas dan penuh pendirian. Kalau saja dia mengetahui kalau Alfred menyukai perempuan lain, maka Jennifer akan membatalkan pertunangan mereka tanpa pertimbangan. Prinsip hidupnya membuat Alfred suka, bahkan jatuh cinta pada Jennifer.
"Halah, aku bisa melihat dari tatapanmu," ucap Arzan.
"Tidak, Arzan. Aku hanya tertarik saja. Tidak lebih dari itu. Kau tau, kan, aku dan Jennifer sudah bertunangan? Aku sangat mencintainya. Tidak mungkin aku menyukai wanita lain," dusta Alfred.
Tentu saja Arzan tidak percaya dengan ucapan Alfred. Dia melihat sendiri kok, Alfred terus saja menatap Astrid dengan tatapan kagum. Arzan tidak peduli dengan urusan pria itu, namun ini menyangkut anak buahnya. Otomatis kalau ada apa-apa, maka dia juga akan terlibat. Mengingat Jennifer dari keluarga yang sangat disegani.
"Alfred, Alfred. Jangan sampai kamu menyakiti hati Jennifer kalau tidak mau dibunuh oleh keluarga mereka," timpal Abraham.
"Diamlah, Abraham! Kau pun juga sama. Kalau saja aku tidak membantumu, kau tidak akan bisa melihat dunia ini lagi," ketus Alfred.
Abraham tersenyum miring. Alfred tidak tau saja kalau ada kejutan yang menantinya. Yang pasti, Alfred akan menangis meraung-raung.
Kaila datang dengan membawa cemilan untuk teman-teman suaminya. Sekilas dia mendengar bahwa salah satu dari mereka ada yang menyukai Astrid. Kaila menatap Alfred lekat. Hal itu membuat Arzan mendelik.
"Jaga matamu, Sayang," desis Arzan sambil menatap istrinya tajam. Kaila buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Kamu menyukai Mbak Astrid?" tanya Kaila pada Alfred.
"Dia masih single. Kamu ada kesempatan untuk mendekatinya," tambah Kaila.
"Dia udah punya tunangan," sahut Arzan.
Kaila tersenyum kikuk. Namun, dalam hati dia mendengus kesal. Sudah punya tunangan, tapi masih saja melirik yang lain.
"Huh, dasar pria," gumam Kaila yang didengar oleh Alfred.
***
Pagi-pagi buta, ibu dan anak sudah bangun. Si ibu sedang bersih-bersih ruang tamu, sedangkan si anak sibuk dengan mainannya. Berbeda dengan si bapak yang masih bergelung dengan selimut. Padahal, hari ini ia ada kelas pagi.
Selesai membersihkan ruang tamu, Kaila berpindah tempat dengan membawa Charlie serta mainan kesayangannya. Ibu beranak satu itu mengambil sayuran segar dari kulkas. Ia harus lebih dulu menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Tak lama kemudian, muncul Astrid yang langsung membawa alat pel. Mereka saling sapa, lalu melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
Hari ini menu sarapannya tumis brokoli, sop jamur, dan ayam goreng. Cukup simpel. Tak sampai setengah jam, masakan pun matang. Kaila menyajikannya di meja makan, tak lupa menyiapkan bekal untuk suaminya.
"Sayang, bangunin Daddy, yuk," ajak Kaila sembari menggendong Charlie.
"Da-da?" Charlie menatap Mommy-nya dengan mata bulatnya.
"Iya."
Sampai di kamar, Kaila berdecak kesal saat melihat suaminya dengan santainya bermain ponsel sambil tiduran di ranjang. Bukannya, mandi dan siap-siap berangkat kuliah.
"Kak, buruan mandi! Nanti telat ke kampus!" omel Kaila sembari berkacak pinggang. Charlie sudah ia taruh di ranjang dan bayi itu langsung merangkak menghampiri sang Daddy.
"Ndi!" teriak Charlie tepat di telinga Arzan.
Arzan langsung menjauhkan kepalanya. Mengusap-usap telinganya sembari mendengus kesal. Dengan gemas, ia mencubit pipi bayi menggemaskan itu. Seketika mata Charlie langsung berkaca-kaca.
"Heh! Kakak apain anak aku?!" Kaila murka begitu melihat anaknya hendak menangis.
"Orang gak aku apa-apain. Kamu kenapa nangis, Nak? Haus, ya?" balas Arzan sembari menatap Charlie dengan mata melotot.
"Tuh, iya katanya." Kaila memicingkan matanya tak percaya.
"Sini, Sayang. Charlie mau nen, ya?" Kaila membawa Charlie ke gendongannya.
Arzan beranjak dari ranjang. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Arzan mendekati istrinya sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Charlie. Kaila kira, suaminya itu memang ingin mencium Charlie. Tapi---
"HUAAAA!"
Kaila terlonjak kaget. Ia bingung dengan suaminya yang langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian, menatap anaknya. Kaila langsung membulatkan matanya kala melihat bekas gigitan pada pipi gembul anaknya.
"KAKAK! KOK PIPI ANAKNYA DIGIGIT?!"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
KAILA (On Going)
Fiksi RemajaBagaimanakah jika seorang gadis yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku SMA hamil? Apalagi, hamil dengan pria yang selama ini sangat ia takuti. Bukan hanya dia saja yang takut, bahkan seluruh warga sekolah pun juga takut padanya. Dia adalah...
