Karma untuk Orang Egois

1.8K 64 4
                                        

Joey baru hendak pulang saat Daniel masuk ke ruangannya. Sudah beberapa hari dia tidak pulang. Dia bahkan mengabaikan pesan dan telepon dari istrinya.

"Sudah mau pulang?" Daniel menghampiri Joey.

"Iya, kapan datang?"

"Baru saja sampai. Kita perlu bicara."

"Jika ini masalah Egi, aku tak ingin membicarakannya."

"Aku minta maaf atas nama adikku. Semenjak kedua orangtua kami meninggal, tanggung jawab sepenuhnya ada padaku. Maafkan aku, karena tak bisa mendidiknya dengan baik."

"Kau tak perlu meminta maaf, itu bukan salahmu."

"Aku tak bisa menjaga adikku hingga hal ini bisa terjadi."

"Kau mau minum?" Joey membuka kulkas yang ada di ruangannya dan mengambil sekaleng softdrink dan memberikannya pada Daniel.

"Bisakah kau bicarakan ini baik-baik padanya? Selesaikan masalah ini dengan jalan terbaik. Kau tahukan aku percaya padamu. Kau bisa berfikir lebih dewasa daripada dia. Tolong tuntun dia karena kini dia adalah istrimu. Dia selalu mendengarkanmu. Dia memang keras kepala dan ceroboh tapi sebenarnya dia wanita yang baik. "

"Kau akan mengerti jika kau ada di posisiku. Dia mencelakakan orang yang kusayangi. Aku kehilangan wanita itu selamanya. Apa aku harus diam dan menganggap hal itu tak pernah terjadi? Kau sudah tahu bagaimana aku dan aku yakin kau mengerti situasinya saat ini."

"Ya, aku tahu. Hanya satu pintaku padamu. Jika kau mencintainya pertahankan dia. Tapi jika tidak, tolong lepaskan dia. Biar aku yang akan kembali menjaganya." Danielpun pergi meninggalkan Joey tanpa menyentuh minuman yang diberikan Joey. Dia pergi dengan wajah penuh rasa bersalah.

***

Egi tiba di coffee shop tepat waktu. Dia melihat Daniel dan Rita sudah duduk disana menunggunya. Dia berjalan menghampiri kedua kakaknya dengan perasaan yang kacau. Dia duduk disebelah Rita.

"Kau mau pesan apa?" Rita khawatir pada adiknya.

"Jangan selalu memanjakan dia." Daniel mulai bicara. "Inilah akibatnya karena dia terlalu manja dan ceroboh."

"Kak Daniel, jangan bicara begitu." Rita memegang tangan kakaknya mencoba menenangkannya.

"Bukankah memang itu kenyataannya. Coba dari dulu dia mau mendengarkan kita sekali saja, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi!"

Egi diam. Hanya mendengarkan sambil menunduk.

"Kenapa diam? Mana kau yang selalu melawanku? Yang tak pernah mendengarkan kami? Dari dulu kami cerewet itu untuk kebaikanmu. Kami menyayangimu tapi kau tak mengerti. Sekarang ini yang terjadi, apa yang akan kau lakukan? Kau kira ini cerita dongeng yang akhirnya akan selalu berakhir bahagia? Ini dunia nyata, apa yang kau tanam itu pula yang akan kau tuai. Dan inilah hasil dari perbuatanmu terdahulu. Gi, kita tak bisa selalu memaksakan kehendak kita pada orang lain. Dulu kau memaksa Joey untuk mencintaimu, dan sekarang kita lihat. Cinta karena paksaan tak akan bertahan lama. Seharusnya aku melarangmu mendekati dia sejak awal. Bukan karena dia jahat. Tapi karena dia terlalu baik untukmu. Kau yang tidak pantas untuknya." Kata-kata Daniel yang tajam sangat menusuk perasaan Egi. Tapi dia tak marah, dia sadar yang dikatakan kakaknya memang benar. Air matanya menetes.

"Jangan gunakan air mata untuk meluluhkan aku. Lihatlah kelakuan adikmu ini!" Daniel kesal saat melihat Egi menangis dan meminta Rita menasehatinya.

"Kakak yang berlebihan." Rita membela Egi. "Sudahlah Gi. Tak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Sekarang kau tenangkan pikiran. Cobalah berbicara pada Joey. Coba ambil hatinya lagi. Jika dia mencintaimu, kakak yakin dia akan memaafkanmu."

"Kau kira pria yang patah hati bisa kau luluhkan begitu saja? Kalian para wanita memang tak mengerti jika pria sudah terlanjur kecewa."

Karma Rasa CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang