Belum Waktunya...

1.2K 51 0
                                        

Sebulan kemudian Joey dan Egi melangsungkan pernikahan. Semua orang nampak bahagia kecuali Jennie. Jennie memilih mengundurkan diri sebagai sekretaris dan meninggalkan perusahaan Joey karena Joey lebih memilih Egi. Setelah menikah mereka memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan orang tua Joey. Egi ingin tinggal disana karena suasananya lebih nyaman. Pemandangan hijau sangat mudah di dapat. Rumah itu di kelilingi kebun bunga kesayangan Ibu Joey dan Egi ingin merawatnya. Rumah itu tak jauh dari rumah Egi saat masih lajang. Dia tak ingin tinggal jauh dari kakak perempuannya. Terutama karena kakaknya itu masih sendiri, dan merasa khawatir karena kakaknya tinggal di rumah itu sendiri.

Egi sedang menyisir rambutnya saat Joey datang dari kerja. Joey masuk kekamar dan memeluk istrinya.

"Apa aku sudah pernah bilang kau makin cantik?" puji Joey.

"Jangan merayu. Kau sudah mengucapkan itu setiap hari. Setidaknya setelah kita menikah."

"Kenapa kau tak lagi centil seperti dulu?"

"Bukankah kau yang memintaku untuk bisa bersikap dewasa."

"Lupakan aku yang dulu. Aku yang dulu telah salah menilaimu. Aku sudah lama suka padamu, tapi aku..."

"Kau menutup perasaanmu. Kau menolakku masuk. Apa ada orang lain saat itu? Aku yakin itu bukan Jennie."

"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Joey mengalihkan pembicaraan dan mengelus lembut perut Egi yang masih dalam trimester pertama..

"Iya, aku baik-baik saja. Mandilah dulu, aku akan siapkan makan malam."

Joey mencium kening Egi dan Egipun keluar kamar. Saat Joey hendak mengambil pakaian di lemari. Bibi Ratna berteriak memanggil Joey. Joey keluar kamar dan berlari ke arah suara. Dia tak percaya dengan apa dia lihat. Di dapur Egi terduduk di lantai. Wajahnya pucat, Bibi Ratna bersimpuh di samping Egi. "Tolong Joey. Egi terpeleset dan terjatuh."

Joey menghampiri istrinya dan betapa terkejutnya dia saat melihat darah segar mengalir di kaki Egi. "Astaga, kita harus kerumah sakit!" Joey membopong Egi dan segera membawanya kerumah sakit. Egi langsung di larikan ke UGD. Joey tak diizinkan masuk. Dia berdiri di depan ruang UGD dan sangat panik. Jantungnya terasa berhenti berdetak, tangannya dingin mengingat apa yang sedang dialami istri dan calon bayinya. Tak berhentinya dia berdoa agar istri dan calon bayinya baik-baik saja.

Rendra dan Rita menyusul ke rumah sakit. Saat mereka datang, Egi masih dalam penanganan.

"Apa yang terjadi?" Rita panik.

"Aku belum tahu. Bibi bilang Egi terpeleset dan terjatuh."

"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja." Rendra menepuk pundak Joey.

"Ada darah. Di kakinya ada darah." Wajah Joey mampu mewakili rasa takut dan khawatir yang dirasakannya.

Mereka bertiga menunggu di luar dan tak henti berdoa. Joey berjalan mondar-mandir, duduk, berdiri semua cara dilakukannya tapi dia tak bisa merasa nyaman memikirkan keadaan istrinya di dalam sana. Setelah lama menunggu, dokter pun keluar.

"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"

"Keadaan istri anda berangsur membaik. Namun sayang, kita kehilangan calon bayinya. Kami minta maaf, kami sudah berusaha menyelamatkannya. Tetapi benturan yang dialami cukup keras sehingga calon bayi anda tak bisa diselamatkan." Dokter itu menjelaskan pada Joey. Dia menepuk pundak Joey dan berlalu.

Joey masih berdiri kaku. Wajahnya pucat tak percaya dengan apa yang didengarnya. Rita menangis dan Rendra menenangkannya. Dia tak tahu bagaimana harus mengatakannya pada Egi. Dia tak boleh lemah. Dia harus tetap kuat. Dia kepala keluarga dan harus bisa membuat istrinya menerima kenyataan ini. Namun, dibalik rasa sedihnya dia masih bersyukur pada Tuhan karena Egi baik-baik saja. Dia tidak kehilangan wanita yang dicintainya lagi.

Setelah keadaan Egi membaik. Dia dipindahkan ke ruang perawatan. Joey setia menemaninya. Saat Egi membuka mata, Joey ada disisinya. Tak hanya Joey, Rendra dan Rita juga ada di sana.

"Dimana ini?" tanya Egi pada Joey.

"Rumah sakit, sayang." Joey menjawab dan membelai rambut istrinya. "Bagaimana keadaanmu?"

"Aku...apa yang terjadi? Bagaimana keadaan calon bayi kita? Dia baik-baik sajakan Joey?"

Joey menggenggam tangan Egi. "Mungkin belum saatnya," jawab Joey sambil tersenyum, menutupi rasa sedihnya. "Tuhan punya cerita lain untuk hidup kita."

Mendengar kata-kata Joey. Egi menyentuh perutnya dan mulai menangis. Dia mengerti apa maksud Joey. Joey mencium kening Egi dan memeluknya. "Semuanya akan baik-baik saja. Kau akan hamil lagi. Kita pasti akan memilikinya." Joey tersenyum melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata Egi.

"Joey benar, kau harus kuat." Rita menghibur adiknya.

"Joey itu pria hebat, dia pasti bisa mengahamilimu dengan cepat!" Rendra mencoba mencairkan suasana. Tapi Rita malah memukul lengannya. 

Karma Rasa CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang