APAKAH KAU BENAR-BENAR MENCINTAINYA?

1.4K 62 0
                                        


Selama diperjalan pulang Egi terus saja menggerutu karena kesal. "Apa maksudnya melakukan itu. Dia benar-benar tahu bagaimana caranya membuat aku kesal. Awas saja, suatu saat pasti akan kubalas." Dikejauhan dia melihat mobil Rendra melaju memasuki areal apartemen Joey. Tak berapa lama Rendra menghampiri Egi yang berdiri di depan pintu keluar gedung apartemen.

"Cemberut terus. Dia membuatmu kesal lagi?"

"Tak usah ditanyakan lagi." Egi melipat kedua tangannya di dada, dia masih sangat kesal.

Rendra tersenyum. "Sudahlah, dia memang suka bercanda. Dia senang mengerjaimu jadi tak usah diambil hati. Kekesalanmu malah jadi sumber kesenangan baginya."

"Tapi bercandanya tidak lucu. Dia itu seperti ... seperti lampu lalu lintas. Kadang merah, kadang kuning dan kadang hijau. Sifatnya berubah setiap beberapa menit, baik, perhatian dan kini menyebalkan. Ah sudah aku tak ingin membahasnya lagi. Aku pulang ya." Egi hendak beranjak pergi tapi Rendra menghentikannya.

"Tunggu, biar aku antar."

"Tidak usah, aku pulang sendiri saja."

"Ayolah, biar aku antar. Aku bosan jika hanya mengobrol dengan Joey, sekali-kali aku perlu mengobrol denganmu."

Setelah Rendra terus membujuknya. Egi pun mau diantar Rendra pulang.

"Kau benar-benar mencintainya?" Rendra membuka pembicaraan saat mereka sudah ada di dalam mobil menuju rumah Egi.

"Dulu dia baik."

"Dulu? kalau sekarang?"

"Dia benar-benar jahat. Dia tidak mau mencoba mengerti perasaanku."

"Kenapa tak cari pria lain saja?"

"Tidak bisa. Aku.... Kenapa kalian berdua sama saja. Dia juga memintaku mencari pria lain."

"Situasi ini benar-benar rumit. Jika aku jadi Joey mungkin aku akan melakukan hal yang sama padamu."

"Benarkah? Kenapa?"

"Iya, kau tidak bisa memaksakan perasaanmu pada orang lain. Kau suka belum tentu orang lain harus suka kan? Bagaimana jika dirimu yang ada diposisinya? Apa kau akan menerima setiap pria yang suka padamu?"

Egi tak menjawab. Dia hanya memandang jalanan yang ada di depannya tanpa berkomentar.

"Aku mengerti perasaanmu. Joey pun begitu, dia sangat mengerti. Itulah sebabnya dia tidak bersikap keras padamu. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Ini masalah perasaan yang tak bisa dipaksakan."

"Iya, aku tahu. Aku juga sudah lama memikirkan hal ini. Tapi aku tak mengerti, aku tak bisa jauh darinya. Dia selalu bilang tak percaya pada cinta. Aku tak mengerti kenapa dia berkata seperti itu."

"Benarkah? Mungkin dia memang belum bisa membuka hatinya untuk orang lain."

"Apa maksudmu?" Egi penasaran dengan jawaban Rendra.

Rendra menyadari dia salah bicara. Bukan haknya membicarakan masalah Joey. "Bukan itu maksudku, maksudku mungkin karena kau belum membuka hatimu untuk orang lain, makanya kau tak bisa jauh darinya. Kenapa tak kau coba?"

Egi masih memandangi jalanan aspal yang dilewati dengan cepat oleh mobil Rendra dan kembali terdiam.

"Bagaimana jika aku bantu?" Rendra menawarkan bantuan.

"Bantu apa?" Egi mengalihkan pandangannya dari jalanan ke Rendra yang sedang mengemudi.

"Aku bantu kau menemukan pria lain. Perjodohan. Bagaimana? Aku punya banyak teman yang jauh lebih tampan dan baik dari pada Joey." Rendra berbicara dengan suara pelan hingga seolah berbisik.

"Ah, tidak terima kasih. Aku tidak berminat." Egi kembali memandangi jalanan.

"Ayolah, aku carikan pria yang lebih baik."

"Kenapa kau begitu bersemangat mencarikanku pria lain?"

"Aku melakukannya karena aku tidak bisa melihatmu terus begini. Kita juga sudah berteman lama."

"Apa Joey yang menyuruhmu?" Egi curiga.

"Tidak...tentu saja tidak. Joey tak tahu apa-apa tentang ini."

"Benarkah? Aku mencium bau kebohongan disini?"

"Tidak...kau salah paham." Rendra tersenyum menyembunyikan kepanikannya.

"Sudahlah, aku tahu kau dan Joey bersekongkol untuk menyingkarkan aku." Egi makin kesal " Ah sudah, turunkan aku disini!"

"Apa?"

"Cepat hentikan mobilnya atau aku akan melompat."

"Aku tahu kau bukan orang bodoh yang akan melompat dari mobil yang sedang melaju."

"Apa? Kalau begitu aku akan berteriak" Egi mengancam Rendra karena tidak mau menghentikan mobil.

"Tidak ada yang akan mendengar. Jangan keras kepala, aku akan mengantarmu pulang."

"Aku tidak mau, cepat turunkan aku."

"Tidak bisa, Joey memintaku mengantarmu sampai dirumah." Rendra keceplosan, dia menutup mulut dengan tangannya.

"Jadi, benar kalian bersekongkol? cepat turunkan aku atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidup."

"Kenapa kau begitu keras kepala. Bersikaplah lebih dewasa."

"Apa dia akan menyukaiku jika aku bersikap dewasa? Walau hanya sedikit. Tidak bisakah dia menyukaiku walau sedikit." Suaranya memelan menunjukkan kesedihannya. Egi menunduk mencoba membendung air matanya agar tidak menetes.

Melihat ekspresi Egi, Rendra tidak bisa berkata apa-apa.

"Baiklah, kenalkan aku dengan seseorang." Pinta Egi.

"Benarkah? Kau mau?" Rendra terkejut namun lega.

"Iya." Dia mengangguk pelan. Mencoba menyembunyikan kesedihannya dengan tersenyum.

"Aku akan carikan yang terbaik dari yang terbaik. Kau ingin pria seperti apa? Akan kucarikan yang lebih baik dari Joey. Ayo katakan yang seperti apa?"

"Sopan." Kriteria pertama yang diucapkan Egi

"Gampang." jawab Rendra

"Ramah."

"Ada." Jawabnya lagi. "Apa lagi? Tinggal sebut."

"Pekerja keras."

"Kecil." Rendra menjentikkan jarinya.

"Pastikan masih bernafas."

"Tentu saja. Aku tidak mungkin mencarikanmu batu." Rendra tertawa.

"Joey mirip batu." Egi tersenyum.

"Haha...itu benar. Terkadang dia keras seperti batu. Terutama masalah prinsip." Rendra bukannya membela Joey tapi malah ikut mengata-ngatainya.

"Wajahnya akan terlihat kaku dan memerah jika dia marah. Benar-benar menyeramkan." Egi mencoba mengingat ekspresi Joey ketika marah padanya. Joey selalu marah padanya, entah sudah berapa kali.

"Haha...itu juga benar. Seolah-olah kepalanya akan meledak. Duuuarr...." Rendra menimpali.

Merekatertawa sepanjang perjalanan. Setidaknya tawa itu membuat Egi lupa akan kegundahan hatinya walau hanya sementara.    

Karma Rasa CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang