"Hari ini cuaca di luar sangat cerah, tetapi entah kenapa di dalam ruangan ini malah sebaliknya." Rendra memecah keheningan ruang kerja Joey dengan muncul tiba-tiba tanpa mengetuk pintu.
"Tak bisakah kau ketuk pintu dulu sebelum masuk? Kau selalu saja mengagetkanku dengan muncul tiba-tiba." Kedatangan Rendra yang mengagetkan, membuyarkan konsentrasinya.
"Sejak kapan kau begitu sensitif?"
"Ini bukan sensitif tapi profesionalitas dalam kerja."
"Kau tidak benar-benar sedang bekerja. Matamu memang menatap laptop tetapi pikiranmu melayang entah kemana." Sindir Rendra yang saat itu memperhatikan Joey yang hanya bengong menatap layar laptopnya.
"Ada apa? Kau menghilang dari pagi dan baru masuk kerja saat tengah hari". Mengalihkan pandangannya dari Laptop lalu memandang Rendra yang baru datang ke kantor.
"Maaf, ada urusan yang harus kuselesaikan" Rendra berdiri di samping jendela dan menatap keluar. "Apa kau tidak ingin menikah?"
Joey tertawa. "Kurasa kau sedang sakit? Kau terlambat kerja dan kau datang dengan pertanyaan aneh seperti itu."
"Apalagi yang kau cari? Rupawan, Mapan, kau punya segalanya. Kenapa tidak kau cari seseorang lalu menikah."
"Menikah tidak semudah itu, kenapa tidak kau saja yang menikah duluan. Kau lebih tua dariku. Apa kau mau jadi bujangan terus?"
Rendra tidak menjawab. Dia terdiam dan berkata dalam hati. Aku akan menikah jika kau telah menikah.
"Ah sudahlah, aku masih menikmati masa lajangku. Ini lebih menyenangkan." Joey melanjutkan pekerjaan mengecek beberapa berkas.
"Jika kau harus memilih. Siapa yang akan kau pilih? Jennie atau Egi?"
Joey berfikir sejenak, lalu menjawab. "Jennie"
"Kenapa?"
Joey mengalihkan diri dari pekerjaannya. Beranjak dari tempat duduknya, lalu duduk di sofa yang lebih nyaman. "Hmm...Jennie dewasa, dia sexy...." Joey tertawa.
"Dewasa tidak menjamin kebaikan hati seseorang."
"Selama kami kenal, aku tidak pernah melihat sisi buruknya. Mungkin memang tak ada sisi buruknya. Dia rajin, pekerja keras..."
Rendra tersenyum. "Tak ada sisi buruk atau berhasil menyembunyikan sisi buruk. Bukankah Egi juga gadis yang baik?"
"Saat ini, ku tidak ingin membicarakannya." Wajah Joey kembali muram saat mendengar nama itu terus di sebut.
"Ada apa? Kalian masih bertengkar?"
"Bukan aku yang memulainya. Dia yang salah entah kenapa malah aku yang merasa bersalah. Aku coba meminta maaf ke rumahnya, tapi dia malah membanting pintu di depan wajahku." Ceritanya penuh amarah. "Dia bilang akan melupakanku. Ya sudah, silahkan lakukan. Tidak ada ruginya bagiku."
"Kau kelihatan benar-benar marah. Bukankah harusnya kau merasa senang? Apa kini kau baru menyadari bahwa kau membutuhkannya?"
"Jangan bercanda. Aku baik-baik saja tanpa dia."
"Benarkah? Suasana kantor beberapa waktu terakhir ini menjadi mencekam. Moodmu mudah berubah. Kau tidak konsentrasi, mudah marah dan tersinggung. Bukankah ..."
"Semua itu tidak ada hubungannya dengan dia." Joey memotong pembicaraan Rendra sebelum dia menyelesaikannya. "Jangan ikut campur lebih jauh lagi. Aku baik-baik saja tanpa dia."
"Baiklah." Rendra lalu berjalan menuju pintu keluar. Namun sebelum keluar, dia mengatakan sesuatu pada Joey. "Putih tidak selamanya berarti bersih dan hitam tidak selamanya berarti kotor" dia pun menutup pintu dan pergi.
Joey mencoba meresapi kata-kata Rendra. Dia masih memandang pintu tempat Rendra keluar. "Apa....hitam putih...apa yang dia katakan?"
Kata-kata itu masih terendap dalam pikiran Joey. Ketika hendak pulang dia menyempatkan diri ke ruangan kerja sahabatnya itu. Tetapi, salah satu karyawan mengatakan Rendra sudah pergi sekitar1 jam yang lalu. Joey merasa curiga. Karena tidak biasanya Rendra pulang lebih awal tanpa mengabarinya.
"Apa dia bilang mau kemana?" Tanya Joey pada sekretaris Rendra.
"Tidak, Pak. Pak Rendra nampak terburu-buru. Kalau saya tidak salah dengar. Dia pergi setelah menelpon seseorang dan menyebut rumah sakit."
"Rumah sakit? Kau yakin?"
"Iya pak."
"Baiklah terima kasih."
Sekretaris Rendra lalu pergi, sementara Joey masih berdiri di depan ruangan Rendra. Dia menghubungi Rendra, karena khawatir terjadi sesuatu. Tapi Rendra yang saat itu mengangkat telpon mengatakan dia baik-baik saja.
***
"Sudah kubilang. Aku akan menjemputmu. Kenapa kau pulang sendiri?"
"Aku tidak apa-apa. Dokter juga bilang begitu. Kau kan sedang kerja, aku sudah merepotkanmu tadi pagi."
"Kau yakin?" Rendra mendekati Egi yang saat itu sedang menyiram kebun bunga kesayangannya.
"Iya." Jawab Egi singkat dan tetap sibuk menyiram dan merawat bunganya.
"Kau baru saja keluar dari rumah sakit, kenapa malah menyiram kebun, bukannya beristirahat?"
"Mereka bisa layu jika tidak disiram dengan teratur. Aku tidak mau mereka layu."
"Bisakah kau melupakan Joey?" Rendra berdiri dibelakang Egi dan membicarakan kehamilan Egi lagi.
Egi terdiam.
"Aku mengerti, kau dalam situasi yang sulit. Melihat pertengkaran kalian saat ini, Joey tidak mungkin mau mengakui anak itu. Bahkan, dia tidak ingat dengan apa yang telah dilakukannya. Jikapun dia mau bertanggung jawab, apakah kau mau menikah dengannya bukan karena cinta?"
"Saat itu...dia mabuk berat. Aku....aku tidak ingin mengingatnya lagi." Egi membalikkan badannya. Sehingga dia dan Rendra berhadapan.
"Ini rumit. Seperti yang aku katakan tadi pagi. Biar aku yang bertanggung jawab."
"Tidak Rendra, itu tidak mungkin. Bagaimana kau mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan perbuatanmu?"
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Menunggu hingga Joey mengingat sesuatu? Membiarkan anakmu lahir tanpa ayah?"
Egi terdiam lagi. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia menjadi sangat cengeng. Suasana benar-benar sepi yang terdengar kini hanya tangis terisak Egi.
"Lupakan dia dan menikahlah denganku". Rendra mengusap air mata Egi.
Egi terkejut dan mundur. "Kenapa kau lakukan ini? kenapa?"
"Aku berhutang budi padanya. Sampai matipun tidak akan bisa aku balaskan. Lima belas tahun yang lalu. Rumahku terbakar. Kejadian itu merenggut nyawa keluargaku. Aku sebatangkara, yang tersisa hanya pakaian yang menempel di tubuhku. Keluarga Joey mengadopsiku. Mereka merawatku seperti anaknya sendiri. Joey, Joey tidak pernah menganggapku sebagai orang lain. Dia memberikanku segalanya. Hingga kedua orangtuanya meninggal, dia tetap menganggapku saudara, walau kami tak ada hubungan darah. Di mataku, Joey dan keluarganya seperti penyelamat yang dikirimkan Tuhan untukku. Hingga kini, dia masih mempercayaiku. Jika bukan karena kebaikannya, aku takkan bisa hidup seperti ini. Dia pria yang baik. Aku tidak heran jika banyak wanita menginginkannya. Aku tidak bisa memaksanya untuk bersamamu. Maafkan aku. Untuk itu, izinkan aku mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia sudah terlalu banyak berkorban untukku. Izinkan aku membalas kebaikannya walau sedikit. Tolong lupakan dia! Jika kau benar-benar mencintainya tolong lupakanlah dia dan menikahlah denganku."
"Aku tidak bisa." Egi menunduk.
"Kau tidak punya pilihan lain. Tak bisakah sekali saja kau tidak egois? Kali ini saja jangan memikirkan kebahagiaanmu seorang. Jika kau memaksa Joey bertanggung jawab saat ini. Pernikahan kalian takkan bertahan lama karena Joey tidak pernah mencintaimu."
Egi tak bisa berkata lagi. Air mata mewakili rasa pahitnya.
"Lakukan ini demi bayimu, demi kakakmu, keluargamu. Mereka pasti tidak ingin kau menahan beban ini sendiri. Sekali ini saja." Pinta Rendra lagi. "Lupakan Joey dan menikahlah denganku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Rasa Cinta
RomanceEgi, seorang gadis cantik yang egois bertahan mencintai Joey yang jelas tidak mencintainya. Benarkah dia tidak mencintainya? Ataukah dia hanya tidak menyadari cinta itu karena masih terikat akan masa lalunya? Ketika satu persatu kebenaran terungka...
