Joey tiba di apartementnya dengan rasa kesal makin memuncak. "Bagaimana dia bisa mengatakan itu bukan urusanku. Tentu saja itu urusanku. Astaga, ini benar-benar membuatku gila." Joey membaringkan diri di sofa ruang tamunya. Joey melempar bantal dan tidak sengaja mengenai vas bunga sehingga terjatuh dan pecah. Joey tidak membereskannya, dia hanya memandang vas itu dari tempatnya berbaring. Vas itu hancur seperti hatinya saat ini. Tak lama Bibi Suci datang menghampiri Joey.
"Ada masalah apa?" tanya Bibi Suci.
"Dia benar-benar bodoh, dia meninggalkanku hanya karena salah paham. Bagaimana mungkin, dia selalu mengatakan menyukaiku selama lima tahun tetapi dia tidak mengerti aku."
"Itulah alasannya kenapa perasaan harus dinyatakan. Kau hanya diam, memperlakukannya dengan buruk. Tentu saja, cepat atau lambat dia pasti akan pergi."
"Aku tidak bermaksud memperlakukannya dengan buruk. Aku hanya ingin dia berubah, sehingga aku benar-benar yakin dia wanita yang tepat."
"Masih ada waktu, katakan saja perasaanmu."
"Sudah terlambat."
"Kenapa?
"Dia akan menikah."
"Benarkah?"
"Iya, seminggu lagi. Parahnya dia menikah dengan Rendra."
Bibi Suci nampak tidak terkejut. Sepertinya dia tahu sesuatu. "Tapi mereka belum menikahkan? Baru hanya akan menikah, jadi kau masih punya kesempatan."
"Merebut calon istri sahabatku, itu tak mungkin. Lagipula dia sedang mengandung anaknya."
"Bagaimana kau tahu dia mengandung?"
"Bukan hal sulit untuk menyelidiki itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
"Tidaak pernah ada kata terlambat jika kau yakin cinta itu ada." Bibi Suci tersenyum. "Ini." Bibi Suci menyerahkan sebuah gelang pada Joey.
"Ini gelang Egi, kenapa ada pada bibi?"
"Bibi menemukannya di bawah tempat tidurmu saat membersihkanya beberapa waktu yang lalu. Tetapi, bibi selalu lupa memberikannya padamu."
"Ini gelang kesayangannya, dia selalu panik jika hilang. Kenapa ada disini?"
"Bibi tidak tahu, tapi bibi sempat mengobrol dengan security dibawah yang mengatakan kau mabuk lagi."
"Hanya sekali beberapa minggu yang lalu. Kebetulan ada teman mengadakan pesta. Selain itu, aku tidak pernah minum hingga mabuk lagi."
"Bibi harap kau tidak seperti itu lagi. Malam itu Egi disinikan? Mungkin saat itu gelangnya tertinggal. Mungkin kalian melakukan sesuatu sehingga gelangnya bisa ada di bawah tempat tidur," kata bibi sambil tersenyum mengoda Joey. Sambil mulai membersihkan pecahan vas.
"Melakukan sesuatu apa? Kami tidak pernah melakukannya, dia bahkan tidak pernah masuk ke kamarku. Saat aku mabuk.....aku tidak ingat. Kenapa dia ada disini?" Joey benar-benar tidak ingat apa yang terjadi malam itu.
"Security bilang Egi tidak sengaja lewat sini, dia melihatmu mabuk. Dengan bantuan security dia mengantarmu ke kamar."
"Benarkah? Aku benar-benar tidak ingat. Yang aku tahu saat aku bangun, aku .....melihat Jennie duduk disofa kamar. Dia menanyakan...." Joey mencoba mengingat apa yang terjadi. Jennie menanyakan hal-hal aneh seolah-olah telah terjadi sesuatu yang tidak bisa diingatnya.
"Mungkin Egi pergi setelah Jennie datang. kenapa tidak tanyakan langsung pada Jennie. Kau bisa mendapatkan informasi darinya."
Joey memutar otak, berfikir dan mulai mengaitkan apa yang sebenarnya terjadi. dia mabuk, Egi ada di sana, sifat Egi yang mulai berubah semenjak malam itu, dan yang paling membuatnya gila adalah rencana pernikahan Rendra dan Egi.
"Jangan-jangan..dia."
***
Joey mengikuti nasehat Bibi Suci untuk menanyakan apa yang terjadi malam itu. Joey menemui Jennie dirumahnya. Jennie sangat senang Joey datang berkunjung. Dia mempersilahkan Joey duduk di ruang tamunya. Dia juga meminta asisten rumah tangganya membuatkan minuman untuk Joey, sementara dia berjalan terburu-buru memasuki kamarnya. Lagi-lagi merapikan dandanannya agar tetap menarik di hadapan Joey.
Beberapa menit kemudian Jennie muncul. Sementara Joey masih duduk memandang ikan-ikan di akuarium Jennie. Minuman yang dibuat asisten Jennie bahkan tidak disentuhnya.
"Maaf, lama menunggu ya." Jennie duduk disamping Joey. Joey melirik sebentar pada Jennie dan kembali memandang akuarium, sepertinya itu lebih menarik perhatiannya. "Oh ya, kau dengar gosip baru? Ternyata Egi pacaran sama Rendra. Aku sudah lama curiga pada mereka. Dasar aneh, ternyata karena tidak berhasil mendapatkanmu dia menggaet sahabatmu. Tapi menurutku mereka telah lama bersekongkol. Sepertinya mereka sudah lama pacaran, Rendra menggunakan Egi untuk menggaetmu dan mencari hartamu." Jennie bercerita panjang lebar tentang prasangka yang Joey tidak mengerti mana pangkal dan mana ujung pembicaraannya. Penjelasan itu berlalu melintasi telinganya tapi tidak satupun yang dimengerti dan ingin dimengertinya.
"Malam itu, apa yang kau lakukkan di apartementku?"
"Malam? Malam apa maksudmu, aku tak mengerti." Jennie pura-pura tidak tahu. Itu hal yang paling ditakutinya akan ditanyakan oleh Joey.
"Jawab saja, jangan pura-pura tidak mengerti. Kenapa kau bisa ada di apartementku? Kenapa kau menanyakan hal aneh padaku?"
"Oh...aku, aku tidak sengaja lewat. Kau mabuk berat, jadi aku menjagamu di sana."
"Benarkah?" Joey tidak percaya. Kali ini Joey memandang Jennie. "Kau bohong." Joey berbisik. Tapi bisikan itu membuat Jennie tidak berkutik. Dia takut, tidak bisa menutupi kebohongannya."Pagi hari saat aku bangun, kau menanyakan hal aneh padaku seolah-olah telah terjadi sesuatu dan kau ingin aku tidak mengetahuinya. "Jawab!" suara Joey meninggi.
"Itu....benar-benar tidak terjadi apa-apa," Jennie menjawab dengan terbata-bata.
Joey menggeleng-gelengkan kepalanya tanda kecewa. "Aku tidak menyangka kau berbohong padaku. Katakan sebenarnya!" bentak Joey sambil mencengkeram lengan Jennie. "Kau tahu? Aku muak dengan kebohongan dan topeng manismu. Aku hanya perlu satu penjelasan. Apa yang sebenarnya terjadi?" Suara Joey melemah, namun ada ketegasan di dalamnya. Joey masih mencengkram lengan Jennie.
"Egi yang menelponku." Akhirnya Jennie berbicara. "Dia menelponku untuk memberi tahu keadaanmu yang mabuk berat. Saat itu, dia mengira kita pacaran. Saat aku sampai di apartementmu..." Jennie tidak ingin mengatakannya, tetapi Joey tetap memaksanya bicara. "Saat itu aku melihat apartrmenmu sudah kacau, gelas, dan beberapa vas pecah. Saat aku masuk ke kamarmu. Aku sudah melihat kau tidak sadarkan diri. Egi memukul kepalamu dengan asbak sepertinya itu membuatmu pingsan."
"Dia memukulku?"
"Setidaknya itu yang aku lihat. Kau...."
"Aku apa?" tanya Joey mencengkeram tangan Jennie lebih erat.
"Karena saking mabuk berat, kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan. Kau...kau menodainya," jelas Jennie gemetaran.
Joey tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Entah apalagi yang dirasakannya. Semua rasa sakit, kecewa, sedih dan marah menyelimuti hatinya. Sakit, kecewa, sedih dan marah bukan karena orang lain. Tapi karena kesalahannya. Perlahan Joey melepaskan cengkramannya di lengan Jennie dan bangkit.
"Janganpernah kau bicara hal buruk tentang sahabatku lagi!" Joey memperingatkan Jenniedan dia pun pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Rasa Cinta
RomanceEgi, seorang gadis cantik yang egois bertahan mencintai Joey yang jelas tidak mencintainya. Benarkah dia tidak mencintainya? Ataukah dia hanya tidak menyadari cinta itu karena masih terikat akan masa lalunya? Ketika satu persatu kebenaran terungka...
