Kehilangan Lagi

3.4K 84 3
                                        

Belum jam pulang tapi Rendra izin pulang lebih awal pada Joey. Gelagat Rendra sangat mencurigakan saat itu. Sehingga, Joey memutuskan untuk membuntutinya. Dia bahkan tak menghiraukan saat Sandra bertanya dia akan kemana. Tak ada wanita lain dipikirannya. Yang ada kini hanya istrinya. Joey membuntuti Rendra sampai di rumah sakit tempat dia di rawat kemarin. Rendra sudah tahu Joey membuntutinya jadi dia berjalan pelan agar Joey tak kehilangan jejaknya.

"Rumah sakit? Kenapa dia ke rumah sakit?" Joey bertanya sendiri. Dia terus membuntuti Rendra masuk ke rumah sakit. Di sana dia juga melihat Rita. Rendra menghampirinya dan memeluk Rita yang menangis. "Ada apa ini?" pikirnya. "Siapa yang sakit?" Perasaan tak enaknya kembali muncul. "Tidak!" Joey tak bisa menghentikan langkahnya saat memikirkan bahwa telah terjadi hal buruk pada istrinya. Dia segera menyusul Rendra dan Rita masuk ke sebuah ruangan. Saat membuka pintu dan melihat ke dalam. Kakinya lemas, jantungnya seakan berhenti berdetak. Air matanya menetes begitu saja melihat istrinya terbaring disana. Rita terkejut melihat kedatangan Joey. Sedangkan Rendra pura-pura terkejut.

Joey mendekati istrinya perlahan, kakinya melangkah dengan berat. Bagaimana tidak, istrinya terbaring tak berdaya. Selang infus terpasang di tangan kanannya dan alat bantu pernapasan menjadi penopang istrinya bernafas. Luka ditubuhnya menunjukkan betapa parahnya kondisinya saat ini. Joey membelai lembut pipi Egi. Dia mencium lembut kening Egi. Joey berbisik di telinga Egi, "Apa yang terjadi padamu? Aku mencarimu kemana-mana. Sayang, bangunlah, jelaskan padaku apa yang terjadi." Joey memeluk tubuh istrinya yang tampak tak berdaya dan tak henti ia mencium pipinya berharap Egi akan tersadar. Dia tak menghiraukan sakit di tangan kanannya karena dia memaksakan untuk menggerakkannya.

"Tabahkan hatimu. Dia sedang koma. Maafkan kami yang tak menceritakannya padamu." Daniel yang baru saja masuk menepuk pelan pundak Joey. Dia merasa bersalah melihat Joey begitu sedih. Joey mengepalkan tangan kirinya karena kesal. Di berbalik dan memukul wajah Daniel. Daniel yang tak siap menerima pukulan itu terjatuh. Tapi dia tak marah, ia pantas mendapatkannya.

"Itu maaf dariku," kata Joey.

"Itu pasti sakit." Celetuk Rendra dan membantu Daniel berdiri.

Joey menarik kursi agar bisa lebih dekat dengan Egi. Dia menggenggam tangan Egi dan menciumnya. Rendra, Daniel dan Rita keluar dan memberikan waktu untuk Joey bersama Egi.

"Bangun sayang. Aku disini, aku yakin kau mendengarku. Cepatlah sadar dan aku berjanji takkan menyakitimu lagi. Maafkan aku, akulah yang selama ini egois. Aku mohon padamu, bangunlah. Ada banyak hal yang belum kita lakukan. Aku janji, apapun yang kau inginkan. Semasih aku bisa, aku akan menurutinya. Bangunlah, kumohon!"

Egi sama sekali tak merespon. Dia masih tak sadarkan diri.

Beberapa hari berlalu, tak ada perubahan yang berarti. Namun, Joey tetap setia menemaninya di rumah sakit. Untuk sementara, urusan kantor Rendra yang mengurusnya.

***

"Ayo makan dulu. Kau juga perlu istirahat. Jangan terlalu memaksakan diri." Rendra datang membawakan Joey makanan.

"Nanti saja."

"Ayolah. Egi akan sangat sedih jika kau seperti ini."

"Aku tak mau kehilangan dia."

"Iya, aku tahu. Kau sangat mencintainya dan kita semua juga tak ingin kehilangan dia. Kita semua menyayanginya."

Joey tertunduk dan merasakan keanehan saat dia merasakan jari Egi yang digenggamnya mulai bergerak. Joey diam dan terus memperhatikan. Jari Egi memang mulai bergerak dan matanya mulai terbuka.

"Joey lihat. Egi sadar." Rendra yang menyadari itu terlihat senang.

"Sayang, kau dengar aku? Ini aku, sayang kau bisa mendengarku?"

"Jo..ey." Egi mulai bicara terbata-bata.

"Iya, aku disini." Joey menggenggam erat tangan Egi.

"Lukamu, bagaimana lukamu?" Egi ingat Joey mengalami kecelakaan.

"Lukaku sudah tak apa. Kau lihat? Sudah membaik." Joey memperlihatkan tangan kanannya.

"Syukurlah kau tak apa. Maafkan aku."

"Sstt, kau istirahatlah. Aku yang seharusnya minta maaf, bukan kau. Aku terlalu bersalah padamu. Kau mau memaafkanku, sayang?"

Egi mengangguk pelan."Apa kau masih mencintaiku?"

"Tentu saja. Aku masih mencintaimu dan selamanya akan tetap begitu. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Tapi aku terlalu bodoh untuk mengakuinya. Maafkan aku."

Egi tersenyum. Egi lalu mengalihkan pandangannya pada Rendra.

"Tetaplah jadi saudara terbaiknya dan jaga dia untukku."

"Jangan bicara seperti itu," ucap Rendra. "Kau yang harusnya menjaganya bukan aku."

"Sudah Sayang, jangan bicara seperti itu. Kita akan tetap bersama. Percayalah padaku semuanya akan baik-baik saja." Joey merasakan Egi menggenggam tangannya dengan sangat Erat.

"Biar aku panggilkan dokter." Rendra hendak keluar saat Joey tiba-tiba panik.

"Gi, Egi bangun. Sayang, kau dengar aku? Sayang? Jangan sayang, kumohon jangan tinggalkan aku. Egi!" Joey berteriak, mencoba menyadarkan Egi kembali tapi dia terlambat. Egi sudah melepaskan genggaman tangannya. Matanya terpejam dan tak lagi bernafas. Joey merasakan dunianya runtuh, dia kehilangan orang yang disayanginya lagi. Air matanya mengalir tak bisa tertahan. Dia terus mencoba membangunkan Egi tapi sudah tak berhasil.

Rendra ikut tercengang. Dia juga merasakan kesedihan. Air mata juga tak kuasa dibendungnya. Dia menarik Joey dan mencoba menenangkannya. Saat itu juga, Daniel dan Rita masuk karena mendengar teriakan Joey. Mereka terlambat. Rita yang tak kuasa menahan sedih karena kehilangan adiknya untuk selamanya pun pingsan. Daniel langsung menangkap dan membaringkannya di sofa. Daniel mencoba tegar walau tak bisa menahan air matanya. Penyesalan menyelimutinya. Dia gagal, dia gagal menjaga adik bungsunya. Suasana duka memenuhi ruangan. Joey masih tak bisa menerima kenyataan ini. Dia melepaskan pegangan Rendra. Dia kembali mendekati tubuh Egi dan memeluknya. Penyesalan tiada tara dirasakannya. Dia telah menyianyiakannya dan kini Egi telah pergi untuk selamanya. Takkan ada lagi senyumnya, tak ada lagi tawanya. Semua kenangan Egi melekat diingatannya.

Karma Rasa CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang