Keesokan harinya Joey bergegas ke kantor. Mencari sesuatu di dalam laci kantornya. Ia menemukannya. Amplop yang diberikan Rendra padanya beberapa hari yang lalu. Joey membuka amplop itu, melihat isinya dan dia merasakan serangan sakit untuk kesekian kalinya. Itu kartu undangan pernikahan Rendra dan Egi. Nafasnya seakan sesak, amarah menyelimuti dadanya. Dia membawa undangan itu. Melajukan mobilnya ke rumah Rendra.
Hari itu Rendra memang meminta libur jadi dia tidak pergi ke kantor. Tanpa basa basi Joey melempar undangan itu ke meja Rendra yang saat itu tengah duduk di ruang bacanya.
"Apa ini?" Joey bertanya dengan perasaan yang benar-benar kesal.
"Undangan pernikahan kami. Aku yakin kau sudah membacanya," jawab Rendra dengan santai.
"Apa? Berhenti mempermaikanku!" bentak Joey. "Bagaimana kau bisa menikah dengannya? Apa tidak ada wanita lain yang bisa kau pilih?"
"Apa masalahmu? Kami akan menikah, seharusnya kau senang. Kenapa kau marah, bukannya kau memang tidak ada perasaan padanya? Apa aku harus meminta izin padamu hanya untuk menikah?"
Joey tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Rendra. "Apa kau sudah tidak waras? Apa kau sudah memikirkan apa yang kau lakukan? Kalian baru dekat bagaimana mungkin menikah secepat itu!" Joey mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal pada Rendra. Tapi dia tidak berhasil. Dia bahkan tak tahu apa yang dia bicarakan saat itu.
"Bukankah kau yang meminta aku menyingkirkan dia dari hidupmu? aku melakukannya." Rendra menjawab tanpa memandang Joey. Dia memilih tetap memandang buku yang tadi dibacanya.
"Tapi bukan dengan menikahinya! Batalkan rencana pernikahan itu! Aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal sebodoh ini!" Joey kembali membentak Rendra.
"Aku tidak bisa," jawab Rendra dengan singkat dan nada tidak bersalah.
"Apa?" Joey makin marah dengan jawaban Rendra. Dia kembali mengepalkan tangannya menahan amarah. Ingin rasanya dia memukul Rendra dan membuat Rendra sadar akan keputusan yang dilakukannya.
"Aku tidak bisa, aku tidak mau membatalkannya. Dia wanita yang baik. Kenapa aku harus melepaskannya hanya demi memenuhi egomu?"
"Kau...Aku bilang batalkan pernikahan itu atau jangan pernah anggap aku sebagai saudaramu lagi!" ancam Joey.
"Ancamanmu tak berlaku." Kali ini Rendra berdiri dan berjalan mendekati Joey. "Aku mencintainya. Aku akan membuat dia melupakanmu selamanya," bisik Rendra lalu tersenyum licik.
"Kau ini...." Joey meraih kerah kemeja Rendra. Kali ini Joey benar-benar marah. Entah apa yang merasukinya. Dia memukul Rendra hingga terjatuh. "Sekali lagi aku katakan. Batalkan pernikahan itu atau persaudaraan kita berakhir!" Dengan penuh amarah Joey meninggalkan Rendra yang masih terduduk di lantai. Melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan rumah Rendra. Pikirannya benar-benar kalut. Saat dia sadar bahwa dia kehilangan Egi, saat dia sadar bahwa dia mencintainya, dia harus menerima kenyataan bahwa Egi akan menikah dengan sahabatnya....saudaranya. Dia sadar, dia cemburu, dia marah, dia kecewa. Dia teringat dengan kata-kata Rendra. Putih tak selamanya berarti bersih dan hitam tak selamanya berarti kotor. Itu penilaiannya selama ini tentang Jennie dan Egi. Dia telah salah menilai. Jennie baik tapi itu hanya di depannya saja, itu kedok untuk menyembunyikan keburukannya. Sedangkan, Egi yang selama ini dianggapnya buruk ternyata punya hati yang baik. Dia salah menilai.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Logikanya hilang entah kemana. Semua kenangan tentang Egi muncul dalam ingatannya. Bagaimana dia menikmati masa-masa itu. Walau dia tak pernah mengatakannya secara langsung pada Egi. Dan kini, kenyataan yang ada di depannya benar-benar melumpuhkannya.
Tak lama handphone Joey berbunyi, ada panggilan masuk.
"Kau dapat informasinya?"
"Iya bos," sahut suara laki-laki yang menelpon Joey.
"Kita bertemu ditempat biasa," perintah Joey. Menutup panggilan dan melaju ke tempat yang dimaksud.
***
Sesorang laki-laki duduk sendirian di pojok sambil menikmati minuman yang dipesannya. Pria setengah baya itu menggunakan jaket kulit berwarna hitam dan topi yang juga berwarna hitam. Dia melambaikan tangan saat melihat kedatangan Joey. Joey menghampirinya dan duduk di meja yang sama.
"Apa yang kau dapat?"
"Semua yang anda inginkan."
"Jelaskan padaku!"
Laki-laki itu bercerita panjang tentang suatu hal. Memperlihatkan beberapa lembar foto dan kertas. Joey tampak tak percaya. Wajahnya makin bingung, marah, kesal, kecewa makin merasuk dalam dirinya. Pria itu adalah salah satu orang kepercayaan Joey untuk menyelidiki beberapa permasalahan. Rendrapun tidak mengenal pria ini, karena Joey tak pernah menceritakannya. Kali ini, Joey menugaskannya untuk menyelidiki Rendra. Benar saja berdasarkan penyelidikan itu, apa yang dicurigai Joey memang terjadi. Tapi ini lebih dari sekedar hal yang dicurigainya.
Sepuluhmenit mereka berbincang. Joey pergi dengan wajah tampak kecewa. Kali ini diaakan menemui Egi dan akan meminta penjelasan langsung darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Rasa Cinta
CintaEgi, seorang gadis cantik yang egois bertahan mencintai Joey yang jelas tidak mencintainya. Benarkah dia tidak mencintainya? Ataukah dia hanya tidak menyadari cinta itu karena masih terikat akan masa lalunya? Ketika satu persatu kebenaran terungka...
