PANGERAN IMPIAN

4K 104 9
                                        



Semenjak Ayah mereka meninggal, ibunya memilih tinggal bersama Daniel di luar kota. Sehingga, mereka hanya tinggal berdua di rumah peninggalan ayahnya.  Rika merasa rumah dan adiknya adalah tanggungjawabnya selama Ibu dan kakaknya tidak ada disini. Tetapi, melihat sikap Egi beberapa tahun belakangan ini membuatnya benar-benar pusing. 

 "Kau ini benar-benar bodoh! Sampai kapan kau akan terus begini?" Rika bertanya pada Egi dengan geramnya. 

Egi tak menjawab. Dia hanya diam sambil memandang handphonenya yang ada di genggaman Rika.

"Selama kau masih nekat dengan keputusanmu, jangan harap aku akan mengembalikanya! Kau tak boleh lagi menghubunginya! Sampai kapan kau akan mengejarnya seperti ini? Umurmu sudah 22 tahun. Seharusnya kau fokus dengan pekerjaanmu, butikmu, desain terbarumu. Tapi kau malah menghabiskan waktumu untuk mengejar seseorang yang jelas-jelas tidak menginginkanmu atau bahkan menganggapmu ada!" Rika bicara dengan nada tinggi. Wajahnya tampak merah karena geram.

Egi tetap tidak mempedulikan kakaknya. Saat kakaknya lengah, ia pun merebut handphonenya dan berlari ke kamarnya.

"Egi!" teriak Rika sambil mengejar adiknya. "Cepat buka pintunya!" Teriak Rika sambil menggedor pintu kamar Egi yang telah terkunci dari dalam.

"Ayolah kakak, berhenti memaksaku! kau pasti mengerti jika ada di posisiku," sahut Egi. Egi menjatuhkan diri di kasurnya yang empuk dan nyaman. Kamar mungil berwallpaper ungu dengan motif bunga lili putih. Satu-satunya tempat dimana dia merasa nyaman tanpa gangguang kakaknya.

"Memaksa? Kau bilang aku memaksa? Aku hanya ingin adikku untuk berfikir waras!" Rika terus berteriak dan mengedor pintu dengan keras.

"Aku waras." Egi menjawab dengan santai.

"Mencintai seorang pria selama lima tahun yang jelas-jelas tidak mencintaimu, apa itu waras?"

"Kakak, kakak harus percaya padaku. Aku yakin dia adalah jodohku," jawab Egi sambil tersenyum dan mencium foto Joey yang tersimpan di handphonenya. Untung saja kakaknya belum menghapus foto-foto itu saat merampas handphonenya tadi.

"Ya Tuhan. Apa yang sebenarnya merasuki adikku?" Rika mengeluh sendiri. Tanpa disadarinya Egi membuka pintu dan menjawab. "Itu cinta" jawab Egi dengan lembut sambil tersenyum memandang kakaknya. 

Rika memukul pelan kepala adiknya dan berkata "Makan itu cinta." Rika kesal dan meninggalkan Egi dikamarnya. Dia pergi dengan perasaan yang benar-benar kesal. Egi kembali masuk kekamarnya. Berbaring ditempat tidurnya dan melihat foto Joey di handphonenya.

Joey adalah adik tingkat Daniel saat kuliah. Joey pernah menolong Egi lima tahun yang lalu saat dia kehilangan handphonenya di luar kota. Saat itu, Egi kabur dari rumah karena ayahnya melarangnya pergi berlibur dengan teman-temannya. Karena tak tahu harus kemana, dia pun pergi keluar kota menyusul Daniel yang kuliah disana. Tapi saat naik bus, handphonenya hilang dan tak tahu harus bagaimana. Handphone hilang, tidak hapal nomor handphone kakaknya, dia bahkan tak tahu dengan jelas dimana kakaknya tinggal. Terlebih lagi, itu adalah pertama kalinya dia pergi ke kota itu. Sungguh kesialan yang bertubi.

Berjam-jam dia menunggu di halte bus. Berharap kakaknya akan menemukannya disana. Berharap Rika menelpon Daniel dan mengatakan dirinya kabur dari rumah. Tapi hingga malam, kakaknya tidak juga nampak. Rasa takut menghampirinya dan pastinya rasa lapar merayap diperutnya. Dia tak beranjak sedikitpun dari halte, takut kakaknya tidak akan menemukannya jika dia pergi.

Sebuah mobil berhenti beberapa meter dari halte. Egi menoleh dan berharap itu kakaknya. Seorang pria keluar dari mobil itu. Pria itu memakai ripped jeans berwarna biru dan t-shirt berwarna abu. Badannya tinggi dan atletis, menawan seperti bintang-bintang tampan di Hollywood. Kulit sawo matang yang bersih, rambut hitam terawat, matanya yang tajam. Sungguh mempesona.

Egi seperti tersihir memandang pria itu dan lupa jika dirinya tersesat di luar kota. Tapi dia merasa tersesat dalam pandangan yang ditujukan pria itu padanya. Jantungnya berdebar kencang. Bukan takut, tapi dia terpesona. Pangeran idamannya seperti melompat keluar dari imajinasinya. Pria itu berjalan mendekatinya dan Egi masih tak berkedip.

"Egi?" tanya pria itu.

"Perfect." Jawab Egi. Dia tersenyum dan sadar dengan jawabannya yang salah. "eh, maksudku iya. Bagaimana kau tahu namaku?"

Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya. "Joey."

Egi menyambut tangan Joey dan memperkenalkan dirinya. "Egi."

"Kau adiknya Daniel?"

"Kau mengenal kakakku?" Egi merasa senang, karena akhirnya ada yang menemukannya disini. Dia bersyukur Rita memberitahu Daniel keberadaannya.

"Iya, aku temannya."

"Ow...kau teman ... ?" Dia tidak tahu kalau pria setampan ini adalah teman kakaknya.

"Aku temannya, lebih tepatnya adik kelasnya di kampus. Beda setingkat tapi kami sangat akrab." Joey duduk disebelah Egi. "Kakakmu sedang tidak ada disini. Dia sedang ada urusan di luar kota. Dia menghubungiku untuk mencarimu."

"Dia memintamu mencariku?"

"Iya. Kakakmu menelponku dan mengatakan adiknya kabur dari rumah dan mungkin saja datang mencarinya." Joey duduk disamping Egi. "Kau kan bukan anak kecil lagi. Kenapa harus kabur?" Joey tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Ada-ada saja, berapa umurmu?"

"17 tahun."

"17 tahun tapi masih punya pikiran kabur dari rumah. Tapi setidaknya kau kan bisa menelepon Danie dan mengatakan kau dimana. Aku mencarimu di banyak halte karena Daniel bilang kau pasti naik bus."

"Handphoneku hilang. Aku ketiduran di bus dan saat aku bangun handphoneku sudah tidak ada," jawab Egi dengan murung. "Maafkan aku."

"Kenapa minta maaf padaku? Minta maaflah pada orangtua dan kakak-kakakmu. Mereka pasti Mengkhawatirkanmu. Lain kali, jika ada masalah lebih baik bicarakan baik-baik. Dalam kehidupan ini, masalah datang dan pergi itu sudah biasa. Tapi cobalah bijak menghadapinya. Ingat, kau bukan anak kecil lagi."

Egi tertunduk malu tanpa sepatah katapun yang berani keluar dari bibirnya. Joey mengeluarkan handphone dari sakunya. Dia menelpon Daniel dan mengatakan dia sudah menemukan Egi.

Egi tak pernah melupakan malam itu. Malam itu rasa sukanya pada Joey mulai tumbuh dan semakin besar hingga hari ini.

Kini Joeysudah menyelesaikan kuliahnya disana dan tidak tinggal dikota itu lagi. Diapindah ke kota yang sama dengan Egi untuk melanjutkan perusahaan ayahnya.Semenjak orangtuanya meninggal dalam kecelakaan, dialah yang meneruskanperusahaannya. Sebagai penerus keluarga satu-satunya dia bertanggungjawab akan perusahaan.     

Karma Rasa CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang