AKU AKAN PERGI DARI HIDUPMU!

3.1K 108 1
                                        

Malam itu kamarnya terasa dingin dan hampa. Berlindung di balik selimut yang hangat tidak membuat perasaannya membaik. Lampu kamar sengaja di padamkan, seolah menunjukkan kegelapan di hatinya saat ini. Sesekali air matanya menetes tatkala kenangan tentang pria yang di cintainya terlintas. Dia menatap wajah yang di rindukannya di handphonenya. Perasaan marah dan kecewanya belum padam tapi entah mengapa hatinya begitu merindukannya. Setelah apa yang terjadi padanya, apakah masih pantas pria itu dicintainya. Dalam kesunyian dia memaki dirinya sendiri, mengutuk dirinya yang tidak bisa membenci pria itu. Begitu besarkah rasa cintanya sehingga mengalahkan logikanya. Berjuta pertanyaan melintas dalam benaknya. Apa yang harus di lakukannya? Mengatakan kebenaran yang telah terjadi dan melupakan cintanya yang jelas-jelas telah ditepis? Atau menyembunyikan semuanya, seolah tidak pernah terjadi apapun.

Ketukan pintu kamarnya, membuyarkan segala lamunannya. Dengan cepat dia menghapus air mata di pipinya.

"Kau ini kenapa?" Rita masuk dan menyalakan lampu kamar Egi. Menatap adiknya yang berlindung di dalam selimut dan tidak berani menatap dirinya. Dia berjalan perlahan dan duduk di tempat tidur. "Apa kau baik-baik saja?"

"Iya."

"Kau yakin? Akhir-akhir ini kau terlihat berbeda. Kemana perginya adikku yang selalu ceria?" Tidak terdengar jawaban dari mulut Egi. "Kau bisa ceritakan padaku apa yang telah terjadi."

"Aku baik-baik saja, kak. Hanya sedikit tidak enak badan." Akhirnya dia menjawab.

"Apa kau benar-benar yakin? Apa ini ada hubungannya dengan pertengkaranmu dengan Joey beberapa minggu yang lalu? Tidak biasanya kau begitu marah."

"Aku tidak ingin membicarakan tentang dia, kak."

"Jadi kau benar-benar marah padanya? Tidak seperti biasanya."

"Bukankah kakak yang ingin aku melupakannya?"

"Iya, memang seperti itu. Tapi saat melihatmu seperti ini aku jadi ragu, apa aku memang harus memisahkan kalian. Apa kau begitu mencintainya hingga kau begitu marah karena dia membela wanita lain?"

"Kak, tolonglah. Saat ini aku tidak ingin membicarakannya lagi." Pintanya dengan lembut.

"Baiklah, jika itu maumu. Aku tidak akan membahasnya lagi. Kau sudah besar, jadi kakak yakin kamu sudah bisa mengambil keputusan yang tepat. Tetapi satu hal yang kakak minta. Di dunia ini kamu tidak sendiri, kau masih punya orang-orang yang mencintaimu. Jika memang ada masalah yang tidak bisa kau selesaikan sendiri, tolong ceritakan jangan dipendam sendiri. Sikapmu yang seperti ini benar-benar membuatku khawatir. Satu lagi, aku tahu kau tidak ingin membicarakan Joey tetapi menghindarinya bukan hal yang tepat. Sikapmu yang menjauhinya benar-benar tampak jelas. Lebih baik selesaikan masalah diantara kalian berdua. Setelah itu baru kau putuskan, tetap mencintanya atau melupakannya. Sebenarnya sudah beberapa kali dia menghubungiku dan menanyakan keadaanmu. Sepertinya dia merasa bersalah karena pertengkaran kalian. Dia mencoba menghubungimu tetapi handphonemu tidak bisa dihubungi. Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku tidak bisa ikut campur lebih jauh tentang hubungan kalian." Rita bangkit dan berjalan ke pintu keluar. "Bangunlah, rapikan dirimu. Dia di bawah menunggumu."

Egi tersentak saat kakaknya mengatakan Joey ada di rumahnya. Tidak seperti biasanya. Egi merapikan dirinya dan turun menemui Joey di teras depan.

Joey duduk di kursi kayu menghadap jalanan yang masih basah karena hujan tadi sore. Egi menghampirinya dan duduk di bangku sebelahnya tanpa berkata. Joey mengalihkan pandangannya ke wajah Egi yang nampak pucat.

"Kau baik-baik saja?"

"Iya."

Suasana malam itu menjadi canggung. Joey sudah menyiapkan beberapa kata yang ingin dikatakannya saat ingin pergi menemui Egi. Tetapi entah kenapa kata-kata itu meluap entah kemana.

"Jadi, kau masih marah? Kau sudah mengacuhkanku beberapa hari, tepatnya hampir 2 minggu. Aku menelponmu tetapi handphonemu tidak aktif. Aku mencarimu ke butik tetapi kau tidak ada."

"Aku mengganti no handphoneku." Jawabannya membuat Joey terkejut.

"Oke, kau mengganti nomormu tetapi tidak mengatakannya kepadaku."

"Aku rasa itu bukan urusanmu."

"Dari caramu menjawab pertanyaanku malam ini dan sikap anehmu kepadaku beberapa hari terakhir, aku tahu kau sangat marah. Baiklah, aku minta maaf. Aku rasa, aku terlalu berlebihan saat itu."

Egi kembali teringat kejadian malam itu. Amarahnya kembali muncul. Kenapa Joey mengira dirinya marah karena pertengkaran mereka yang terakhir kali. Apa dia benar-benar tidak ingat dengan apa yang telah dilakukannya malam itu. "Aku sudah melupakannya." jawabannya tanpa melihat ke arah Joey. Tatapannya begitu kosong. 

"Tapi kau masih marah."

"Aku marah bukan karena itu." Jawab Egi dengan nada meninggi.

"Lalu karena apa?" Joey menatapnya dengan penuh kebingungan.

"Itu." Egi nampak ragu. Dia tidak bisa mengatakannya.

"Itu apa?" Joey mendesak Egi.

"Itu karena aku sudah memutuskan untuk melupakanmu. Aku akan melupakanmu. Seperti yang kau selalu kau minta, aku akan pergi dari hidupmu. Jadi tolong, pergilah! Aku tidak ingin berbicara denganmu lagi!" Semua kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Egi. Mencoba menahan air matanya dia pun bangkit dan pergi meninggalkan Joey begitu saja. Meninggalkan Joey dengan banyak kebingungan. Joey hendak mencegahnya. Dia meraih tangan Egi tetapi ditepisnya. Egi masuk ke dalam rumah begitu saja.

Joey berdiri memandangipintu rumah yang dibanting Egi tepat di depan wajahnya. Dia menghela napaspanjang. Entah kenapa kata-kata yang diucapkan Egi begitu menamparnya. Egimemutuskan untuk melupakannya. Bukankah memang itu yang diinginkannya sejak dulu. Tetapi entah kenapa malah meninggalkan lubang menganga di hatinya. 


Karma Rasa CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang