Semenjak kejadian itu, Joey benar-benar pindah. Kali ini ia pindah ke sebuah apartemen dengan keamanan yang ketat. Tapi nasib sial masih betah menyelimutinya. Dengan waktu singkat Egi malah sudah berteman akrab dengan security apartemennya, sehingga bisa masuk sesuka hati. Joey benar-benar geram.
"Jika kau benar-benar kesal. Kenapa tidak kau coba memberinya kesempatan?" Lagi-lagi Rendra membujuk Joey.
"Kesempatan? Mengapa setiap berdiskusi denganmu tentang dia, kau selalu memberiku ide gila? Bagaimana mungkin kau memintaku memberikannya kesempatan? Menghabiskan sisa hidupku dengan wanita yang...yang entahlah seperti apa."
"Kau hanya belum mengenalnya. Kau bahkan tidak mau mengenalnya. Aku yakin dia tidak seburuk yang kau sangka. Dia ramah, rajin, tidak sombong, dan manis." Celoteh Rendra membela Egi.
"Kau tidak bisa mencintai seseorang hanya karena dia manis. Gula juga manis, apa aku harus mencintai gula?"
Rendra hanya tertawa mendengar jawaban Joey.
Salah satu karyawan Joey tiba-tiba masuk dan memberitahu Egi sedang ribut dengan Jennie di lobi.
"Astaga apa lagi sekarang?" Joey mengeluh sambil menghela nafas dengan keras.
Merekapun langsung berlari menuju lobi.
Situasi disana cukup ramai. Nampak beberapa orang karyawan mencoba melerai mereka. Egi menarik rambut Jennie, begitupun sebaliknya. Jennie adalah wanita yang sedang dekat dengan Joey. Bahkan beredar gosip mereka sudah berpacaran. Penampilan mereka tampak tidak lagi rapi. Tanpa berkata Joey dan Rendra melerai mereka. Joey memegang tangan Egi dan menariknya menjauh dari kerumunan.
Kali ini Joey benar-benar marah. Wajahnya memerah, seolah-olah siap meledak.
Dia menarik tangan Egi dan berhenti di dekat pintu masuk yang tampak sepi. "Apa lagi pembelaanmu kali ini?"
"Dia yang memulai."
"Kau mau aku percaya begitu saja? Ini sudah yang kesekian kalinya! Bisakah kau bertindak sedikit dewasa?"
"Kenapa kau selalu membelanya? Sudahku bilang dia yang memulainya. Aku hanya ingin menemuimu. Tapi dia melarangku. Dia..."
Joey menyela tidak membiarkan Egi melanjutkan ucapannya. "Sudah cukup. Bisakah kau sedikit mengerti? Sedikit saja! Ini jam kerja! Aku sedang bekerja! Bisakah kau jangan menggangguku di jam kerja? Aku pimpinan di sini, aku harus menjadi panutan bagi yang lain? jika kau memang peduli denganku, tolong jaga nama baikku!" Suara Joey meninggi dan terdengar ketegasan di dalamnya.
Egi tidak menjawab. Hanya menunduk tidak berani memandang Joey.
"Dan Jennie, dia wajar ada di sini. Dia bekerja di sini. Dia sekretarisku. Tapi kau, apa yang kau lakukan di jam kerja disini? Bukannya seharusnya kau ada di butikmu!"
"Kau memang selalu membelanya".
"Tidak ada pembelaan!"
"Bohong! Kau selalu membelanya. Jangan-jangan gosip itu memang benar. Kalian pacarankan?"
"Kalaupun iya, lalu kenapa? Bisakah kau menjauh jika kami pacaran?" Tantang Joey.
"Tidak!" Egi menjawab dengan nada yang tinggi.
Joey terkejut dengan jawaban Egi.
"Aku akan merebutmu darinya," jawab Egi lalu pergi meninggalkan Joey yang masih terpaku kaget dengan jawaban Egi.
"Astaga, wanita itu benar-benar membuat aku gila." Joey memegangi kepalanya yang terasa sakit mengingat kelakuan Egi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Rasa Cinta
CintaEgi, seorang gadis cantik yang egois bertahan mencintai Joey yang jelas tidak mencintainya. Benarkah dia tidak mencintainya? Ataukah dia hanya tidak menyadari cinta itu karena masih terikat akan masa lalunya? Ketika satu persatu kebenaran terungka...
