Jujur atau Bohong

1.4K 53 0
                                        


Egi pulang dengan perasaan yang makin kacau. Sangat berat rasanya melangkahkan kakinya untuk menginjak rumah Joey lagi. Daniel dan Rita ingin mengantarnya tapi Egi menolak. Dia memilih naik bus untuk pulang. Egi menapaki halaman rumah penuh kegundahan, dia menunduk memastikan kakinya dapat melangkah dengan baik. Langkah itu tiba-tiba terhenti saat menyadari mobil Joey sudah terparkir di garasi. Suaminya sudah pulang. Apa yang harus dikatakannya sekarang? Meminta maaf sambil menangis. Berlutut agar Joey memaafkannya atau berdiri di luar saat hujan dan menunggu hingga Joey memaafkannya seperti yang biasanya ditontonnya di televisi. Banyak pikiran aneh terlintas dalam benaknya. Dia menampik semua itu karena hal itu jelas takkan berhasil. Lagi pula di luar tidak hujan, bagaimana dia bisa berlutut di tengah hujan jika tak ada hujan. Cuaca hari ini malah cerah. Tapi sayang hatinya tak secerah itu.

Joey sedang berbaring di tempat tidur saat dia sadar ada yang membuka pintu. Itu pasti Egi, pikirnya. Benar saja karena saat dia membuka mata, Egi masuk ke kamar. Tetapi langkahnya terhenti saat melihat Joey ada di kamar. Joey bangun dari tidurnya dan duduk di tempat tidur.

"Kau darimana?" tanya Joey.

"Kak Daniel ingin bertemu denganku."

"Aku yakin dia memarahimu, mau bertaruh?"

"Dia marah, sangat marah," jawab Egi lirih penuh sesal.

Joey tersenyum. "Sudah kuduga. Jadi, apa ada yang ingin kau ucapkan padaku selain kata maaf?"

Egi yang masih berdiri terdiam di depan pintu. Dia menggeleng.

"Kemarilah." Joey meminta Egi untuk duduk di dekatnya. Egi menurut dan berjalan mendekati Joey. Dia duduk di depan Joey. Joey lalu memeluknya. Hanya memeluknya tanpa berkata apa-apa lagi.

"Kau masih marah?" tanya Egi. Walaupun Joey memeluknya, dia tidak merasakan kehangatan yang biasanya dirasakannya saat berada di dekat suaminya. Dia hanya merasakan ada jurang pembatas diantara mereka dan itu semua karena kesalahan dirinya.

"Masih," jawab Joey singkat.

"Kau benci padaku?" Egi mencoba membendung air matanya dan memberanikan diri untuk bertanya.

"Mau jawaban jujur atau bohong?" Joey balik bertanya.

"Bohong," pinta Egi.

"Kalau begitu tidak."

"Kau masih mencintaiku?"

"Tidak."

"Itu jawaban jujur atau bohong?"

"Kau cari tahu saja sendiri."

Karma Rasa CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang