Joey duduk di teras rumah Rendra, memandang langit malam. Sepi, sunyi, dan sendiri, lengkaplah sudah. Pikirnya. Bukankah ini yang dia inginkan. Sendiri, tapi entah mengapa bukan ketenangan yang dia dapatkan. Dia mulai bergumam sendiri. Kenapa dia tidak menemuiku, dia bahkan tidak menghubungiku. Satu hari ada 24 jam atau sama sengan 1440 menit tapi kenapa tidak bisa menghubungiku walau semenit. Apa dia masih marah karena perkataanku. Astaga semua ini membuatku gila. Dia berhasil membuatku gila. Bukankah ini yang aku harapkan. Jauh dari dia. Tapi mengapa kini jadi....
"Kenapa tidak masuk?" Rendra sampai dirumahnya. "Kenapa tidak masuk?" Rendra mengulang pertanyaannya, saat melihat Joey duduk sendirian di teras rumahnya. "Bukankah kau punya kunci cadangan?"
"Aku lebih senang disini. Mana mobilmu?"
"Di bengkel," jawab Rendra, lalu duduk di samping Joey. "Kenapa tidak menghubungiku jika ingin kesini?"
"Apa kau sesibuk itu, sehingga aku harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu saudaraku?"
"Bukan begitu maksudku. Kenapa kau begitu sensitif? Apa Jennie menolakmu?"
"Tidak ada wanita yang akan menolakku," Joey tersenyum bangga.
"Kau begitu angkuh," balas Rendra sambil tertawa.
"Kau dari mana?"
"Rumah teman."
"Teman yang kukenal?"
"Bisa jadi."
"Berhentilah bermain tebak-tebakan dengan bahasa anehmu yang tidak aku mengerti. Sebaiknya kau jaga sikapmu dikantor. Orang-orang membicarakanmu."
"Oh ya? Jennie yang menceritakannya? Dasar Queen of Gossips. Aku heran kenapa kau suka padanya. Apa menariknya?"
"Aku tidak bilang suka padanya. Aku hanya bilang dia menggoda."
"Apa bedanya?"
"Tentu saja berbeda."
"Bagaimana dengan Egi?
Pertanyaan itu mengingatkan Joey dengan yang dilihatnya tadi sore. "Dia tidak pernah menghubungiku lagi."
"Benarkah?" Rendra tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa kau begitu senang?"
"Aku senang karena kau bahagia. Bukankah membuat dia pergi dari hidupmu adalah hal yang paling kau inginkan. Dan sekarang.....wush....dia menghilang bagaikan sihir. Bukankah seharusnya kau senang?" Rendra menjelaskan dengan senang sambil menepuk bahu Joey.
Joey hanya tersenyum. Dia bahkan tidak mengerti apa arti senyumnya. "Mungkinkah kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Joey.
"Mungkin saja."
"Hal apa yang akan kau sembunyikan dariku?"
"Itu pasti rahasia. Hahaha."
"Bicara denganmu membuatku pusing," Joey bangun meraih kunci rumah Rendra. Sebelum masuk kedalam rumah, Joey berkata, "Aku akan menghajarmu jika aku tahu kau menyembunyikan sesuatu yang penting dariku." Dia pun berlalu. Tetapi suaranya masih terdengar. Dia berteriak agar Rendra mendengarnya. "Aku menginap malam ini! Aku bisa melakukan apapun disini karena ini juga rumahku, kau mengerti!"
Rendra kembali tersenyum. "Cepat atau lambat kau pasti akan menghajarku. Tetapi ini demi kebaikanmu," gumam Rendra sendiri.
Mereka menghabiskan waktu dengan menonton bola di ruang tamu. Padahal hanya menonton berdua tapi suasana sangat ramai. Ayoo...tendang....sedikit lagi....yak....yak....ish.....dasar bodoh ... oh ... ayooo .... go ... goo ... goolllll! ..... Benar-benar riuh. Suasana yang biasa ketika orang-orang menonton pertandingan tim favoritnya.
"Aku ambilkan bir lagi." Rendra bangun dan berjalan ke dapur.
"Keluarkan saja semuanya, agar kau tidak mondar-mandir terus. Seperti ayah menunggu kelahiran anaknya saja." canda Joey.
Saat itu pula handphone Rendra yang diletakkan di atas meja meronta ingin diangkat.
"Ada telepon!" teriak Joey agar Rendra mendengar. Tak sengaja Joey melirik layar handphone Rendra. Seolah ada kodok yang melompat-lompat di dadanya saat melihat nama di layar. "Egi."
Rendra segera menghampiri. Dia meletakkan beberapa kaleng bir di atas meja dan meraih handphonenya. Joey tidak bertanya, hanya melihat Rendra menjauh ketika mengangkat telepon itu. 10 menit kemudian, Rendra kembali duduk disamping Joey dan meneruskan menonton, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Antara penting atau rahasia, makanya harus mengatur jarak agar aku tidak mendengar pembicaraanmu ditelepon?"
"Bukan begitu, aku tidak mau mengganggumu menonton."
"Siapa?"
"Egi," jawab Rendra singkat lalu minum.
"Akhir-akhir ini kau makin dekat dengannya?"
"Benarkah? Bukankah kita sudah berteman cukup lama dengannya. Kenapa? Cemburu?"
"Tidak."
"Kalau begitu tidak masalah."
Joey menoleh Rendra tapi tidak menanggapi.
***
Ditempat lain pada saat yang sama, Rika mulai khawatir dengan keadaan Egi. Sikapnya berubah dan kedekatannya dengan Rendra membuatnya curiga.
"Akhir-akhir ini kau sering dengan Rendra. Apa haluanmu berubah?"
"Bukankah itu yang kakak inginkan?"
"Bukan begitu. Tak sepenuhnya begitu. Aku hanya ingin kau bahagia. Apa kalian merencanakan sesuatu?"
Egi tidak menjawab. Hanya membalas dengan senyuman.
"Benarkan kalian merencanakan sesuatu?" Rika kembali bertanya.
Egi tetap diam dan hanya membalas dengan senyuman.
"Berhentilah tersenyum, dan jawab pertanyaanku! Kalian benar-benar mencurigakan!" Rika pergi meninggalkan Egi di kamarnya.
"Maaf kak, ini belum saatnya kakak tahu. Tapi aku pasti akan menceritakan semuanya." Egi mengelus perutnya. "Aku janji. Takkan lama lagi."
Tak lama Rika kembali masuk ke kamar Egi.
"Maaf aku lupa menyampaikannya. Tadi Rendra meneleponku, katanya handphonemu tidak bisa dihubungi. Mungkin kau harus meneleponnya. Dia terlihat khawatir." Saat Rika berlalu, Egi mengambil handphonenya dan menelpon Rendra.
"Halo," suara Rendra terdengar tenang dari seberang. Dia harus hati-hati agar Joey yang saat itu bersamanya tidak mendengar pembicaraan mereka. Diapun menjauh agar dapat berbicara lebih bebas. "Tadi aku meneleponmu, tetapi tidak aktif. Jadi, aku menitipkan pesan pada Rika,"jelas Rendra.
"Maaf, aku tidak tahu handphoneku mati. Sepertinya dayanya habis."
"Baiklah, tidak apa. Bagaimana kabarmu hari ini?
"Aku...baik-baik saja."
"Benarkah? Kau terdengar lemas."
"Tidak, aku tidak apa-apa."
"Baiklah, kalau begitu beristirahatlah dulu. Kabari aku jika kau butuh sesuatu."
"Baiklah, terima kasih," jawab Egi sembari menutup teleponnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Rasa Cinta
RomanceEgi, seorang gadis cantik yang egois bertahan mencintai Joey yang jelas tidak mencintainya. Benarkah dia tidak mencintainya? Ataukah dia hanya tidak menyadari cinta itu karena masih terikat akan masa lalunya? Ketika satu persatu kebenaran terungka...
