Egi mulai bisa beraktifitas seperti biasa. Dia dan Joey sudah mengiklaskan apa yang terjadi. Kini Egi yang mengurus rumah sendiri. Bibi Ratna harus kembali ke kampungnya karena suaminya yang sakit. Joey dan Egi melalui hari dengan penuh kebahagiaan. Joey tak pernah menyangka bahwa dia akan begitu mencintai Egi.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Egi penasaran ketika Joey terus menatapnya.
Joey tersenyum. "Aku benar-benar tak menyangka kaulah yang jadi istriku." Dia mendekati Egi dan memeluk istrinya yang sedang duduk dan sibuk merangkai bunga di ruang tamu.
"Apakah kau menyesal?" Egi melanjutkan merangkai satu persatu bunga mawar putih di vas kaca yang cantik. Bunga itu dipetiknya sendiri dari kebun yang dirawatnya beberapa bulan ini.
"Bukan begitu. Jangan salah sangka. Dulu kau begitu manja, kekanak-kanakan, keras kepala dan egois. Kau tahu? Dulu jika aku diminta memilih satu dari sekian wanita yang pernah dekat denganku. Aku pasti meletakkanmu pada urutan terakhir."
"Apa? Terakhir? Bagaimana kau bisa sejahat itu!"
"Kau ingat saja bagaimana kelakuanmu dulu. Memaksaku agar menerimamu. Kau seperti bayangan yang menghantuiku setiap waktu. Kau selalu membuatku pusing dengan ulahmu." Joey menceritakan pengeluhannya. Egi yang mendengarkan itu mulai cemberut.
"Tapi...," Joey terdiam sejenak.
"Tapi apa?" Egi mulai penasaran. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Joey yang masih memeluknya.
"Tapi, kini aku tak menyesalinya." Joey mencubit pipi Egi. "Caramu yang aneh itu. Membuatku tergila-gila padamu."
"Benarkah?" Egi tersenyum dan menghapus cemberut di wajahnya.
"Tentu saja, itu benar, 100% benar."
"Tapi kau menikahiku karena aku hamil."
"Itu hanya kesempatan yang diberikan Tuhan, agar aku yakin bahwa aku memang mencintaimu. Sebelum aku tahu kau hamil. Aku memang sudah ada rencana melamarmu. Jika saja Rendra tak muncul dengan ide konyolnya pura-pura akan menikahimu, agar aku cemburu. Aku pasti sudah melamarmu."
"Jangan seperti itu. Rendra hanya ingin membantu."
"Ya aku tahu. Tapi terkadang idenya tak masuk pada pikiranku. Tapi dia memang saudara terbaikku."
"Oh...jadi begini kalo suami istri sedang curhat. Menjelek-jelekan sahabatnya sendiri." Rendra masuk ke ruang tamu tempat Joey dan Egi mengobrol.
"Ah kau ini. Bisakah kau jangan muncul mendadak seperti setan." Joey mengeluhkan kemunculan Rendra.
"Apa aku harus buat janji dulu agar bisa bertemu calon istriku tapi tak jadi ini?" ledek Rendra.
Joey melepaskan pelukannya pada Egi dan melempar majalah yang ada di atas meja ke arah Rendra. "Dia istriku sekarang. Jika ingin merebutnya. Langkahi dulu mayatmu sendiri." Joey tertawa.
"Itu tidak mungkin." Rendra mendekat dan duduk di sofa seberang Joey dan Egi.
"Yah, karena merebutnya memang hal yang tak mungkin."
Joey dan Rendra tertawa. Egi hanya tersenyum. Dia salut dengan dua sahabat ini. Walaupun kadang-kadang mereka saling menghina. Tetapi, tak bisa dipungkiri mereka selalu saling menyayangi, mendukung dan saling membantu. Persahabatan yang perlu ditiru.
"Aku buatkan minum ya. Kau mau minum apa?" tanya Egi pada Rendra.
"Apa saja deh, tapi yang dingin ya."
"Iya," Egi mengangguk dan menyiapkan minum di dapur.
"Dia sudah berubah. Tak lagi kanak-kanak. Kau berhasil mendidiknya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Rasa Cinta
RomanceEgi, seorang gadis cantik yang egois bertahan mencintai Joey yang jelas tidak mencintainya. Benarkah dia tidak mencintainya? Ataukah dia hanya tidak menyadari cinta itu karena masih terikat akan masa lalunya? Ketika satu persatu kebenaran terungka...
