Egi berjalan menyusuri jalan menuju rumahnya. Dia baru saja datang dari bekerja. Malam menunjukkan cuaca yang tak bersahabat. Mendung makin tebal dan angin berhembus kencang. Hujan belum turun, tetapi petir seolah telah menyambar ketika dia melihat Joey berdiri di depan rumahnya. Bersandar pada mobilnya yang terparkir di depan rumah Egi. Joey melihat kedatangan Egi dan menyadari kekagetan Egi melihatnya.
"Biasanya kau senang jika aku datang? Mana senyummu?" sindir Joey.
Egi belum mampu berbicara.
"Apa ada yang salah? Kau seperti baru saja melihat hantu." Joey tersenyum sinis. "Kita perlu bicara," pinta Joey.
Tanpa berkata lagi. Egi masuk ke rumah dengan Joey mengikutinya.
"Duduklah, biar aku buatkan minum."
"Tidak usah," jawab Joey. Dia berdiri di ruang tamu memandangi sekeliling dengan santai. Dia memperhatikan satu persatu foto yang dipajang disalah satu meja. "Bagaimana keadaanmu?" Joey berbasa basi.
"Baik. Kau?" Egi menjawab singkat sambil meletakkan tasnya di atas meja.
"Entahlah. Kenapa kau lakukan ini padaku? Inikah caramu membalasku?" Joey mulai bertanya. Dia ingin mendengar penjelasan langsung dari Egi.
"Apa maksudmu?" Egi tidak mengerti dengan pertanyaan Joey. Egi memang tak tahu apa-apa masalah kartu undangan itu. Rendra bilang padanya itu hanya contoh. Jika Egi setuju baru akan disebarkan.
"Rendra memberikanku surat undangan pernikahan kalian. Apa ini rencanamu? Tanya Joey.
"Benarkah? Dia tidak bilang apa-apa tentang itu. Tapi ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku tidak pernah ingin membalasmu. Jika memang Rendra memberikan undangan itu, bukankah seharusnya kau senang. Dia berhasil membuatku menjauh darimu. Bukankah memang itu yang kau inginkan?"
Joey hanya bisa tersenyum sinis mendengar penjelasan Egi. "Ini bahkan lebih buruk dari apa yang aku bayangkan. Bertahun-tahun kau selalu bersamaku. Tapi sekarang kau malah akan menikahi saudaraku?"
"Bukankah ini yang kau inginkan? Kau yang selalu memintaku pergi dari hidupmu!"
"Tapi bukan menikah dengan sahabatku," jawab Joey pelan tapi sinis. "Entah apa yang kau lakukan dengannya, hingga kalian menikah secepat ini. Apa kau hamil?"
Pertanyaan itu membuat Egi sangat terkejut. Seolah-olah beban berat yang dipikulnya makin terasa.
"Kau tidak perlu tahu alasan kami menikah." Egi memalingkan wajahnya tidak berani memandang mata Joey yang terus melihatnya.
"Oh ya? Kau pikir aku tidak tahu apa-apa? Aku bukan pria bodoh yang bisa kau tipu begitu saja? Kau hamil sudah beberapa minggu! Apakah kau memang wanita seperti itu? Kau bilang mencintaiku selama lima tahun, tapi berhasil dirayunya dalam waktu semalam? Murah..." plaaaakkkk....... Joey belum menyelesaikan perkataannya saat Egi menamparnya.
"Kau tidak tahu apapun tentangku dan Rendra, jadi jangan bicara sembarangan! Aku tidak menyangka kau bisa berfikir serendah itu. Kini aku sadar, aku benar-benar menghabiskan waktuku untuk mencintai pria yang salah. Aku rasa sudah cukup, tolong pergi dari rumahku!" Egi mencoba tegar dan membendung air matanya agar tak menetes.
"Kau mengusirku?" Joey makin geram.
"Aku mohon pergilah! Kau ingin bahagiakan? Kau dapatkan itu. Aku takkan mengganggu hidupmu lagi. Berbahagialah dengan Jennie seperti yang kau inginkan!"
"Jennie? Apa yang kau katakan? Astaga, kau salah paham! Aku dan dia tidak ada hubungan spesial, hanya hubungan antara atasan dengan sekretarisnya tidak lebih dari itu!"
"Itu bukan urusanku, aku sudah tidak peduli. Lakukan apapun yang kau inginkan dan jangan ganggu hubungan kami lagi! Rendra bukan anak kecil yang harus terus kau urusi. Dia bahkan bisa bertindak lebih dewasa dari pada dirimu!"
"Kau ini, kau...benar-benar. Tak bisakah sedikit saja berfikir dan bertindak dewasa. Kau benar-benar membuatku kesal. Jadi katakan saja, apa kau hamil? Hamil alasanmu untuk menikah dengannya? Kau tidak mungkin bisa mencintainya secepat ini!"
"Itu bukan urusanmu!" Egi menjawab dan tetap tidak berani memandang Joey.
"Kau..." Joey tidak melanjutkan lagi pembicaraan itu dan memilih pergi dengan perasaan kesal.
Egi tidakkuasa lagi menahan air matanya. "Andai saja," pikirnya. "Andai saja dia tahuyang kukandung adalah anaknya, dia pasti takkan bisa berbicara seperti itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Rasa Cinta
RomanceEgi, seorang gadis cantik yang egois bertahan mencintai Joey yang jelas tidak mencintainya. Benarkah dia tidak mencintainya? Ataukah dia hanya tidak menyadari cinta itu karena masih terikat akan masa lalunya? Ketika satu persatu kebenaran terungka...
