SEPULUH

16.9K 1.2K 83
                                        

Jangan lupa tekan tanda ⭐ di pojok kiri bawah ya🤗😍

🌹Happy reading🌹

"Pagi, Mas Bro!" Sapaku ketika melihat Mas Zul yang sedang menatap layar komputer menunjukkan tampang serius. Biasanya tidak seperti ini.

"Hmm..!"

Dengan tangan kiri yang menggendong berkas seperti biasanya, aku mencoba mendekatkan wajahku ke layar yang ditatapnya dengan rasa ingin tahu.

Sepertinya dia sedang memelototi stock barang yang ada di toko dan gudang. Entah apa yang dilakukannya ini karena ada unsur permintaan Pak Kenan, atau memang ada sesuatu yang ingin dia tahu.

"Kok suram sih, Mas? Habis kena omel ya?"

Mas Zul menggelengkan kepala. Aku segera mengambil permen mint di saku dan mengulurkan dua biji kepadanya.

"Buat diemut, Mas! Setidaknya kalo belum sarapan gak seperti orang bisu!" Sindirku.

"Thanks!" Jawabnya datar.

Aku menaikkan alis. Ini orang aneh banget. Ditanya cuma jawab dengan singkat-singkat gak seperti biasanya. Akhirnya aku mengedikkan bahu dan melanjutkan langkah menuju pintu.

Ketika tanganku baru saja akan mengetuk, terdahului oleh suara bariton dari dalam yang menyuruhku masuk.

Aku membuka pintu dengan perlahan, dan mataku langsung tertancap pada tubuh besar Pak Kenan yang sedang duduk menyandar dengan mata yang menatap tajam diriku.

Aku menjadi salah tingkah. Tanganku segera meletakkan berkas di meja dan mengibaskannya pelan.

"Cuma tujuh puluh, Pak!" Kataku sebelum dia mendahului bertanya.

"Duduk dulu, Nda!"

Tanpa banyak tanya aku mengikuti perintahnya, mendudukkan diriku di kursi di seberang Pak Kenan.

"Nda, saya mau minta maaf untuk apa yang sudah terjadi kemarin sore!" Ucapnya dengan suara lemah.

Aku menunduk dengan rasa jengah dan malu. Sekelebat kejadian kemarin hadir dan membuat tubuhku meriang lagi.

Hal yang paling aku hindari ketika berdua saat ini adalah perkataan seperti itu. Mengungkit apa yang sudah terlanjur terjadi membuatku serba salah. Tetapi melihat wajah penyesalan Pak Kenan membuatku juga tak tega.

Kami sama-sama merasa bersalah.

"Nda!" Suara itu kini sudah terdengar di dekatku. Bukan di seberangku lagi. Aku melihat sepatu hitam besar dan mengkilap ada di dekat kaki kursi yang aku duduki.

Aku mendongak, dan mendapati wajah Pak Kenan yang biasa terlihat dingin itu kini terlihat sendu.

"Lebih baik kita lupakan saja, Pak! Gak usah membahas hal itu lagi!" Aku mengalihkan tatapanku dari dirinya.

"Tapi Nda, saya ingin menjelaskan alasan saya seperti itu sama kamu!"

Aku segera beranjak dari dudukku, kini kami berdiri saling berhadapan.

"Pak, ini masih jam kerja loh. Gak enak kalo saya terlalu lama berada di sini untuk mendengarkan penjelasan Bapak di luar masalah pekerjaan." Balasku tegas tapi berusaha untuk terlihat santai.

"Tapi Nda, saya gak bisa melihat wajah kamu lesu kayak gini! Saya merasa bersalah seakan saya telah melecehkan kamu!"

Tiba-tiba tangan Pak Kenan terulur berusaha untuk meraih rahang ku, tetapi aku segera melangkah mundur ke belakang.

AMANDA dan Si MATA BIRUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang