DUA PULUH SATU

15.4K 1K 124
                                        

Warning : 21+
Part ini agak sensitif ya..
Skip bagi yang gak berkenan.
Karena ini bagian dari alur cerita.

Part ini dibuat sebelum bulan suci, jadi kalo ada yang membacanya di saat puasa, sebaiknya dilewati saja.

🌹Happy reading🌹

Aku memasuki ruangan Pak Kenan dengan memeluk tumpukan berkas, dan kemudian menaruhnya di meja besar seperti biasanya. Meja di depanku masih terlihat bersih dari kertas, kecuali keberadaan tas hitam yang tadi dibawa Pak Kenan, yang kini ada di sana. Aku juga tidak melihat keberadaan Sang Pemilik, mungkin saja dia masih berada di toilet atau di kamarnya.

Aku segera kembali melangkah ke arah pintu, dan berniat untuk membukanya lagi. Tetapi tanganku yang akan menekan knop pintu, seketika terhenti ketika mendengar suara yang tidak terlalu keras dan bernada lembut itu memanggilku.

"Nda!" Spontan kepalaku menoleh dengan posisi tubuh yang masih menghadap pintu.

"Di sini dulu!" Perintah Pak Kenan lembut yang membuat tanganku terlepas dari knop pintu dan segera memutar tubuh ke arahnya. Aku menghela napas untuk menenangkan debaran di dadaku.

"Nanti Bapak bisa panggil saya kalo sudah selesai tanda tangan!" Kataku dengan nada formal. Meskipun rindu ini menyesakkan dada, aku masih bertahan dengan harga diriku yang merasa diabaikan dia beberapa hari ini.

"Kamu masih marah?" Tanyanya pelan dengan langkah kaki yang mendekat ke tempatku yang masih terpaku di balik pintu. Aku menatap tajam mata birunya.

"Menurut Bapak?" Dia mengedikkan bahu untuk menjawab pertanyaanku. Tangannya terulur menyibak surai rambutku yang menjuntai di pipi dan menaruhnya di belakang telinga.

"Memangnya marah kenapa sih? Bukankah kalo orang marah itu hati dan kepalanya dipenuhi oleh setan? Seperti foto yang aku kirim ke kamu tadi itu kan?" Aku melihat Pak Kenan menahan senyum ketika berkata seperti itu. Dia telah berhasil menggodaku.

Bagaimana tidak? Chat yang dikirim olehnya tadi itu, fotoku yang dia ambil saat itu juga, kemudian dia menambahkan dua taring di bibirku, dan juga dua tanduk di kepalaku. Bikin makin kesal saja kan?

Aku yang melihat gaya santainya ketika berbicara kepadaku menjadi gemas. Kedua tanganku yang bebas, akhirnya terpenuhi untuk memukul-mukul dada bidangnya dengan gemas. Bukannya kesakitan, Pak Kenan malah terkekeh dan menarik tubuhku hingga jatuh ke dalam pelukannya dengan kedua tanganku yang berada di antara kami.

Tanpa diminta, air mataku turun dan membasahi kemeja slim fitnya. Aku terisak dalam pelukannya untuk mengeluarkan semua kekesalanku yang terpendam beberapa hari ini. Aku merasakan tangan Pak Kenan yang mengusap rambut dan punggungku berulangkali, dan juga bibirnya yang memberikan kecupan lembut di pucuk rambutku.

Setelah dadaku terasa lega, aku segera menarik tubuhku dan menatap wajahnya dengan tatapan sendu. Dia tersenyum penuh kelembutan. Senyum yang membuatku takluk akan pesonanya, hingga rasanya galau tak tentu arah ketika jauh dari dirinya.

Ibu jari Pak Kenan terulur mengusap sisa air mata di sekitar mataku. "Maaf!"

Kata 'maaf' yang terucap lirih itu membuat air mataku menetes lagi. "Kenapa Bapak gak menghubungiku sih? Kenapa Bapak mengabaikan keberadaanku di saat kita jauh? Dan kenapa Bapak membuatku merindu hingga seperti ini?" Tanyaku dengan kesal. Aku mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tersimpan rapi dalam benakku.

Kedua tangan Pak Kenan memegang kedua sisi wajahku dan mendongakkannya. Kemudian dia memberikan kecupan beberapa kali di bibirku sebelum menatap lekat tepat di kedua mataku.

AMANDA dan Si MATA BIRUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang