TIGA PULUH ENAM

9.5K 878 73
                                        

Makasih banyak buat kalian yang sudah kasih vote dan juga comment di chapter-chapter sebelumnya.
Semoga kalian selalu sehat dan bahagia.
Aamiin😍🤗

🌹Happy reading🌹

Dengan mengulum senyum Amanda bertemu dengan Anita di depan lobby kantornya. Bibir cewek itu terkatup rapat, hanya matanya yang menatap lekat Amanda. Memperhatikan dari atas hingga bawah.

"Kenapa?" Amanda menaikkan dagu ke arah Anita. Tangannya segera merogoh ke dalam tasnya. "Kangen ya? Nih ... oleh-oleh khusus buat kamu."

Amanda menyerahkan sebuah coklat ke Anita. Itu pun hasil mencomot simpanan coklat di kulkasnya.

"Cuma satu?"

Amanda mencebik dan menowel hidung Anita gemas. "Rejekimu cuman satu, kalo mau lebih ... beli aja sendiri!"

Anita mendesis kembali melihat coklat di tangannya. Kemudian dia mengikuti langkah Amanda yang masuk ke lobby menuju ke tempat absensi.

Si montok Anita seperti anak ayam yang baru ketemu induknya. Ketika Amanda berjalan ke ruangannya, dia pun setia di belakang Amanda.

"Kalo kangen tuh bilang, Nita ... jangan kayak anak ayam gini! Baru juga gak ketemu empat hari. Belum juga ditinggal selamanya." Amanda menatap horor Anita, tangannya yang sudah memegang kunci, segera membuka pintu yang terbuat dari kaca itu.

"Hust ... ngawur! Memangnya kamu mau kemana?"

Amanda mengedikkan bahu dan duduk di kursi kesayangannya. Memajukan tubuh dan menaruh kedua tangan di atas meja. "Ada kabar apa sih? Mumpung masih sepuluh menit sebelum jam masuk kerja," tanya Amanda kepo.

"Masih pagi ngajak ngrumpi," Anita mendudukkan diri di kursi seberang meja. "Gak ada kabar apa-apa, Bu. Cuman mau mastiin aja kamu sehat apa enggak."

Amanda memperhatikan tubuhnya dari atas hingga sebatas dada, dan kemudian menatap Anita lagi. "Seperti yang kamu lihat, say ... masih utuh kan?"

"Cerah gitu ya?" Anita menyangga dagu dengan tangannya di atas meja, ikut menatap lekat sahabat yang dirindukannya. Jarak mereka sangat dekat. "Memangnya kemarin kemana sih, Nda?"

Amanda tersenyum menutupi rasa sedih yang sebenarnya dia rasakan. Hal itu sudah menjadi tekatnya. Dia harus kuat demi anaknya, dia harus tersenyum dengan mencoba mengabaikan kesedihan yang dia hadapi. Dan semua itu untuk anaknya.

Dia ingin janinnya sehat dan lahir dengan bahagia. Bukan lahir dengan wajah yang sedih karena sejak dalam kandungan ibunya selalu sedih. Seperti bayi tetangganya yang manyun saja sejak dia dilahirkan, karena ketika dalam kandungan ibunya sedih ditinggal bapaknya selingkuh.

"Aku berlibur sama temenku, Nita."

"Siapa? Pak Kenan?" Tebak Anita. Amanda memicingkan mata disaat nama Kenan di sebut.

"Larinya kok ke situ sih? Apa kamu pikir Pak Kenan itu temenku  hah?"

"Tebakanku salah ya?" Anita bertanya dengan wajah polos. Gimana Amanda gak gemas melihat raut wajah seperti anak kecil gitu. Dia terkekeh dan menyentil dahi Anita di depannya.

"Temenku itu cewek loh, Nit. Kayak kamu gitu! Cuma kamunya gak kenal aja!"

"Ooo"

"Bulet!" Sahut Amanda dengan cengiran khas dirinya. "Btw ... ada meeting gak pagi ini?"

"Libur dong! Masa tiap senin meeting? Kalo yang pimpin meeting Pak Kenan sih masih mending. Meskipun jenuh dengan bahasannya, tapi suka aja lihat orangnya. Tapi kalo yang ini?" Anita memutar bola matanya malas.

AMANDA dan Si MATA BIRUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang