EMPAT PULUH DUA

11K 1K 81
                                        


🌹Happy reading🌹

"Aku mau pipis. Kenapa? Mas mau ikut?" Amanda menaikkan sebelah alisnya dan bertanya pada Kenan dengan ketus. Raut wajahnya terlihat jutek. Tangannya berusaha melepas tangan Kenan yang menahannya untuk tidak bangkit dari sofa.

Sungguh dia kesal setengah mati karena dirinya kini tidak bisa berkutik. Kemanapun kakinya melangkah, Kenan mengekor di belakangnya. Lagi nonton TV, Kenan duduk di sebelahnya dan memainkan jemarinya. Lagi buka ponsel dan sekedar membaca chatingan teman-temannya, Kenan juga tidak membiarkannya. Ponselnya diraih dan dimasukkan ke dalam saku celananya. Jelas saja Amanda tidak mau merogoh saku itu kalau tidak mau terjatuh dalam pelukan Kenan yang mengeluarkan cengiran menggoda.

Merasa disindir, akhirnya Kenan menggeleng dan melepaskan tangan Amanda. Bibirnya mengurai senyum geli. Meskipun sikap Amanda sejak bertemu tadi selalu jutek dan ketus, tetapi dia bahagia. Rasanya lebih baik dirinya diperlakukan seperti itu, daripada orang yang dia cintai itu menghilang dan sulit untuk dihubungi.

"Hati-hati, Yang! Jangan sampe kepleset."

Amanda mencebik mendengar nasehat Kenan. 'Basi tau gak sih? Gak usah disuruh aku juga bakal hati-hati', sahutnya kesal dalam hati.

Kenan menunggu di depan kamar mandi yang berada di dekat dapur. Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri seakan tak percaya jika akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan Amanda. Euforia dalam hatinya membuat dia rela mengabaikan begitu saja pekerjaannya hari ini. Semua karena rindu yang sudah tak bisa ditahan lagi begitu mendapatkan info tentang gadisnya dari Kiara.

Yah, Kenan harus berterima kasih pada Kiara. Gadis itu yang membuat dirinya bisa bahagia saat ini. Dan rasanya dia perlu memberikan apresiasi untuk kebaikan sahabat kekasihnya itu. Entah nanti berupa apa ....

Sepuluh menit kemudian, Amanda keluar dari kamar mandi. Matanya melirik sebentar ke arah Kenan yang memperhatikan dirinya sebelum kakinya melangkah menuju ke arah dapur.

Amanda berniat mengambil air minum dan membawanya ke kamar. Punggungnya sudah terasa pegal, dan ingin rebahan barang sebentar.

"Mau kemana, Yang?" Tanya Kenan yang sudah berdiri di sebelah Amanda di depan dispenser.

"Tidur, Mas balik aja," jawab Amanda kalem.

Kenan menggeleng. "Aku tetap disini saja nemenin kamu."

"Tapi aku mau tidur!" Suara Amanda mulai meninggi, dia menatap sinis Kenan.

"Ya udah kamu tidur aja."

"Memangnya Mas gak kerja?" tanya Amanda. Pertanyaan yang diucapkan entah untuk yang ke berapa kalinya sejak dia melihat wajah Kenan.

Tapi Kenan berulangkali juga menggeleng dan masih dengan cengirannya yang terlihat tanpa dosa.

Amanda menghela napas menatap mata biru pria yang dia cintai sekaligus juga dia benci. Pikirannya berkecamuk, dan dia juga merasa heran. Kemana perginya Kenan yang dulu terlihat tenang dan dingin. Seakan tak tersentuh ketika banyak orang mengagumi dirinya baik itu fisiknya maupun keuletan kerjanya. Semuanya seakan terkikis perlahan dalam pandangan Amanda.

Kenan yang sekarang ini full senyum, tatapan matanya ketika berbicara turut menggoda. Lembut dan meluluhkan. Tapi kali ini Amanda berusaha untuk tidak terhanyut oleh pesona itu.

Amanda membuang muka dan segera membuka pintu kamar tamu yang sekarang ditempatinya. Sikapnya berusaha mengabaikan keberadaan Kenan. Tetapi hal yang tidak disangka-sangkanya adalah kaki pria itu sudah mengganjal pintu yang akan ditutupnya.

"Mas mau ngapain lagi sih?" Dengan tangan yang masih memegang kenop pintu, Amanda menoleh dengan mata membesar. Terlihat kesal.

Perlahan tangan Kenan mendorong pintu hingga semakin melebar, dan terpaksa Amanda melepas tangannya di pintu dan juga menggeser tubuh. "Mas pingin nungguin kamu tidur."

AMANDA dan Si MATA BIRUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang