"Assalamu'alaikum," suara lirih Amanda membuat semua orang yang sedang tegang menfokuskan diri ke arah ponsel Kenan.
"Wa'alaikummussalam," balas Kenan yang diikuti dengan gumaman semua orang disekitarnya.
🌹Happy reading🌹
Amanda memejamkan mata sejenak begitu dia merasakan keheningan setelah mereka yang berada di seberang sana menjawab salamnya. Tangannya tak lepas mengusap perutnya agar tidak mengalami hal yang tidak diinginkan di saat situasi lagi kurang baik buat janinnya.
Dia menggigit bibirnya berusaha menguatkan diri, meskipun saat ini detak di jantungnya semakin kencang. Rasanya selama dia hidup, baru kali ini dia mengalami hal yang seperti ini. Situasi yang menegangkan dengan dirinya sebagai terdakwa.
"Maas ...." Mata Amanda kembali membuka dan tatapannya kembali pada layar ponsel. "Tolong aku ingin bicara sama Mama ya ...." pinta Amanda dengan suara bergetar akibat menahan tangis. Perasaan bersalah tak henti-henti melingkupi seluruh tubuhnya.
Kiara di sebelahnya mengusap lembut punggung Amanda. Sebagai sahabat yang sejak remaja mengenal Amanda, dia mencoba memahami apa yang dirasakan sahabatnya saat ini. Hatinya trenyuh melihat nasib Amanda yang secepat ini berubah drastis. Dari gadis yang bebas, ceria, dan cuek ... kini terlihat muram dan tertekan.
Kiara menghela napas ....
"Sebentar, Yang!" Penampakan di layar ponsel Amanda beralih, seakan digeser ke tempat lain yang dimaksud. Dan tak lama kemudian menampilkan seraut wajah Mario yang terlihat kaku. Matanya menatap tajam Amanda dengan bibir yang terkatup rapat.
"Deek ...."
"Hmm .... Puas kan Mbak Manda sekarang? Mbak sudah bikin Mama sedih, bikin Mama kecewa."
Rasa sesak semakin terasa di dada Amanda begitu mendengar sindiran Mario. Tapi dia tidak bisa membantah, karena apa yang dikatakan Mario adalah benar adanya.
"Ma-af, Dek! Maafin Em-bak!" ucap Amanda pelan semakin menbuat tubuhnya lemas tak berdaya.
"Selama ini Mbak anggap kita ini apa sih? Mbak diam, Mbak pergi, dan sekarang Mbak ketauan hamil!" ucap Mario geram. "Apa Mbak gak kasihan sama Mama? Nih Mbak lihat sendiri nih ... kondisi Mama sekarang lagi nangisin Mbak!" Mario menggeser layar ponsel dan menunjukkan wajah Rachel yang sedang menghapus cairan dari hidungnya dengan tisu.
Mario kecewa berat pada dirinya sendiri. Dia merasa tidak bisa menjaga dan melindungi kedua wanita yang diamanatkan pada dirinya oleh almarhum papanya. Kedua wanita yang dia miliki dan dia sayangi, yang keduanya kini terlihat rapuh. Dan Mario membenci dirinya sendiri yang belum bisa membahagiakan keduanya.
"Ma ... Maafin Manda, Ma! Ma-af ... hiks!"
Pikiran Mario kembali pada kakaknya. Amanda tergugu, dia tak sanggup lagi menahan air mata menyaksikan mamanya yang terlihat rapuh. Dia menangis terisak dalam pelukan Kiara.
"Ma-af, Mama! Ma-af!"
Ucapan maaf disertai isakan menggema dari layar ponsel Kenan, seakan Amanda benar-benar ada di tengah-tengah mereka.
Kenan menunduk, mengusap cairan yang keluar dari matanya dengan jemari. Dia tak sanggup berucap lagi. Penyesalan begitu sempurna terasa dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Wanita yang dicintainya adalah gadis yang terlahir dari keluarga terhormat. Dan kini dia telah membuatnya hamil dengan status di luar nikah. Baru kini dia sadar ... seandainya saja dia memiliki anak perempuan, pasti dia akan menjaganya seperti Rachel yang menjaganya. Tapi memang dialah yang brengsek. Menodai gadis yang dicintainya hanya karena tidak bisa lagi menahan diri dari hasratnya yang sekian tahun tidak tersalurkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMANDA dan Si MATA BIRU
General FictionCerita untuk usia 21+ Kenan Alarico Samudera sudah mengenal Amanda Puteri Suhardiman selama setahun sebagai bawahannya. Bahkan seminggu sekali mereka selalu berdua di ruangan kantornya dalam suatu urusan pekerjaan. Hingga suatu saat rasa cinta yang...
