Jangan lupa tekan tanda ⭐ di pojok kiri bawah ya🤗😍
Warning : area 21+
Bagi yang sedang berpuasa Rajab, di skip dulu saja ya..🙏🙏
"Sebenarnya saya juga gak berharap oleh-oleh kok, Pak! Lihat Bapak sudah ngantor lagi aja saya sudah senang!"
"Oiya?" Pak Kenan bangkit dari duduknya dan mendekatiku. Tangannya segera meraih syal yang warna merah.
"Sini, biar aku coba pasang di leher kamu!" Ucapnya lembut.
Aku terkesiap dan tak mampu menolaknya. Kini kami berdiri saling berhadapan. Dengan posisi seperti ini, aku menjadi jengah dan salah tingkah.
🌹Happy reading🌹
Kedua tangan Pak Kenan memegang wajahku untuk menghadap lurus ke depan.
"Diam dulu di posisi ini, Nda!"
Kemudian dengan sedikit menunduk, dia mengatur posisi syal agar tepat di leherku. Bibir sexy dan dagu Pak Kenan yang sedikit bercambang itu sekarang tepat berada di hadapanku. Dan teramat menggoda imanku.
Aku bukan wanita munafik, dan aku juga wanita normal. Melihat keindahan ciptaan Tuhan seperti Pak Kenan, seketika aku memejamkan mata, tak kuat lagi menatap sesuatu yang membuat jantungku berdetak makin kencang.
"Maksud kamu tadi apa sih, Nda? Kamu senang gitu kalo saya kembali ke Surabaya?" Pertanyaan Pak Kenan membuat pikiranku sedikit teralihkan.
"Ya senang lah, Pak! Karena kalo ada Bapak, saya gak terbebani tanggung jawab lagi dengan tanda tangan di giro atau cek!" Jawabku masih dengan mata terpejam.
"Eumm gitu? Kirain ada alasan yang lain."
Aku mengedikkan bahu mencoba tak terpancing pertanyaannya. Entah kenapa, akhir-akhir ini Pak Kenan terlihat lebih santai dan lebih terbuka jika berbicara kepadaku.
"Buka saja matamu, Nda!"
"Sudah kan, Pak?" Tanyaku risih dan mengabaikan perintahnya.
Aku merasakan tangannya masih bergerak di leher dan di atas dadaku. Dan hembusan napas yang tidak teratur itu juga menerpa telingaku.
"Sedikit lagi!"
Aku berusaha menahan napas, hingga akhirnya....
"Nah! Selesai sudah!" Ucap Pak Kenan terdengar lega.
Aku baru membuka mata dan memperhatikan simpul manis yang dia buat di leher hingga dadaku.
"Cantik kan?" Tanya Pak Kenan meminta pendapatku. Aku tersenyum, dan menatap dirinya yang kini kembali duduk ke tempat semula.
"Iya syalnya cantik! Makasih, Pak!"
"Gak cuma syalnya yang cantik, Nda! Kamu juga cantik!" Ujarnya dengan mata yang berbinar menggodaku.
Aku ternganga mendengar pujian Pak Kenan, dan tak bisa menyembunyikan wajahku yang terasa memanas. Aku yakin, siapapun orangnya ketika dipuji oleh seseorang yang kita kagumi, pasti akan mengalami seperti yang aku rasakan saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMANDA dan Si MATA BIRU
Fiksi UmumCerita untuk usia 21+ Kenan Alarico Samudera sudah mengenal Amanda Puteri Suhardiman selama setahun sebagai bawahannya. Bahkan seminggu sekali mereka selalu berdua di ruangan kantornya dalam suatu urusan pekerjaan. Hingga suatu saat rasa cinta yang...
