DUA PULUH TIGA

11.9K 938 69
                                        

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, semoga tahun ini ibadahnya jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Aamiin😇

🌹Happy reading🌹

Seperti hari-hari yang lalu, dua hari ini pun Pak Kenan tidak memberikan kabar apapun kepadaku. Apakah dirinya sudah selamat sampai di Jakarta kek, ataukah cerita hal lain yang berhubungan dengan pekerjaannya kek, semuanya tidak aku ketahui. Aku tidak mengetahui informasi apapun tentang dirinya, kecuali hal yang berhubungan dengan isterinya yang sakit. Itupun dia yang bercerita untuk meyakinkan aku.

Ingin rasanya aku bertanya sama Mas Zulkifli, tapi aku merasa gak enak juga. Akhirnya aku pun membiarkannya saja. Meskipun ada rasa kecewa, tapi aku tak ingin mengemis perhatian dari Pak Kenan dengan mengirim chat terlebih dahulu, kecuali hal yang sangat penting sekali.

Tapi ketenangan hatiku kan juga penting?

Tapi jika hari-hari yang lalu aku merasakan galau setengah mati ketika tidak mengetahui kabar darinya, maka untuk kali ini aku berusaha dan belajar untuk bisa menerima. Meskipun sulit ....

Karena sewaktu di perjalanan dari rumahku ke apartemennya, dia menjelaskan kenapa dia tidak mengirimkan chat atau melakukan telepon denganku. Alasan Pak Kenan adalah ... jika dia mendengar suaraku atau chat sama aku, dia gak akan sanggup menahan rindu. Inginnya segera bertemu, tapi masalahnya ... urusan dia itu gak bisa ditinggal. Makanya dia bertahan. Masuk akal gak sih?

Benar atau tidak apa yang dia katakan ... aku tidak tahu, dan aku berusaha untuk tidak peduli. Yang aku yakini, Pak Kenan sangat mencintaiku seperti aku yang juga mencintainya.

Hingga aku terbuai dan menyerahkan apa yang seharusnya aku jaga.

Menyesalkah aku? Jawabannya ... tentu jelas aku menyesal. Tapi sekali lagi, aku tidak menyalahkan siapapun kecuali diriku sendiri.

Dan untuk kali ini aku masih memegang alasannya kenapa dia tidak menghubungiku, tapi aku tak mau berpikiran buruk tentang Pak Kenan di luar sana. Aku berusaha untuk mempercayai dirinya, dan meyakini bahwa Pak Kenan adalah orang yang setia, titik.

Melamun dan berpikir tentang Pak Kenan di jalan, disaat berkendara tentulah hal yang berbahaya. Tetapi bersyukurnya aku, sampai di depan pagar rumah dengan selamat.

Aku yang pulang kerja dengan raut wajah lelah, mendapati mamaku sudah berada di ruang tengah. Beliau duduk manis di sofa dengan setoples cemilan di pangkuan. Terlihat sangat nyaman di posisinya yang memegang remote di tangan kiri, dan menonton acara kesukaannya di televisi.

Senyumnya langsung merekah begitu melihatku. Aku segera mendekat dan mencium tangannya lagi setelah seminggu absen tak merasakan harumnya tangan yang sudah keriput milik mama.

"Mama betah banget sih di sana? Tadi pulangnya sendiri atau diantar sama Mario?" Mataku mengedar mencari keberadaan Mario, tapi di lantai bawah tidak ada, suaranya pun tak terdengar.

"Adikmu lagi tidur, tadi dia kecapekan. Semalam habis jaga, pulangnya langsung antar Mama ke sini!" Aku mendudukkan diriku di samping mama, dan meraih toples yang berisi keripik nangka yang disodorkan mama.

"Memangnya dia libur, Ma? Kok bisa nganterin Mama pulang?"

"Ijin, sekalian dia bawa sebagian barang-barangnya balik ke sini. Bulan depan adikmu kan sudah selesai tugasnya!"

"Terus mobilnya?" Mobil Mario memang dibawa ke tempat tugasnya, sementara mobil peninggalan papaku masih setia jadi penghuni garasi. Hanya sewaktu-waktu dia keluar kalau aku lagi butuh bepergian bersama mama.

AMANDA dan Si MATA BIRUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang