Selamat Idul Fitri buat pembaca setia cerita ini.
Mohon maaf lahir dan batin.
🙏🙏
🌹Happy reading🌹
Untuk yang kesekian kalinya Amanda mematut dirinya di hadapan cermin. Seolah belum percaya diri dengan apa yang dia kenakan, matanya memperhatikan lagi dress selutut warna biru yang menghias tubuh langsingnya. Setelah itu perhatiannya beralih ke rambutnya yang ikal yang sudah tersisir rapi hingga pinggang.
Ya, perasaan Amanda yang sedang tidak baik-baik sajalah yang membuat dirinya mondar-mandir di kamar dengan mata yang sesekali menatap cermin. Semua itu dikarenakan Kenan akan datang ke rumahnya dengan tujuan mendekati mamanya dan menjelaskan sekali lagi keinginannya untuk menikahi dirinya.
Sekali lagi Amanda berdiri di hadapan cermin. Menarik napas ... dan membuangnya perlahan. Sekali lagi seperti itu. Hingga ketika akan yang ketiga kali ... suara mamanya yang memanggil namanya membuat dia menghentikan gerakannya.
Dengan gugup dia membuka pintu kamar. "Ada apa, Ma?" Sahutnya dari tangga atas rumahnya.
"Ada tamu, turun dulu!"
Amanda menghembuskan napasnya dengan kasar sebelum dengan pelan dia menapaki tangga untuk turun. Bibirnya komat-kamit mengucap doa, hingga dia sampai di ruang tamu dan melihat wajah tampan Kenan yang sudah duduk di salah satu sofa.
Hatinya berdebar.
Apalagi ketika mata mamanya memperhatikan penampilannya yang mungkin tidak biasa. Memang salahnya Amanda juga. Dia tidak memberitahu mamanya terlebih dahulu jika Kenan akan datang berkunjung. Ada kekhawatiran dalam diri Amanda jika dia memberitahu, mamanya akan berkomentar negatif tentang Kenan. Dan dia belum siap untuk itu.
"Selamat malam, Manda!" Sapa Kenan dengan senyumannya, yang seketika itu juga menghapus sebagian ketegangan dalam diri Amanda.
"Malam juga, Pak." Amanda membalas senyuman Kenan dengan kaku. Dia mengambil duduk di sofa single yang berhadapan dengan Kenan. Sementara mamanya menempati duduknya di sofa panjang.
"Kamu ada janjian sama Nak Kenan ya, Nda?" Tanya Rachel langsung. Meskipun suara mamanya terdengar lirih, tapi mampu membuat jantung Amanda berdetak lebih kencang.
"I-iya, Ma."
"Memangnya mau kemana, Nak Ken?" Kini Rachel beralih menatap Kenan. Karena sesungguhnya dia merasa heran, kenapa Kenan datang ke rumahnya di hari senin. Jika itu urusan kantor, kenapa harus dia yang mendatangi Amanda. Bukankah Manda juga baru datang dari kantornya.
"Gak kemana-mana kok, Tan. Cuma pingin main ke sini saja."
"Ooo ...." Kedua mata Rachel menyipit. "Tumben?" Kenan tersenyum lagi masih dengan sikapnya yang terlihat tenang. Meskipun kenyataannya hatinya sedang was-was. Yang dihadapinya sekarang ini bukanlah orang biasa, yang dihadapinya kali ini adalah calon mertuanya.
"Karena ada yang mau saya bicarakan sama Tante."
"Oiya?" Kedua alis Rachel mulai menaut. Amanda menghela napas, dia segera beranjak ke dalam rumahnya untuk membuatkan minuman. Daripada di ruang tamu jantungnya menjadi berjumpalitan merasa serba salah.
"Tentang apa itu, Nak Ken?" Lanjut Rachel.
Kenan memperhatikan punggung Amanda yang menghilang sebelum bibirnya mengungkapkan maksud kedatangannya.
"Tentang hubungan saya sama Amanda, Tan."
"Maksudnya? Bukankah hubungan kalian itu urusan kantor kan? Kenapa kok Tante jadi diikut-ikutkan?" Nada suara Rachel mulai meninggi dan sinis. Dari pembicaraan di restoran kemarin, Rachel sedikit banyak merasa curiga dengan kedatangan bos anaknya saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMANDA dan Si MATA BIRU
Fiksi UmumCerita untuk usia 21+ Kenan Alarico Samudera sudah mengenal Amanda Puteri Suhardiman selama setahun sebagai bawahannya. Bahkan seminggu sekali mereka selalu berdua di ruangan kantornya dalam suatu urusan pekerjaan. Hingga suatu saat rasa cinta yang...
