DUA PULUH DUA

13.6K 942 69
                                        

🌹Happy reading🌹

Aku menghela napas dengan tubuh menghadap cermin. Memandang ke dada dan leherku, yang meskipun sudah dua hari, masih saja terlihat beberapa bercak merah kehitaman yang belum hilang di area dada. Dan juga masih tersisa satu di leher tapi sudah terlihat samar. Padahal sepulang dari apartemen Pak Kenan aku sudah berusaha menggosoknya, dan memberikan minyak oles agar tidak terlalu membekas.

Pria berdarah luar itu memang agak beringas. Entah apa karena lama tak berhubungan dengan wanita? Ataukah cara dia 'bermain' memang seperti itu? Menghanyutkan dan liar, membuat 'milikku' terasa nyeri hingga kini.

Untung saja mamaku sedang tidak berada di rumah, jadi aku tidak perlu memberikan alasan apapun ketika cara jalanku yang tidak seperti biasa. Aku juga tidak membeli obat pencegah kehamilan, karena aku merasa jengah jika harus membelinya dan bertanya-tanya pada petugas apotik. Apalagi jadwal menstruasiku juga sebentar lagi datang, meskipun kadangkala mundur hingga beberapa hari.

Aku melirik jam dinding, sudah waktunya aku harus turun dan berangkat bekerja. Perutku juga sudah melilit minta diisi, dan di bawah pasti ada Bi Sumi yang sudah menyiapkan sarapanku. Aku bergegas mengenakan seragam kerjaku setelah memberikan concealer di leher. Kemudian mematut sebentar di depan cermin, sebelum meraih tas dan ponselku.

Hampir satu jam kemudian, aku sudah sampai di halaman Samudera. Setelah memarkir sepeda motor dan memberikan sekilas senyuman buat sang penjaga parkir, aku segera memasuki lobby untuk melakukan absensi.

Baru saja menginjak lantai lobby,  mataku langsung terpaku pada sosok Pak Kenan yang duduk di kursi pembelian dan menghadap ke arah pintu. Dia tersenyum melihat kehadiranku. Entah senyum itu apa juga ditujukan buat pegawai yang lainnya, karena selama ini aku tidak sebegitu memperhatikannya.

"Selamat pagi, Pak!" Sapaku berusaha formal dengan membalas senyumnya. Ada rasa canggung ketika mata kami saling bertatapan. Karena sejak dia mengantarku pulang sabtu malam itu, aku baru bertemu lagi sekarang ini. Tapi untuk chat aku selalu membalasnya, begitu juga ketika dia menelepon kemarin.

"Pagi juga, Manda!" Balasnya dengan terus menatapku. Akhirnya aku berusaha mengabaikan tatapannya. Setelah melakukan finger print, aku bergegas masuk ke ruanganku dan menutupnya rapat. Mengambil remote untuk menyalakan AC, dan segera mendudukkan diriku di kursi. Sekilas aku melirik keluar kaca ruanganku, dan melihat Pak Kenan yang masih dalam posisinya,  menyaksikan pegawainya datang satu persatu. Hal ini yang terkadang membuat kami para pegawainya merasa tak enak hati jika kepergok datang terlambat.

Aku menyalakan komputer terlebih dahulu sebelum menunduk dan berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk kemudahan pekerjaanku. Meskipun aku begitu banyak dosa, aku masih berharap Tuhan mau mengampuniku dan mengabulkan semua doa-doaku.

Aku mendongak dan menghela napas. Ada Pak Kenan yang membuka pintu dan memasuki ruanganku, ketika melihat aku sudah menyelesaikan doa. Dia menatap lekat mataku dengan raut wajah sendu.

"Yang!"

"Hmm?" Aku menaikkan dagu menatap dirinya.

"Kamu gak pa pa kan? Apa masih terasa sakit?" Tanyanya pelan dan lirih. Aku melirik pintu yang masih setengah terbuka. Pak Kenan menyadari itu dan dia langsung menutupnya.

"Sedikit, Mas!"

"Sudah minum obat?" Aku menggeleng.

"Buat apa?"

"Kalo sampe isi gimana? Kita nikah aja ya? Sabtu nanti aku ajak orang tuaku melamarmu ya?" Aku tersenyum lebar dan menggelengkan kepala. Pak Kenan ini begitu besar perhatian dan rasa khawatirnya.

AMANDA dan Si MATA BIRUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang