🌹Happy reading🌹
Pagar bercat hitam setinggi 2 meter itu melindungi rumah bercat warna abu dan putih yang pintu depannya sudah terbuka lebar. Rumah minimalis itu terkesan hidup lagi setelah beberapa tahun yang lalu ditinggal pergi oleh sang pemilik. Di garasinya yang terbuka, terlihat sebuah mobil berplat Semarang dan juga sebuah sepeda motor.
Dan kini aku berdiri di depannya, dengan satu tangan yang membawa satu kotak berisi brownis buatan mama. Entah nantinya orang yang diberi ini suka ataukah tidak, tetapi aku yakin, kue buatan mamaku selalu enak dan bikin ketagihan.
Aku menekan bel yang berada di samping tembok pembatas. Kemudian menunggu beberapa detik, hingga dari dalam rumah muncul seorang pria yang mengenakan kaos oblong warna putih dan bercelana selutut.
"Pagi, Pak!" Sapaku ketika dia melihatku. Langkahnya mendekat dengan mata memicing. Aku tersenyum ketika pintu pagarnya dia buka selebar tubuhku.
"Pagi, maaf mau cari siapa ya, Bu?" Aku menggeram dalam hati ketika dia memanggilku 'Bu' sebagai balasan ketika aku memanggil dirinya 'Pak'.
Aku segera mengulurkan kotak yang aku bawa, yang dengan segera dia terima. "Dari Ibu Rachel. Rumah pagar putih itu!" Aku menunjuk rumahku dengan dagu.
"Bu Hardi?"
Aku mengangguk. "Yah, itu mamaku!"
Dia tersenyum. Entah siapa namanya aku lupa tanya sama mama.
"Kamu anaknya Bu Hardi?"
"Iya, masa adiknya sih, Mas?" Jawabku berseloroh. Dia terkekeh pelan. Cakep sih, ada lesung di pipinya ketika tertawa. Dia mengulurkan tangannya kepadaku.
"Kenalin, namaku Bram, Bramantyo Adi Brata. Aku pindahan dari Semarang!" Aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya.
"Aku Manda. Amanda Puteri Suhardiman! Senang berkenalan denganmu, Mas Bram!" Ucapku sebelum melepas tanganku dan merubah panggilannya menjadi 'Mas'.
"Ayo, mau masuk dulu! Ada ibuku tuh di dalam!" Pria yang aku panggil Mas Bram itu menggeser tubuhnya memberiku jalan untuk masuk. Aku menggeleng masih dengan senyumku.
"Maaf, Mas! Setengah jam lagi saya mesti berangkat bekerja. Lain hari kalo pas senggang aja saya ke sini ketemu Tante!"
Dia mengedikkan bahu. "Ok, gak masalah! Memangnya kamu kerja dimana?"
"Di Samudera grosir!" Kataku dengan menyebutkan lokasi dan jenis usaha tempatku bekerja. Dia manggut-manggut, entah paham atau tidak aku tak peduli. Karena tak berapa lama kemudian aku segera pamit undur diri.
Sesampai di pintu pagarku yang berjarak sekitar 15 meter dari rumahnya, aku kembali menoleh. Dan mendapati Mas Bram yang masih berdiri di posisinya tadi dengan memandangku. Aku mengangguk sebentar sekedar berbasa-basi sebelum melangkah ke teras.
"Sudah kenalannya?" Tegur mama. Aku tahu mamaku yang duduk di kursi teras dari tadi itu mengulum senyum dan mencoba memancing pendapatku tentang Mas Bram.
"Sudah, Ma!" Jawabku singkat sebelum memasuki rumah. Mama mengikutiku di belakang. Terselip rasa geli dalam hati melihat sikapnya. Mungkin di luar sana, semua mama akan bersikap seperti mamaku jika memiliki anak gadis yang belum menikah. Ada laki-laki bening sedikit dengan profesi yang menurutnya mapan, sudah mengharapkan dia akan jadi pasangan anaknya.
Kenapa aku bilang Mas Bram itu laki-laki bening sedikit? Ya karena menurutku, Mas Bram itu sosok yang secara fisik memang gak jelek, tetapi juga gak terlalu tampan. Tubuhnya jangkung cenderung kurus, kulitnya kecoklatan, memiliki lesung di pipi, dan berkaca mata. Kalau dibandingkan dengan Pak Kenan ... ya agak jauhlah. Pak Kenan itu cakep banget, macho, dan yang jelas membuat aku terpesona.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMANDA dan Si MATA BIRU
Ficción GeneralCerita untuk usia 21+ Kenan Alarico Samudera sudah mengenal Amanda Puteri Suhardiman selama setahun sebagai bawahannya. Bahkan seminggu sekali mereka selalu berdua di ruangan kantornya dalam suatu urusan pekerjaan. Hingga suatu saat rasa cinta yang...
