SEMBILAN BELAS

13.7K 1K 65
                                        

Aku membiarkan saja tangannya mengusap rambutku, karena tanganku sedang sibuk mengisi lauk di piringku. Tapi kemudian yang membuatku gak menyangka, tiba-tiba saja dia meraih tanganku dan menjilat serta mengulum jemariku yang terkena cipratan bumbu lauk.

Aku kaget dengan sikapnya dan berusaha menarik jemariku, tapi ditahannya hingga jemariku bersih. Kemudian dia meraih tisu dan membersihkan jariku bekas kuluman bibir sexy nya.

Aku menatapnya spechless.

"Daripada mubadzir, Nda!" Ujarnya dengan senyum menggoda.

🌹Happy reading🌹

"Lepasin, Pak! Jorok tau ih!" Aku bergidik dan menarik tanganku. Tubuhku yang beberapa saat yang lalu seperti tersengat listrik kini memanas. Siapa yang tidak akan kaget diperlakukan mesra seperti itu?

"Tadi belanja apa aja, Nda?" Tanya Pak Kenan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.

"Bahan kue pesanan Mama saya." Aku menoleh sekilas ke arahnya sebelum menyuapkan nasi juga ke mulutku.

"Mamamu rajin bikin kue dong?"

Aku mengedikkan bahu. "Buat pengisi waktu senggangnya aja kok, Pak!"

Dia manggut-manggut. Tapi tiba-tiba aku yang sedang menunduk dan memperhatikan nasiku untuk melakukan suapan lagi, dikejutkan dengan tangan Pak Kenan yang terulur. Ujung garpu yang terdapat kikil atau tunjang kini ada di depan mulutku. Aku mendongak dan menatap wajahnya kaget.

"Cobain deh! Enak ini!" Tawarnya  penuh harap. "Kalo yang ini bekas gigitanku, dan yang itu belum!" Dia menunjuk dengan dagunya ke arah yang dimaksud.

Aku menggeleng, "buat Bapak aja! Saya kan sudah ada rendang ini belum dimakan juga!"

"Gak pa pa, Nda! Segigiit aja!" Ujarnya memaksa.

Aku memperhatikan garpu di depan mataku, dan akhirnya aku menggigit sedikit ujung kikil untuk memenuhi keinginan Pak Kenan. Sambil mengunyah aku menatap kembali wajah bosku yang kini tersenyum memperhatikan aku.

"Enak kan?"

"Enak!" Jawabku setelah beberapa saat merasakan. "Sekarang Bapak makan gih! Nanti nasinya jadi gak enak kalo Bapak merhatiin saya terus!"

Senyumnya merekah melihat perhatianku. Digigitnya bekas gigitanku tadi dan membuatku terperangah. "Iya, Nda! Memang enak kikilnya ya! Gak sama dengan yang biasa aku beli!"

Sindiran atau pujian, atau apapun itu, yang jelas ada rasa hangat di hatiku melihat sikap romantisnya sedari tadi.

Akhirnya kami menghabiskan makanan dalam diam. Aku sendiri juga gak punya banyak waktu lagi. Beberapa menit lagi jam istirahat sudah berakhir, dan aku tak mau supplier di depan ruanganku menunggu terlalu lama.

"Bapak tadi bilang ada yang mau dibicarakan sama saya, apa itu?" Tanyaku setelah selesai makan dan meja depan sofa juga telah bersih.

Pak Kenan menatapku sekilas sebelum membuka ponselnya dan menunjukkannya kepadaku. Aku gelagapan dengan sikapnya.

"Apa maksudnya ini, Pak?" Aku memperhatikan foto di ponselnya.

Pak Kenan tersenyum dengan raut wajah sendu. Dia bangkit dari duduknya dan kemudian jongkok di sebelahku yang duduk di sofa single. Tangannya kembali menunjukkan foto perempuan bule berwajah pucat yang tubuhnya dipenuhi oleh alat-alat yang tersambung ke sebuah monitor di sampingnya.

AMANDA dan Si MATA BIRUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang