Jangan lupa tekan tanda ⭐ di pojok kiri bawah ya🤗😍
Hai..siapa yang di chapter kemarin merasa kena prank?
😂😂
Kalo lihat dari komentar kalian sih, banyak tuh yang sudah kena prank..😜💃💃
🌹Happy reading🌹
⛲ AMANDA POV
Udara dingin terasa semakin menusuk tulangku dan membuatku menggigil ketika aku membuka mata dan menyibak selimut di pagi hari menjelang subuh. Aku menolehkan kepala ke sampingku, ada Anita yang meringkuk kedinginan seperti bayi. Tinggal memberi botol susu saja dan memfotonya, pasti akan viral di dunia maya.
Aku jadi tersenyum geli sendiri sebelum mendudukkan diri dan meraih air putih di atas nakas.
"Eumm..jam berapa sekarang, Nda?" Suara serak Anita disertai dengan lenguhan ketika dia meregangkan tubuh membuatku melihat lagi ke arahnya.
"Sepuluh menit lagi adzan subuh, kamu mau bangun gak?"
Masih dalam posisi miring, Anita menarik lagi selimutnya yang tersingkap. "Nanti aja, Nda! Dingin banget nih! Berapa derajat sih?"
Aku terkekeh melihat Anita yang ikut menggigil. Kota Batu memang identik berhawa dingin, ditambah lagi dengan musim hujan, jadi semakin dingin saja. Aku segera melihat ke layar ponsel yang menampilkan suhu udara terkini.
Woww...pantesan, tanpa sadar lidahku berdecak.
"Dua belas derajat, Nit. Kalo dipake tidur ya dingin. Mending dipake gerak! Atau kita jalan-jalan aja yuk habis sholat!"
"Lagi malas, Nda! Habis subuh aku mau tidur lagi aja!"
Dasar Anita suka ngebo. Sayang banget sih kalo memanfaatkan momen wisata ke kota lain cuma dipakai tidur saja. Mendingan melihat pemandangan yang menyegarkan mata dan menghirup udara bersih buat melonggarkan paru-paru.
Aku mengedikkan bahu dan menatapnya lesu. "Ya udah terserah kamu, Nit!"
Aku beranjak dari dudukku dan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Yah..di rumah Bunda Hanum memang dilengkapi dengan kamar mandi di setiap kamarnya. Kamar mandi sederhana, hanya closet duduk dan shower dengan air panas. Karena udara dingin membuat kita mudah buang air kecil. Jadi ketika butuh untuk itu, kita gak perlu bolak balik lagi keluar kamar.
Setelah membersihkan diri dan menunaikan kwajiban ku, aku segera membangunkan Anita untuk sholat subuh. Setelah itu aku bergegas keluar kamar menuju ke ruang tengah. Sudah ada Bunda Hanum di sana. Dia sedang duduk manis dengan sebuah buku di tangan. Sepertinya buku agama...
"Aku bikinin teh ya, Bun?"
"Teh tawar buat Bunda ya..kalo Ayah kopi hitam sama satu sendok gula!" Jawab Bunda dengan menurunkan sedikit kaca mata bacanya.
"Ok..siap, Bun! Ayah masih di mushola kan?"
"Sebentar lagi juga balik. Nita nya mana? Kok belum kelihatan, Nda?" Aku menghentikan langkah kakiku yang akan ke dapur, menoleh lagi ke Bunda.
"Biasa Bun, kalo dia lagi libur, habis sholat tidur lagi!"
"Ooo!"
'Bulet!' sahutku iseng tapi dalam hati.
Letak dapur yang tidak jauh dari ruang tengah, membuatku mendengar ucapan salam Ayah yang baru datang dari sholat berjamaah.
Ayah Arkhan, adalah pria yang sholeh dan penyabar. Dia juga seumuran dengan ayah kandungku. Pria asli kota Batu yang bekerja sebagai petani dan pedagang buah. Memiliki lahan luas yang ditanami dengan buah jeruk dan apel, hasilnya kemudian dijual. Belum lagi dia juga pemilik vila delapan kamar yang berada tepat di sebelah rumah yang kini mereka tinggali.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMANDA dan Si MATA BIRU
Ficción GeneralCerita untuk usia 21+ Kenan Alarico Samudera sudah mengenal Amanda Puteri Suhardiman selama setahun sebagai bawahannya. Bahkan seminggu sekali mereka selalu berdua di ruangan kantornya dalam suatu urusan pekerjaan. Hingga suatu saat rasa cinta yang...
