Chapter panjang, 3.000 kata lebih. Semoga kalian suka dan gak lupa kasih vote atau comment😍🤗
🌹Happy reading🌹
Aku membuka mata begitu mendengar bunyi panggilan dari ponsel yang terasa ada di dekatku. Untuk sejenak aku mengerjap dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mataku dan membiarkan saja hingga deringnya menghilang. Entah siapa yang menghubungiku.
Begitu kesadaranku terkumpul kembali, aku baru membuka mata dengan lebar dan menyadari di mana saat ini aku berada.
Ruang kantor Pak Kenan....
"Aakh!" Tiba-tiba rasa nyeri menyerang kepalaku disaat aku mendudukkan diri dari posisiku sebelumnya. Aku meringis seraya memijat pelan pelipisku, berharap rasa sakitnya segera menghilang. Dan ponselku yang berada di atas meja pun berbunyi lagi. Aku meraihnya dengan tubuh yang terasa lemas.
Anita zemook calling ....
"Hal ... !"
"Nda! Kamu dimana, Nda?" Suara Anita memotong sapaanku dan menyentak indera pendengaranku. Aku yang kaget segera mengedarkan mata berusaha mencari sosok pemilik ruangan. Di kursinya kosong, hanya jas warna navy nya yang tersampir di sandaran.
"Ekhemm!" Suaraku seperti tercekat di tenggorokan ketika ingin bersuara. "A-aku di ... ruangan Pak Kenan, Nita."
Jawabku terbata.
"Hah! Ngapain? Pak Kenan aja dari tadi muter-muter terus dari ruangan yang satu ke ruangan yang lain!" Seru Anita dan aku berharap tidak ada orang di sekitar dia yang mendengar teriakannya.
Aku meraih air putih yang ada di meja sebelum menjawab pertanyaan Anita, dan kemudian meneguknya hingga tandas. Ada rasa sedikit lega di tenggorokan.
"Aku tidur ... eumm ... maksudku habis minum obat aku ketiduran di sofa kantornya Pak Kenan," jawabku masih dengan suara lirih.
"Hah!" Aku menjauhkan lagi ponsel dari telingaku dan menatap photo profil Anita di layar ponsel dengan geram. Bahaya, bisa pecah gendang telingaku jika terus-terusan mendengar teriakannya.
"Kamu tuh jadi teman dekatku kok ya gak peka banget sih, Nit. Dari pagi tadi kepalaku tuh pusing, tapi kamu juga gak perhatian. Untung saja Pak Kenan tadi kasih obat dan aku disuruh tidur di ruangannya." Aku sedikit ngomel tapi dengan suara lirih. Tubuhku masih terasa lemas, dan perutku juga mulai lapar.
"Peka sih, Nda! Cuma keburu lihat wajah Pak Kenan yang kayak banteng ngamuk tadi ... aku jadi lupa sama kepekaanku." Suaranya sudah berubah, tidak berteriak seperti tadi.
"Alasan!"
Anita terkekeh di seberang telepon. "Gimana kondisimu sekarang? Sudah baikan to? Apa kamu gak pingin pulang dan masih kerasan di situ?"
"Hah! Pulang? Masih jam berapa ini?" Tanyaku spontan. Kekehan Anita kini berubah menjadi tawa.
"Tuh kan, gantian kamu yang haheho sekarang. Sudah jam satu ini, Non! Kalo masih betah di atas ya silakan saja. Tapi jangan lupa kunci ruanganmu dulu! Aku gak mungkin jadi satpam di sini menunggui orang pacaran."
"Lho! Siapa juga yang pacaran, Nita?"
"Lha lho lha lho ... mau turun apa enggak? Lobby udah mulai sepi ini. Udah pada pulang, aku juga sudah ditunggu Ryan di depan, Nda!"
"Tunggu! Tunggu sebentar, Nit! Aku on the way ini. Cuma kepalaku masih sedikit pening." Ucapku seraya mencoba bangkit berdiri.
"Ya udah kalo gitu tetap di sana dulu! Sekarang kunci ruanganmu kamu taruh dimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
AMANDA dan Si MATA BIRU
Fiksi UmumCerita untuk usia 21+ Kenan Alarico Samudera sudah mengenal Amanda Puteri Suhardiman selama setahun sebagai bawahannya. Bahkan seminggu sekali mereka selalu berdua di ruangan kantornya dalam suatu urusan pekerjaan. Hingga suatu saat rasa cinta yang...
