Kalau kalian suka dan menyimpan cerita ini di library kalian, kenapa masih malas juga untuk kasih vote nya?🤔
🌹Happy reading🌹
Warning : 21+
⛲ KENAN POV
Memasuki sebuah kamar di salah satu hotel terbaik di kota Batu, aku baru benar-benar merasakan kelelahan secara fisik. Tiga hari bekerja terus menerus hingga larut malam, dan kurangnya tidur di setiap harinya membuat tubuhku memberontak untuk diistirahatkan yang benar-benar istirahat. Dalam artian tanpa memikirkan beban pekerjaan yang harus aku selesaikan tepat pada waktunya.
Kalau secara psikis, jujur aku sangat bahagia. Ada rasa semangat untuk menjalani hidup yang lebih berwarna dengan kehadiran Amanda di dalam hidupku.
Gadis itu sangat menggemaskan dan sulit untuk ditebak. Kadang aku melihat ada binar cinta di matanya ketika menatapku, tetapi tak jarang juga dia terlihat kesal dan menghindar dariku. Membuatku bingung. Dia terlihat jinak-jinak merpati, kadang terasa dia dekat sekali, tetapi ketika akan ku sentuh, dia menjauh. Membuat diriku ini tertantang untuk mengejarnya.
Aku segera mengambil pakaian pengganti untuk aku tidur malam ini. Rasa gerah sudah mulai menggelayuti tubuhku. Apalagi springbed di ruangan ini seolah-olah merayuku untuk segera menaikinya meskipun jam di tanganku masih menunjukkan jam 6.30 petang. Masih sore....
Aku segera melepas kaos yang aku kenakan seharian ini, dan segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa lelah dan dinginnya kota Batu seketika hilang tersiram air hangat dari shower.
Tiba-tiba pikiranku melayang ke Amanda. Sedang apa dirinya saat ini? Mandi juga kah? Ataukah lagi melepas rindu dan mengobrol dengan Tante dan Omnya kah? Memang tadi dia menolak untuk aku antar ke rumah yang menjadi tujuannya, karena Om nya kebetulan lagi di jalan, sekalian menjemput dirinya dan Anita di alun-alun. Jadilah aku tadi berpisah dengan dirinya di sana.
Sungguh rasanya berat, ketika dekat terus dijauhkan dengan orang yang kita cintai. Tapi mau gimana lagi, aku tidak mungkin grusa grusu menyampaikan apa yang aku rasakan. Bisa-bisa dia akan melarikan diri dari hadapanku dan nantinya aku yang akan rugi sendiri.
Tadinya aku tidak berpikir sama sekali kalau akan ada orang ketiga, atau Anita yang akan menjadi pengganggu rencanaku sejak pagi. Karena tadinya aku hanya ingin menikmati perjalanan berdua dengan Amanda yang kebetulan memang satu tujuan dengan rencana ku sebelumnya.
Tetapi daripada dia menolak pergi bersamaku, ya lebih baik aku iya kan saja ketika dia bilang akan ke Batu bersama dengan sahabatnya itu.
Setelah sepuluh menitan aku memikirkan cewek itu, akhirnya aku segera menyelesaikan mandiku dan kembali memasuki kamar. Udara dingin kembali menusuk tulangku.
Aku segera meraih kaos lengan panjang untuk membungkus tubuh besarku. Setelah melakukan kwajiban dan meletakkan ponsel di nakas, aku segera merebahkan diri. Perutku sudah kenyang dan mataku sudah sangat mengantuk.
Ingin rasanya segera memejamkan mata, tetapi aku telah melupakan untuk mengganti mode ponselku ke silent, sehingga terdengar telpon masuk yang mengganggu pendengaranku.
Sekilas aku melihat nama yang tertera di layar ponsel, sebelum akhirnya aku biarkan saja hingga suara deringnya berakhir. Panggilan kedua pun berbunyi..masih aku biarkan saja. Tetapi disaat panggilan ketiga sudah mengganggu ketenanganku, aku sudah tak tahan lagi...
Aku bangkit dan mendudukkan diriku di pinggir ranjang, aku meraih ponselku kembali.
"Ada apa Ran?" Aku bertanya dengan kesal setelah menggeser warna hijau di ponsel dan mengetahui siapa yang menghubungiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
AMANDA dan Si MATA BIRU
Ficción GeneralCerita untuk usia 21+ Kenan Alarico Samudera sudah mengenal Amanda Puteri Suhardiman selama setahun sebagai bawahannya. Bahkan seminggu sekali mereka selalu berdua di ruangan kantornya dalam suatu urusan pekerjaan. Hingga suatu saat rasa cinta yang...
