DUA BELAS

14.7K 1.1K 102
                                        

Jangan lupa tekan tanda ⭐ di pojok kiri bawah ya🤗😍

🌹Happy reading🌹

"Ma, aku besok ke rumah Bunda Hanum ya?" Aku meminta ijin ke mamaku ketika mendudukkan diri di sebelahnya di depan TV. Mata mama yang tadinya fokus menatap layar TV empat puluh inch, dan menonton acara sinetron yang lagi booming, seketika beralih menatapku. Dahinya mengernyit.

Bunda Hanum adalah adik satu-satunya mamaku yang sejak menikah tinggal di Batu, Malang. Beliau tidak memiliki anak, dan sudah menganggap aku ini seperti anaknya sendiri.

"Memangnya kamu senin cuti?"

"Cuti?" Aku mencebikkan bibir sambil menggelengkan kepala.

"Mana bisa, Ma? Tau sendiri kan kalo kerjaanku gak ada serepnya!"

"Lha terus?"

"Aku minggu sore balik, Ma. Atau kalo kondisinya gak memungkinkan untuk balik, ya senin pagi aja langsung berangkat kerja."

"Halah, nanti mengeluh, capek Ma, capek Ma?" Sindir mama.

Aku terkekeh melihat gaya bicara mama yang sengaja mengolokku.

Memang sih, biasanya aku kalau ke rumah bunda itu kalau ada tanggal merah yang gandeng dengan hari minggu, jadi bisa menginap hingga dua malam. Lumayan lah di sana refreshing menikmati udara dingin kota Batu dan sekalian jalan-jalan mencari susu sapi segar sama ketan sambal di alun-alun.

"Gimana lagi, Ma? Aku udah kangen banget sama Bunda. Lagian sudah lama juga gak ke sana kan?" Aku merengek dengan kepala yang aku sandarkan di bahunya.

"Ya udah terserah kamu saja!"

"Memangnya Mama gak mau ikutan? Siapa tau Mama juga kangen sama Bunda?" Aku yang baru menyandar kini mendongak kembali dan menatap wajah cantik mamaku yang tak hilang dimakan usia.

Dia menggeleng, fokus matanya kembali lagi ke layar televisi.

"Enggak, Nda. Minggu besok Mama sudah ada acara sendiri. Lagian hampir tiap hari Mama video call an sama Bundamu."

"Memangnya minggu ada acara apaan, Ma?" Tanyaku kepo.

"Ziarah Wali Lima."

"Ooo!" Aku manggut-manggut.

"Sama siapa?"

"Sama ibu-ibu komplek sini lah, Nda. Memangnya sama siapa lagi?"

Tanganku meraih keripik pisang di toples yang dari tadi teronggok di meja. Mengundangku untuk memakannya. Lumayan renyah dan manis.

"Siapa tau Mama ada kecantol gitu sama opa-opa?!" Ujarku dengan mulut yang mengunyah keripik pelan-pelan.

"Hah?" Mama menoleh dengan menepuk pahaku lumayan keras, membuatku sedikit terjengat kaget dengan reaksinya. Tanganku segera menutup mulutku. Tadinya aku cuma iseng menggoda mama, lagipula siapa juga yang mau memiliki papa tiri.

"Ngaco nih anak! Mama sudah tua gak mau mikir yang aneh-aneh!" Seru mama dengan menatap wajahku, terlihat kesal.

Aku tertawa dan kembali mengunyah pelan keripikku.

"Siapa tau Mama mengalami kesepian sendiri di rumah?"

"Kan ada Bi Sumi?"

"Iya sih, aku kan cuma mengira-ngira aja. Siapa tau Mama punya keinginan terselubung?" Aku masih iseng menggoda mamaku dengan mengedipkan mata. Beliau memang masih terlihat cantik di usianya yang baru melewati angka 50 tahun.

AMANDA dan Si MATA BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang